Wanita Berkubang Dosa

Wanita Berkubang Dosa
episode 42


__ADS_3

"Iya, pak! Lara juga sangat lelah, dan pingin tidur di kasur empuk. Karena selama disana, Lara hanya tidur di tikar tanpa apapun.


Tadi lara di jalan sudah makan, dibelikan sama mas Putra di warung pinggir jalan." sahut Lara menahan rasa perih di dadanya, mengingat perlakuan Bulik dan juga Pakliknya.


Parjo terdiam, hatinya kian perih oleh cerita Lara tentang perlakuan Rini.


Di pandanginya wajah kuyu dan lusuh Lara.


Berjanji akan merawat dan kembali menyekolahkan cucunya itu.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Pukul delapan pagi, Yani baru pulang entah dari mana. Hari harinya tak jelas dengan apa yang dia lakukan. Sedangkan sebagai orang tua, Parjo seperti tidak punya kuasa untuk menegur anaknya itu.


Saat memasuki rumah, Lara terlihat tengah duduk di lantai sambil makan mie instan, yang tadi sempat diolah sama bapaknya sebelum berangkat ngojek.


"Loh, Ra! kapan kamu pulang?"


Sapa Yani dengan cueknya, dan ikut duduk disampingnya Lara.


"Kemarin sore." sahut Lara tak bersemangat dan sambil menikmati mie kuah soto dengan lahapnya.


"Diantar siapa?


Mana oleh olehnya?


Masak pulang gak bawa apa apa?" sahut Yani sedikitpun tidak menanyakan keadaan Lara dan bagaimana nasibnya selama ikut Bulik nya.


"Jangankan oleh oleh, aku pulang aja secara sembunyi sembunyi. Minta tolong sama salah satu pembeli. Aku disana tidak diperlakukan dengan baik. Cuma dijadikan pembantu dan tidak juga disekolahkan.


Aku sering dipukul sama bik Rini juga suaminya.


Tiap hari cuma dikasih makan sekali itupun tidak boleh ambil sayur, dan hanya tidur di tikar, badanku sampai sakit semua." jelas Lara dengan pandangan nanar, menatap kosong pada dinding didepannya.


Sedangkan Yani melotot tak percaya, mulutnya terbuka lebar karena sangking kagetnya.

__ADS_1


"Apa kamu bilang, Ra?


Rini nyiksa kamu dan kamu juga tidak disekolahkan seperti yang dia bilang. Kurang ajar sekali dia, awas saja kalau sampai berani kesini." sungut Yani emosi dan berjanji akan memberi pelajaran pada Rini kalau sampai mereka bertemu.


"Yasudah, kamu dirumah saja. Jangan balik lagi kesana." sambung Yani dan merebahkan tubuhnya tidur di lantai karena merasa gerah. Perutnya yang membesar membuat nya sulit untuk bergerak dan sering merasa kepanasan.


Pukul sepuluh pagi, Rini dan suaminya sudah berada di depan rumahnya pak Parjo.


Tanpa merasa bersalah, mereka tersenyum lebar saat melihat Yani keluar dari rumah.


"Ada apa kalian kesini?


Belum puas menyiksa anakku, hah?" teriak Yani dengan berkacak pinggang dan intonasi yang begitu keras, sehingga memancing para tetangga untuk keluar melihat keributan yang dia ciptakan.


'Maksud kamu apa, Yan?


Salah paham kamu itu! Biarkan kami masuk dulu, buatkan minum baru kita bicara baik baik.


Ada tamu kok gak sopan, disambut dengan baik gitu loh!" sahut Rini tak terima dan masih bersikap seperti orang yang tidak bersalah.


"Tidak perlu, lebih baik kalian pulang dan jangan menginjakkan kaki dirumah ini lagi.


"Heh, pe****r! jaga mulutmu!


Siapa yang disiksa? si Lara saja yang mengada ada. Disana dia sudah enak, makan tinggal makan, tidur di kasur empuk, dan hanya ungkang ungkang saja hidupnya. Kurang baik bagaimana aku sama anakmu itu!" sahut Rini tak mau kalah meskipun dengan ucapan yang seratus persen kebohongan.


Cuiiiiih!


Yani meludah kesamping dengan tatapan bengis.


Tak percaya sama sekali dengan ucapan Rini, karena pada kenyataannya Lara pulang dalam keadaan tak terawat, tubuhnya kurus dan kulitnya hitam dengan baju lusuh.


"Oh masih berani kalian kesini!" tiba tiba pak Parjo datang dan langsung berdiri di depan Rini dan suaminya dengan wajah datar.


"Pulanglah dan pergi dari sini.

__ADS_1


Atau aku akan melaporkan kalian ke kantor polisi karena sudah menyiksa Lara, cucuku!" pak Parjo bicara biasa saja tapi mampu membuat Rini dan suaminya ciut. Tanpa berkata apa-apa lagi, Rini akhirnya pergi meninggalkan rumah pak Parjo bersama suaminya.


Sedangkan Lara, memilih sembunyi di dalam kamar. Takut kalau Rini akan kembali membawanya untuk ikut ke Gresik.


Setelah kepergian Rini, pak Parjo masuk kedalam rumah dan melihat Lara meringkuk ketakutan di pojokan kamar.


"Sudah gak usah takut, Rini sudah pergi. Kamu aman dirumah ini." pak Parjo membantu lara berdiri dan berusaha untuk membuatnya tidak ketakutan lagi.


"Maafkan bapak, kalau saja bapak tidak membiarkan kamu dibawa Rini, mungkin kamu tidak akan mengalami penyiksaan itu.


Maafin bapak ya, nduk!" sambung pak Parjo dengan mata yang sudah mengembun.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Wanita Berkubang Dosa


#Cinta berbalut Nafsu

__ADS_1


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2