Wanita Berkubang Dosa

Wanita Berkubang Dosa
episode 52


__ADS_3

"Kamu selalu membuatku jatuh cinta dan merasa nyaman, makasih sayang. Semoga benih yang aku tanam, segera menghasilkan. Aku berharap memiliki anak laki laki darimu." Ari mendekap mesra tubuh Harti, dan mengecup kepalanya berulang kali. Harti merasa sangat dicintai.


"Aamiin, makasih Mas. Aku juga bahagia denganmu. Kamu selalu membuatku merasa di hargai dan di cintai. Aku juga berharap segera hamil, mumpung masih kepala tiga." sahut Harti dengan senyuman hangatnya menatap wajah tampan sang suami.


Semburat merah jambu memenuhi wajah cantik Harti, rasa syukur terus dia katakan di dalam hatinya. Kini hidupnya benar benar bahagia dan dicintai suaminya. Bahkan Zahra juga sudah mulai merasa nyaman bersamanya, Zahra sudah berani bermanja dan tak sungkan bercerita pada nya lagi, apalagi Zahra dan Lisa sangat akrab dan mereka bisa rukun, belajar bersama dan sering terlihat bercanda dan saling bertukar cerita.


Hidupnya sudah benar benar berubah, penuh cinta dan kehangatan.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


"Pa! Papa bangun!" Harti mengguncang tubuh Ari pelan, dengan nada panik dan juga cemas dengan keributan yang ada diluar.


Saat Harti selesai membersihkan diri, dan memutuskan untuk memasak buat makan siang keluarga kecilnya. Terdengar suara Bu Dian yang tengah menggedor pintu pagarnya.


Harti yang kaget, langsung melangkah keluar, dan terlihat wajah Bu Dian yang sudah memucat.


"Ada apa Bu?


Kenapa Bu Dian kelihatan ketakutan begitu?" sambut Harti sambil bergegas membuka pintu pagarnya untuk tetangganya.


"Mas Ari ada dirumah, mbak?


Itu, suaminya Lara datang dan bikin ulah lagi.


Pak Parjo di hajar sampai babak belur, dan Lara sekarang diseret, dipukuli agar ikut dengannya.


Duh apa lagi bapak bapak masih pada kerja di jam segini." terang Bu Dian panik dan terlihat sudah pucat pasi.


"Mas Ari ada dirumah Bu, barusan pulang karena habis piket malam. Biar saya bangunkan dulu.


Dan apa sudah ada yang lapor pak RT?


Sebaiknya harus segera lapor ke RT juga, biar ada tindakan." sahut Harti juga ikut merasa kalut, apa lagi saat Harti mengintip dari balik pintu pagarnya, Harti melihat Antok tengah menampar dan menendang Lara yang menangis meringkuk kesakitan.


"Astagfirullah! Ya Alloh, kok ngeri begitu.


Saya bangunkan suami dulu ya Bu." pamit Harti tergesa dengan tubuh gemetar.


"Kalau begitu saya akan kerumah pak RT mbak, duh ini sudah tindak kriminal namanya." sahut Bu Dian dengan berlari kecil, tak kalah kalutnya.


"Pa, bangun, pa!" Harti terus menggoyang tubuh suaminya dengan sedikit keras, berharap suaminya segera bangun, karena keadaan diluar semakin mencekam dan suara suara amukan dari mulut Antok mulai memancing kemarahan warga. Namun hanya ada ibuk ibuk di jam yang semua suami masih pada pergi bekerja.


Namun, masih ada beberapa bapak bapak yang ada dirumah.


"Ada apa sayang?

__ADS_1


Aku masih capek, ngantuk!" respon Ari sambil menatap lembut istrinya.


"Pa, tolong bangun dulu. Diluar Antok bikin ribut!" sahut Harti dengan wajah paniknya.


Ari yang mendengar penuturan istrinya, langsung bangun dan menyenderkan tubuhnya di bahu ranjang.


"Kamu dengarkan, pa?


Suara Antok yang teriak teriak, tadi Bu Dian juga kesini, katanya pak Parjo habis dihajar, dan tadi aku ngintip dari pintu pagar, Antok tengah memukuli Lara. Kasihan, Pa!" Harti mengatakan apa yang dia tau, dan membuat Ari murka seketika.


