
"Owalah Yan, yowes sak karebmu Bae lah!
Aku gak akan datang apa lagi kasih amplop, wong bayinya juga gak ada." sungut Bu Rodiyah pergi begitu saja menaiki motornya, tak menghiraukan ucapan Yani yang terus ngedumel.
"Dasar pelit dan perhitungan. Bisa bisanya ada tetangga yang habis melahirkan kok gak mau jenguk, dasar!" gerutu Yani yang berjalan tertatih memasuki rumahnya.
Pak Parjo hanya bisa menatap anaknya jengah, menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang anak yang memang tidak tau malu dalam bersikap dan berkata.
"Harusnya kamu jangan bicara kayak gitu, Yan!
Apa yang dikatakan Bu Rodiyah benar, bayimu sudah gak ada dirumah ini. Kamu harus jaga sikap, kita ini sudah dipandang buruk sama semua warga disini, malu Yan, Malu!" Pak Parjo berusaha mengingatkan anaknya, agar menjaga sikapnya dan tidak berkata seenaknya. Keluarganya sudah di pandang buruk oleh seluruh warga, bahkan banyak uang tidak mau menegur karena ulah Yani yang memang sudah sangat meresahkan lingkungan.
"Owalah, Pak! gak perlu mikirin omongan orang, wong kita lapar juga gak minta makan sama mereka. Aku sih gak perduli." sungut Yani dan menghentakkan bokongnya di atas sofa rumahnya.
Pikirannya kembali melanglang buana, pikiran picik dan keinginan untuk kembali hamil agar kembali mendapatkan keuntungan terlintas di pikiran Yani.
"Bapak gak ngojek?
Beras dirumah sudah habis, kita mau makan apa?" Yani menatap pak Parjo dengan wajah bersungut, tak perduli jika bapaknya lelah dan mulai jengah dengan sikapnya itu.
"Bapak masuk angin, Yan!
Kamu kan masih pegang uang dari Bu Ijah. Pakai dulu uang itu, nanti bapak ganti." sahut pak Parjo lemah, tak lagi mampu mencerna seperti apa kehidupan keluarganya saat ini.
Anak anaknya seolah lepas dan tak mau tau dengan keadaannya.
"Yasudah, ini baik beli makan bungkusan di warungnya Mak mi, aku masih sakit ini buat jalan." Yani memberikan uang dua puluh ribuan ke pak Parjo, dan pak Parjo menerimanya lunglai lalu berjalan menuju ke warungnya Mak mi, memesan nasi pecel dan nasi ayam geprek. Karena Yani pasti akan minta makan yang harus ada ikannya.
"Yani, sudah melahirkan to pak Parjo?" Tanya Mak Mi, sambil tangannya menggoreng ayam.
"Iya, ini barusan pulang." sahut pak Parjo dengan wajah lesunya.
"Anaknya gimana, jadi di adopsi saja pedagang pasar itu ya?" sahut Mak mi dengan nada cempreng dan masih fokus dengan gorengan nya.
"Iya, tadi langsung dibawa sama Bu Ijah. Anaknya sehat dan perempuan." balas Parjo, hatinya merasakan perih saat ingat cucunya di bawa orang lain dan di adopsi karena ketidakmampuannya.
__ADS_1
"Owh, semoga anak itu nanti bisa hidup senang, enak dan dirawat dengan baik. Bu Ijah lama ingin punya anak, pasti dia akan sangat menyayangi anaknya Yani." balas Mak mi dengan senyuman ramah dan tangannya sambil membungkus pesanan nasi pak Parjo.
"Semoga saja begitu. Sedih tapi ya gimana lagi. Yani juga gak bisa di atur. Rasanya sesak dadaku." keluh pak Parjo untuk pertama kalinya mengeluhkan sikap anaknya pada orang lain.
"Kamu sebagai orang tua, harus bisa tegas sama anak. Jangan sampai ini terulang lagi. Masak setiap hamil kok mesti gak ada suaminya. Yani harus kamu tegasi, pak Parjo." Mak mi menatap iba laki laki paruh baya yang terlihat semakin kurus dan tak terawat sejak istrinya meninggal.
"Sudah, tapi ya begitu. Yani justru ngamuk dan tak pulang berhari hari. Entahlah!" pak Parjo menjawab d Ngan bibir bergetar dan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Yasudah, jangan terlalu dipikirkan, kalau memang anakmu gak bisa diberitahu, biarkan saja. Kalau ada apa apa. air ditanggung sendiri. Uang penting, sebagai orang tua kamu sudah mengingatkan." Balas Mak Mi, dan menyodorkan bungkusan kresek ke arah lak Parjo.
"Berapa?" tanya pak Parjo sambil mengulurkan uang dua puluh ribu pemberian Yani.
"Sebelas ribu saja, nasi pecel lima ribu, geprek nya enam ribu saja." sahut Mak mi, dan mengambil uang Parjo lalu memberikan kembaliannya sebesar sembilan ribu rupiah.
Pak Parjo menerimanya dan pulang dengan membawa kantong kresek berisi nasi bungkus.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sedangkan di lain tempat, Rara yang katanya akan dirawat Rini, adiknya Bu Sumi.
Ternyata disuruh jaga toko buah miliknya, tidak disekolahkan seperti apa yang dikatakan.
Hanya disuruh jaga buah tanpa upah, hanya diberi makan sehari dua kali.
Pagi hingga malam, Lara berjualan buah buahan, dan pagi pagi harus bantu bersihkan rumah, menyapu, ngepel dan juga cuci baju.
Lara yang masih berumur sembilan tahun, tak punya keberanian untuk menolak apa lagi membantah. Saat bertanya kapan akan sekolah, hanya bentakan juga cacian yang Kara dapatkan.
Apa lagi, Tresno suami Rini begitu kejam pada Lara. Kalau Lara tidak mau mengikuti perintahnya, maka sabetan sapu dan tamparan yang Lara dapatkan. Bahkan Lara diancam untuk tidak bicara dan mengadu pada siapapun, kalau tidak menurut nyawanya yang akan jadi taruhan.
Lara hanya bisa diam dan menangisi nasibnya.
Berharap mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari keluarga neneknya, Tapi justru perlakuan kasar yang ia dapatkan. Lebih sadis dari perlakuan Yani yang hanya membentak dan cuek tapi tidak pernah menghajar fisiknya.
"Buk, Lara takut! Lara kangen sama ibuk!" lara menangis dalam gelapnya malam, tidur di atas tikar tanpa kasur, dan hanya dikasih bantal tipis dan bau lepek. Lara Rp Ndu dengan Bu Sumi, yang sudah dianggapnya sebagai ibunya sedari bayi.
__ADS_1
Merintih dan menjerit dalam kesendirian, tak ada yang bisa dilakukan selain menangis, ketakutan dan pasrah dengan nasib yang terjadi padanya saat ini.
Saat lara tertidur, Tresno dengan mengendap endap mendatangi Lara, berniat untuk melecehkan gadis kecil yang mulai ranum tubuhnya.
Saat Tresno mau melakukan aksinya, Rini memergoki dan memukul kepala Tresno dengan kemoceng.
"Apa yang akan kamu lakukan, mas?
Jangan macam macam kamu, atau kamu akan tau akibatnya." Rini mendelik dan berkacak pinggang, kesal luar biasa dengan kelakuan mesum suaminya.
"Aku cuma mau benerin selimutnya Lara kok, kasihan, diluar hujan, pasti dia kedinginan." sahut Tresno tergagap dan berusaha mencari alasan.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Wanita Berkubang Dosa
#Cinta berbalut Nafsu
__ADS_1
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️