
"Jadi selama ini kamu gak pernah kasih Lara uang ya, Rin?
Kamu jadiin anak itu babu gratisan gitu?
Dasar perempuan setan, kamu!
Pantesan Lara kabur!" sungut Bu Sumi mencebik benci pada Rini yang langsung mendelik tak suka.
"Hati hati Rin, kamu bisa dilaporkan ke polisi.
Bisa di penjara kamu!
Apalagi, Lara itu masih di bawah umur, bisa kena pasal berlapis kamu!" tiba tiba pak Romi datang dan ikut angkat bicara, membuat Rini langsung gemetar dan pergi begitu saja, tak perduli suara suara yang kian mencemoohnya.
"Kenapa kamu, Rin?
Kok kayak ketakutan gitu?" tanya Tresno saat melihat wajah pucat pasi istrinya.
"Kalau sampai Lara buka mulut kita bisa celaka, mas! Kita bisa dilaporkan ke Polisi, karena sudah nyiksa Lara selama dia ikut kita!" sahut Rini cemas dan pikirannya mulai tak tenang memikirkan ucapan pak Romi, kakak Bu Sumi.
"Kita susul Lara ke Kediri dan pastikan dia tidak akan bicara macam macam!" balas Tresno dengan mulutnya menghisap rokok dan masih terlihat tenang tenang saja.
"Kalau iya Lara pulang kerumahnya, kalau dia kabur entah kemana, bagaimana?
Kita harus ngomong apa sama Mas Parjo juga Yani?" sahut Rini dengan pandangan lekat ditujukan pada wajah suaminya.
"Halah gak usah panik.
Aku yakin Lara pulang ke Kediri.
Kalaupun tidak, itu hal gampang. Tinggal bilang dia kabur ikut laki laki tanpa mau mendengarkan nasehat kita. Gampang kan?" balas Tresno tersenyum miring dan sambil mengepulkan asap rokoknya.
"Iya, ya! kenapa aku gak kepikiran. Kamu memang cerdas, mas!
Kalau begitu besok pagi saja kita nyusul Lara. Sekarang aku mau tidur, capek!" Rini sudah mulai tenang, karena sudah punya ide dan jawaban yang pas jika nanti kedatangannya ke Kediri terkena masalah.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Menjelang magrib, Lara baru sampai di depan rumahnya dan terlihat kak Parjo tengah duduk sendirian di kursi depan rumah sambil melamun.
"Asalamualaikum." sapa Putra saat menghampiri pak Parjo.
__ADS_1
"Waalaikumsallm." sahut Parjo dengan mimik bingung, karena Lara tiba tak ha pulang diantar oleh orang asing.
"Loh, Ra!
Kamu pulang kok gak kabar kabar, dan ini Mas nya siapa?" pak Parjo masih dengan kebingungannya dan mulai menerka nerka, apa lagi Lara terlihat kurus, hitam tak terawat.
"Maaf, sampai lupa. Mari masuk, mas!" sambung Parjo ramah dan mengajak Lara juga Putra untuk masuk ke dalam rumah.
Parjo menyuguhkan teh hangat pada Lara juga Putra.
"Kamu kok kelihatan kurus dan hitam to nduk. dan setiap bapak telpon katanya kamu sedang ngerjain tugas sekolah, padahal bapak itu kangen banget sama kamu, pingin dengar suara kamu dan juga ingin tau kabar kamu, tapi Rini selalu beralasan kamu sibuk." sambung pak Parjo sambil menghembuskan nafasnya dalam, matanya terlihat lelah dengan beban yang kini ditanggungnya.
"Lara di siksa pak, dan Lara juga tidak di sekolahkan sama Bulik Rini.
Lara disuruh mengerjakan tugas rumah dan jaga toko buah setiap hari, dikasih makan sekali, kadang dua kali. Lara gak kuat, Lara gak mau lagi balik kerumah Bulik Rini.
Lara mau disini saja sama bapak juga ibuk!" sahut Lara sambil menangis, terlihat sekali kalau dia begitu tertekan dan Parjo langsung diam, berusaha mencerna setiap kalimat yang dilontarkan Lara, air matanya berlahan ikut berjatuhan seiring rasa sakit di hatinya.
"Lalu, mas ini siapa?" tanya Parjo sambil menahan air matanya.
"Saya putra, Pak!
Kebetulan saya dimintai tolong sama Lara untuk mengantarnya pulang, dan saya juga kuliah di STAIN Ngronggo, jadi sekalian jalan.
Tanpa mau menyinggung nama Damar dan Bu RT, agar Rini tidak tau siapa yang bantu Lara kabur.
"Terimakasih ya mas!
Semoga kebaikan kamu di balas berlipat lipat sama Gusti Alloh!" pak Parjo tulus berterima kasih dan mendoakan segala kebaikan untuk pemuda yang sudah menolong Lara dari kekejaman Rini.
"Aamiin, terimakasih pak!
Kalau begitu saya pamit dulu, soalnya sudah malam.
Dan untuk kamu, Ra! Tolong jangan bilang siapa yang sudah menolong kamu bisa pulang, cukup katakan seperti yang tadi aku bilang, ditolong orang tidak dikenal yang kebetulan kuliah di Kediri.
Demi kebaikan semua orang." Putra bicara secara gamblang dan meminta Lara merahasiakan keterlibatan tetangganya tentang kaburnya dia ke Kediri.
'Iya, mas! Saya akan diam dan menjaga nama nama yang sudah membantu saya pulang. Mas putra tidak perlu khawatir, karena saya tau betul sifat Bulik Rini." sahut Lara lirih, dan matanya masih terlihat berkaca kaca.
Setelah berpamitan pulang, Putra langsung menaiki motor matik miliknya, dan pergi meninggalkan pekarangan rumah pak Parjo.
__ADS_1
Lalu Lara kembali masuk kedalam rumah yang di ikuti pak Parjo dari belakang.
"Sekarang kamu istirahat saja, nduk.
Kita bicaranya besok saja. Kamu terlihat sangat kecapean. Kamu sudah makan?" pak Parjo menatap iba wajah kuyu Lara. Menyesal karena sudah membiarkan adik iparnya membawa Lara ikut dengannya.
"Iya, pak! Lara juga sangat lelah, dan pingin tidur di kasur empuk. Karena selama disana, Lara hanya tidur di tikar tanpa apapun.
Tadi lara di jalan sudah makan, dibelikan sama mas putra di warung pinggir jalan." sahut Lara menahan rasa perih di dadanya, mengingat perlakuan Bulik dan juga Pakliknya.
Parjo terdiam, hatinya kian perih oleh cerita Lara tentang perlakuan Rini.
Di pandanginya wajah kuyu dan lusuh Lara.
Berjanji akan merawat dan kembali menyekolahkan cucunya itu.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Wanita Berkubang Dosa
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️