"Ini gak bisa didiamkan, bund!


Kamu dirumah saja, tutup pintunya. Biar aku yang turun dan memberi laki laki itu pelajaran." Sahut Ari yang sudah sangat geram dengan sikap sok jagoan Antok.


Ari memasuki kamar mandi dan membersihkan diri dengan cepat, lalu berlari menuju keluar rumah.


Terlihat Antok tengah berteriak dan menantang ibu ibu yang telah berkumpul untuk melihat aksi bengisnya, sementara Lara sudah terlihat tak berdaya, wajahnya lebam dan bibirnya mengucurkan darah.


"Apa apaaan ini, hah?" teriak Ari lantang, dan membuat para ibu menolah dan bernafas lega, karena yakin, Ari pasti bisa mengatasi kegilaan Antok.


Antok yang berpikir, Ari tidak ada dirumah langsung terperanjat dan wajahnya terlihat pias. Sikap garangnya entah hilang kemana, tubuhnya terlihat bergetar saat Langkah tegap sang tentara mulai mendekatinya.


"Kurang ajar!"


Ari bertubi tubi melayangkan pukulan ke wajah dan tubuhnya Antok, bahkan kakinya juga menendang kaki Antok sehingga membuat laki laki tambun itu tersungkur kesakitan.


"Aku sudah kasih peringatan, tapi sepertinya kamu tidak perduli dan masih saja bersikap jagoan.


Setelah ini, siap siap kamu tidur di penjara." geram Ari dengan mencengkram wajah Antok penuh amarah.


'Apa yang sudah kamu lakukan, hah?" teriak Ari emosi, saat menatap tubuh Lara sudah tak berdaya.


"Ibu ibu, tolong bantu Lara. Bawa dia masuk ke dalam rumah, dan tolong berikan pertolongan, pun dengan pak Parjo." Ari geram bahkan sangat murka dengan tingkah kurang ajarnya Antok.


Terlihat pak RT dan beberapa pemuda datang dan melongo melihat Antok yang sudah babak belur.


"Apa yang terjadi, pak Ari?" tanya pak RT menatap Antok tak suka, dan mengalihkan tatapannya pada Ari, meminta penjelasan dari laki laki yang disegani warganya.


"Laki laki ini sudah keterlaluan, pak!


Dia sudah membuat pak Parjo babak belur, dan juga menyiksa Lara hingga seperti itu." Ari menunjuk kerumunan ibu ibu yang berusaha mengobati Lara dan pak Parjo.


Pak RT terlihat menggelengkan kepalanya, emosi dan juga tak terima dengan kelakuan semena mena Antok.


"Apa yang sekarang harus kita lakukan, pak Ari?

__ADS_1


Karena sepertinya, Laki laki ini tak bisa dibiarkan begitu saja bebas, dia pasti akan membuat ulah lagi. Dan takutnya akan semakin parah!" balas pak RT yang meminta saran dari Ari.


"Kita laporkan saja, biar dia mendekam di penjara. Biar dia tidak lagi mengusik ketenangan orang lain dengan sikap bodohnya ini." jawab Ari geram dan tak lagi Sudi memberi kesempatan Antok jika dia merengek untuk dimaafkan.


"Tolong, ampuni saya, pak!


Saya janji tidak akan lagi bikin ulah dan akan pergi jauh. Saya tidak mau dipenjara. Tolong maafkan saya!" Antok memasang wajah melasnya, agar Ari dan yang lain percaya kalau dia menyesal. Tapi tidak digubris sama sekali. Yang ada pak Basri justru memukul kepala Antok dengan sandalnya.


"Maaf, maaf, gundul mu itu!


Setelah bikin orang susah dan men-deri-ta kamu bilang maaf, kok enak kamu!


Laporkan saja, pak Ari!


Biar dia tidak kurang ajar di kampung sini lagi!" pak Basri ikut menimpali dengan wajah geramnya.


Membuat Antok meringis dan mengumpat di dalam hatinya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Wanita Berkubang Dosa


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️

__ADS_1


__ADS_2