Wanita Berkubang Dosa

Wanita Berkubang Dosa
Bab 24


__ADS_3

Terdengar bunyi telepon dari ponselnya Parta dan terlihat nama bapaknya yang sedang memanggil.


Terlihat Parta mengerutkan wajahnya dan langsung menjawab panggilan telepon dari pak Parjo.


"Asalamualaikum." sapa Parta pada bapaknya.


"Apa?


Ya Alloh ibuk." teriak Parta histeris dengan Isak tangis, setelah mendengar jawaban dari bapaknya di ujung sana.


"Ada apa, Mas?" tanya Puji istrinya Parta dengan raut cemas.


"Ibu, dek! Ibu sudah meninggal!" sahut Parta dengan teman buah lemas dan terduduk di lantai, bersama isak tangis seiring rasa kehilangan dan penyesalan karena disaat terakhir ibunya menghembuskan nafasnya, tak ada disamping sang ibu.


"Innalilahi.." isak Puji yang juga ikut terisak, merasakan kesedihan akan kehilangan ibu mertua. Meskipun Bu Sumi cuek dan tak perduli dengan Parta juga terhadap istri dan anaknya Parta. Tapi mereka tetap hormat dan menyayangi Bu Sumi.


Yani yang mendengar kabar meninggalnya Bu Sumi, langsung luruh dengan tangis yang berderai, dadanya terasa sesak dan mendadak pandangannya berkunang-kunang, akhirnya Yani tak sadarkan diri.


"Yan, Yani!" teriak Puji yang langsung menghampiri adik iparnya yang sudah tak sadarkan diri.


"Yani pingsan, Mas!" panik puji sambil menaruh kepala Yani di pangkuannya.


Parta langsung berdiri dan mengangkat tubuh Yani ke kamarnya, meminta istrinya untuk melumuri dengan minyak katuk putih.


Serang Parta meminta bantuan tetangga untuk menyiapkan semua kebutuhan untuk pemakaman ibunya.


"Aku kerumah sakit dulu ya, dek! Kasihan bapak disana sendirian, pasti bapak kebingungan.


Kamu dirumah saja, nanti biar di bantu keluarga yang lain." pamit Parta yang memakai jaketnya dan mengambil kunci motor, lalu berlaku pergi kerumah sakit, menyusul bapaknya untuk mengurus kepulangan jenasah sang ibu.


Puji mengangguk patuh dan melakukan apa yang diperintahkan suaminya.


Pukul sepuluh malam, jenasah Bu Sumi baru datang. Terlihat keluarga dan juga tetangga yang sudah berkumpul menyambut kedatangan jenazah, meskipun sudah malam, pemakaman terus dilanjutkan dengan dibantu saudara juga warga.


Yani yang baru sadar dari pingsannya menangis histeris, tau kalau ibunya sudah di makamkan semakin membuat Yani semakin terisak.


"Ikhlas kan, Yan. Doakan yang terbaik buat ibu, semoga Alloh mengampuni dosanya dan diterima di sisiNYA." Puji berusaha menenangkan adik iparnya, namun Yani tetap menangis, meraung meratapi kepergian ibunya.

__ADS_1


Satu persatu pelayat mulai pulang, hanya tersisa beberapa keluarga saja yang memilih menginap karena sudah sangat larut.


Adik adiknya Bu Sumi semua memutuskan untuk tinggal hingga tujuh harinya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Setelah acara tujuh harinya Bu Sumi, adik adiknya Bu Sumi akan kembali pulang, Lastri, Rini dan Pipin. Mereka membawa begitu banyak sembako dari para pelayat, tanpa rasa sungkan dan malu. Mereka berpikir itu hak mereka, karena yang meninggal adalah kakaknya.


Pak Parjo hanya diam dan pasrah dengan kelakuan para iparnya, karena sejak dulu mereka memang selalu menggerogoti Bu Sumi dan menjadi benalu yang tak punya malu.


"Lara biar ikut aku saja ke Gresik, biar aku sekolahkan disana dan bantu bantu jualan, gimana?" tanya Rini, menatap pak Parjo juga Yani bergantian.


"Aku sih terserah saja, kalau anaknya mau ya gak papa. Lagian aku juga belum tentu bisa sekolahin Lara." Sahut Yani dengan wajah cuek seolah tak perduli dengan nasib anaknya.


"Aku juga gak tau, kalau Lara tetap disini juga gak ada yang jagain, aku ngojek dan Yani pasti sibuk sama dirinya sendiri." Sahut pak Parjo menarik nafasnya dalam dan matanya terlihat sudah mengembun.


"Makanya itu, biar Lara ikut aku saja. Disini paling juga gak diramut." sungut Rini dengan wajah judesnya. Lalu meminta Yani untuk mengemasi baju baju milik Lara.


Sedangkan Lara hanya diam, pasrah dengan keputusan yang diambil keluarganya. Lagian disini mungkin juga Yani tidak mau mengurusnya, batin Lara sedih.


Yani bahkan bersikap biasa saja saat melepas kepergian anaknya yang beranjak remaja, Tania ada perasaan sedih sedikitpun. Sedangkan pak Parjo sudah meneteskan air mata, meratapi nasibnya setelah ditinggal sang istri.


Setelah kepergian mereka, hanya tinggal Yani dan lak Parjo saja yang ada dirumah tersebut.


"Bapak bagaimana sih, kok biarin mereka bawa beras banyak banget, apa kita gak butuh juga!" sungut Yani kesal, setelah kepergian adik adik ibunya, Yani baru protes dan berkata keras pada bapaknya.


"Gak tau lah, Yan! bukannya kamu tau seperti apa mereka? Bisa ngamuk kalau gak di kasih, malu sama tetangga, apa lagi ibumu baru saja meninggal." sahut pak Parjo lemah, masih terasa berduka dengan kepergian istrinya dan kini ditambah cucunya juga pergi di bawa iparnya ke luar kota.


"Aturan kita bisa jual, dan dapat uang. Sekarang berasnya tinggal sedikit, sisa dua karung setengah saja. Dijual juga dapat uang sedikit. Apalagi kita sudah gak punya uang sama sekali." keluh Yani dengan membuang nafasnya kasar.


"Yan! kamu sering muntah muntah dan pucat, apa kamu sedang hamil?" tanya pak Parjo dengan nada lirih.


"Iya, pak! Yani hamil, gak tau anak siapa?


Tapi kalau ada yang nanya, bilang aja hamil anak mas Adi, kan kita juga baru pisah. Jadi pasti semua orang percaya. Pas pisah gak tau kalau lagi hamil, bilang saja begitu." balas Yani dengan santainya dan mengunyah jajanan seolah tak terbebani sama sekali dengan kehamilannya yang tanpa seorang suami.


"Terus, bagaimana nasib anakmu itu?

__ADS_1


Lara saja sudah ikut Rini. Septi dibawa Adi.


Anak itu mau kamu apain?


Wong selama ini, kamu gak pernah ngurus anak anakmu, ibumu yang ngurus mereka." sahut pak Parjo miris dengan sikap anak perempuannya yang tidak juga berubah.


"Gampang! bapak tenang saja!


Biar itu jadi urusan Yani!" sungut Yani dengan nada yang sedikit keras, begitulah Yani yang sama sekali tak mau menerima nasehat apalagi disalahkan.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Wanita Berkubang Dosa


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️

__ADS_1


__ADS_2