
"Beneran kamu mau nikahi aku, mas?" sahut Yani senang.
"Iya, biar kita bebas dan gak di grebek warga juga.
Meskipun kita nikah, aku akan tetap bebasin kamu kok, kamu boleh melakukan apapun sesuka kamu, jadi kamu gak perlu khawatir." sahut Rudi santai dan tersenyum senang karena Yani mulai termakan rayuannya.
"Baiklah, aku akan ngomong ke bapakku. Nanti kita nikah siri, yang sederhana saja. Tapi juga bisa dapat Untung." balas Yani dengan senyuman sumringah yang merekah dari bibirnya.
"Untung bagaimana?" sahut Rudi bingung dengan ucapan Yani.
"Kamu itu mas, mas! ya untung lah.
Kalau kita. Ijah siri, kita akan buka buwuhan (kondangan). Otomatis banyak tetangga yang datang dan kasti bawa amplop. Kan untung." sahut Yani dengan membayangkan kalau acaranya pasti banyak yang datang dan tentu dapat amplop banyak.
"Terus, untuk biaya buat kasih makan dan selamatan dari mana?
Aku cuma punya uang lima ratus ribu saja." balas Rudi bingung dan gak ingin mengeluarkan uang banyak juga, bisa tekor. Batinnya.
"Gampang, nanti bisa utang dulu ke pedagang di pasar langganan ibuku." sahut Yani.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Seminggu kemudian, Yani dan Rudi benar benar melangsungkan pernikahan sirinya. Pak Parjo senang, dikiranya Rudi adalah menantu yang baik dan akan merubah kehidupan keluarganya, terutama Yani.
Hanya beberapa tetangga yang menghadiri pernikahan mereka, tak sebanyak yang Yani sangka.
Makanan yang dihidangkan banyak yang gak habis, karena memang tamunya hanya sedikit.
Banyak tetangga yang sudah tidak mau perduli dan jengah dengan sikap Yani, itulah kenapa mereka tidak hadir dan bersikap cuek dengan undangan yang disebar Yani.
"Makanan masih banyak kayak gini, Yan!
Mau diapakan?" tanya pak Parjo sedih, menatap makanan yang masih menumpuk.
"Kasih saja sama tetangga, bagikan ke mereka.
Kalau mereka punya malu pasti akan kesini masih amplop, tapi kalau mereka cuma mau makanan gratis, ya pasti tetap cuek gak mau kesini." sungut Yani kesal, karena merasa rugi banyak.
Sudah menumpuk hutang di pasar buat acara, nyatanya hanya segelintir orang yang mau datang.
__ADS_1
Untung saja, keluarga Rudi banyak yang datang, ada dua mobil dan beberapa motor yang sudah datang ke acara pernikahan mereka.
"Ya, kamu jangan gitu, Yan!
Kalau ngasih itu yang ikhlas.
Mungkin semua juga karena bagaimana sikap kamu selama ini." sahut pak Parjo sambil menghela nafasnya dalam, lalu menyuruh Tuti keponakannya untuk membagikan kotak makanan dan kue ke tetangga.
Yani memilih diam dan masuk ke kamar, menyusul Rudi yang sudah lebih dulu masuk kamar.
"Kita buka amplop nya mas. Semoga gak rugi dan bisa bayar hutang di pasar." Yani melepaskan pakaian panjangnya dan menggantinya dengan daster, lalu ikut duduk membuka amplop dengan suaminya.
"Lumayan, dapat empat juta. Nanti biar bayar hutang sejuta setengah. Masih untung kita!" Yani tersenyum lebar dan memisahkan uang untuk dipegang dan untuk bayar hutangnya di pasar.
"Iya, aku minta lima ratus saja buat pegangan." sahut Rudi sambil menadahkan tangannya. Dengan mencebik, Yani memberikan uang yang diminta oleh Rudi.
"Jangan boros boros mas, besok kamu harus ngamen lagi, biar kita bisa beli montor." sungut Yani dan hanya ditanggapi senyuman miring oleh Rudi.
Sejak kedatangan Rudi di rumah Yani, banyak anak anak jalanan yang singgah kerumah Yani dan membuat resah warga sekitar.
Terutama Mbak Harti karena memiliki anak remaja yang cantik dan sering digodain oleh anak anak jalanan yang suka nongkrong dirumahnya Yani.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Iya, bund! Lisa ikut bunda saja kerumahnya Bu Lina. Tapi Lisa boleh bawa laptop kan, bund? sambil ngerjain tugas sekolah." sahut Lisa yang paham dengan kecemasan bundanya.
"Iya, nak! bawa saja, nanti ibu juga akan bilang ke Bu Lina, kalau kamu ikut kerumahnya. Ibu benar benar cemas ninggalin kamu sendiri dirumah, kalau kondisinya seperti ini.
Mereka itu anak urakan, gak punya malu dan adab, bicaranya kasar dan bisa melakukan apapun sesukanya tanpa rasa takut." Harti menatap dalam pada putri satu satunya, anak yang selalu ia jaga sepenuh hatinya.
"Iya, bund! Lisa paham kok, lagian Lisa juga takut dirumah sendirian kalau ada mereka." sahut Lisa sambil memasukkan laptop dan bukunya ke dalam tas ranselnya untuk dibawa kerumahnya Bu Lina.
Saat Harti dan Yani terlihat keluar rumah.
Anak anak yang masih berusia sekitar delapan belas sampai dua puluh tahunan itu bersiul siul dan memanggil manggil Lisa dengan gaya mereka yang alay, membuat Harti menahan kesal juga amarahnya, sedangkan Lisa memilih cuek dan mengabaikan tingkah anak anak jalanan itu.
"Hai Lisa sayang, mau kemana?
Di sini saja sama Abang, biar Abang temani."
__ADS_1
"Lisa cantik, kenalan dong, jangan sombong sombong, tak cium nanti."
"Lisa, sama Abang saja, ganteng juga bisa memuaskan."
Beberapa celotehan membuat Harti geram mendengarnya, tak terima karena merasa anaknya sudah dilecehkan dengan ucapan dan sikap kurang ajar mereka.
"Heh, jaga mulut kalian ya!
Aku ibunya, tidak terima dengan ucapan dan sikap kalian yang tidak punya etika itu.
Jangan bicara dan gangguin anakku." teriak Harti geram dan membuat beberapa ibu ibu ikut keluar dan membela Harti, karena mereka juga sudah jengah dengan sikap anak anak itu.
"Lebih baik laporin ke RT saja biar ditindak, lama kama mereka itu meresahkan." sahut Bu Endang dengan tatapan tak suka melihat ke arah anak anak jalanan yang justru cengingisan saat ibu ibu memarahi mereka.
"Heh Yani! keluar kamu. Bilang sama mereka untuk tidak usah bikin onar, kalau tidak kita akan kumpulkan warga untuk ngusir kalian, dan kamu juga!" teriak Bu Romlah lantang, kesal karena setiap hari mereka selalu membuat rame dan mengganggu waktu istirahatnya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Wanita Berkubang Dosa
#Cinta berbalut Nafsu
__ADS_1
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️