
Saat Tresno mau melakukan aksinya, Rini memergoki dan memukul kepala Tresno dengan kemoceng.
"Apa yang akan kamu lakukan, mas?
Jangan macam macam kamu, atau kamu akan tau akibatnya." Rini mendelik dan berkacak pinggang, kesal luar biasa dengan kelakuan mesum suaminya.
"Aku cuma mau benerin selimutnya Lara kok, kasihan, diluar hujan, pasti dia kedinginan." sahut Tresno tergagap dan berusaha mencari alasan.
"Jangan pikir aku gak tau apa yang akan kamu lakukan, awas sampai kamu berbuat macam macam sama anak itu, habis kamu sama aku!" sungut Rini dengan wajah mengeras dan menatap tajam ke arah suaminya.
"Kamu itu, suka sekali menuduh orang!
Aku tidak punya niat buruk sama anak itu!
Sama kamu saja aku kewalahan." sahut Tresno dengan menahan kesal karena aksinya ketauan istri galaknya.
"Mulai sekarang biar Yani tidur di kamarnya Dewi, biar kamu gak macam macam! herdik Rini, lantas membangunkan Lara agar pindah ke kamar anak sulungnya.
"Aku tidur di kamar Dewi Bulik?" tanya lara sambil menahan kantuk, terbesit perasaan senang karena tidak lagi kedinginan.
"Iya, bawa tikar sama bantal kamu!
Kamu tidur di lantai tapi di kamarnya Dewi mulai sekarang." sahut Rini ketus dan berjalan lebih dulu menuju kamar anaknya.
"Dewi, mulai sekarang biar lara tidur sama kamu, dia tetap tidur di lantai, kamu gak usah khawatir." Rini dengan wajah dingin memberitahu anaknya, kalau lara akan tidur di kamarnya.
Dewi hanya mengangguk, mengiyakan perkataan ibunya.
"Mbak Lara, tidur saja sama Dewi di atas, masih cukup kok buat tidur berdua." Dewi mengajak lara untuk tidur dengannya, setelah ibunya pergi.
"Jangan, nanti kalau ibumu tau, kita pasti dimarahi." sahut Lara lemah, terlihat jelas kalau dirinya tertekan dan sangat tersiksa.
"Ibu gak bakalan tau, kalau kita diam saja.
Mbak Lara tetap gelar saja tukarnya di bawah.
__ADS_1
Sebelum tidur kita kunci pintunya dari dalam, ibu gak akan tau kok.
Sini, tidur saja diatas sama aku." Dewi merasa iba dengan Lara. Sejak kedatangannya dirumah, lara selalu diperlakukan tidak baik sama ibu dan ayahnya. Namun Dewi tidak bisa berbuat banyak, karena takut kena amukkan ibunya.
Lara tersenyum dan mengikuti kata Dewi saudaranya, tidur disamping Dewi berbagi kasur, rasanya sangat nyaman dan tubuhnya tidak lagi terasa nyeri dan pegal pegal.
"Makasih ya, Wi! terimakasih sudah mau bagi kasur sama aku." lara berucap lirih dengan titik bening yang mengalir di sudut matanya.
"Iya mbak, sama sama!
Apa gak sebaiknya,bak lata pulang saja ke Kediri, dari pada disini mbak lara menderita, tidak sekolah dan di jadikan pesuruh ibu sama ayah." Dewi menatap iba pada saudaranya, tak ingin kara hidup lebih menderita lagi, kalau tetap memilih tinggal disini.
"Iya, mbak pinginnya pulang, tapi takut mau ngomong sama ibu kamu. Nanti mbak dihajar!" Isak lara, menahan rasa sakit di hatinya, nelangsa itulah yang kini dirasa gadis kecil itu.
"Aku akan kumpulkan uang jajanku, biar nanti mbak Lara bisa pulang. Sekarang,bak sabar dulu ya." Dewi mengusap lengan lara lembut, dan berusaha untuk membantu lara agar bisa pergi dari rumahnya, agar orang tuanya tidak lagi memanfaatkan keluguan Lara.
"Sekarang kita tidur dulu. Besok mbak lara harus bangun pagi pagi. Nanti ibu marah kalau sampai mbak telat bangunnya." sambung Dewi, lantas membaringkan tubuhnya dan menutup dengan selimut, pun dengan Lara, yang juga memejamkan mata menepis segala rasa sakit di hati dan tubuhnya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sedangkan di lain tempat, Yani yang sudah sembuh dari luka jahit habis melahirkan. Kembali bersikap sesukanya, jarang pulang dan menjalin hubungan dengan lelaki yang gak jelas asal usulnya, pengamen yang sering mangkal di lampu merah tak jauh dari rumahnya.
Tiap hari mereka selalu bersama sama, bahkan sering tidur bersama di kontrakan Rudi.
"Apa kamu gak takut hamil, Yan?
Lebih baik kamu KB saja, biar aman!" Rudi mendekap Yani dalam pelukannya setelah mereka melakukan perbuatan hina yang tak seharusnya dilakukan oleh orang yang belum terikat pernikahan.
"Hamil justru aku senang, karena itu menguntungkan!" sahut Yani cuek dengan senyuman melengkung di bibir tebalnya.
"Kok gitu, apa gak takut di gunjing sama tetangga dan di jauhi keluarga kamu?" tanya Rudi sekali lagi dan membuat laki laki itu semakin ingin memanfaatkan Yani untuk melampiaskan nafsunya.
"Kalau hamil, anaknya bisa di kasih ke orang yang gak punya anak. Bisa dapat uang juga." sahut Yani membuat Rudi semakin puas dengan pemikiran wanita yang ingin dia manfaatkan kebodohannya itu.
"Kalau gitu, tiap hari kita bikin terus saja, biar cepat Hami kamu, Yan!' sahut Rudi tersenyum senang.
__ADS_1
"Iya dong, kamu juga luar biasa, bikin aku ketagihan tiap hari." balas Yani manja.
"Aku itu sudah gak perduli sama omongan tetangga, dan juga bapakku gak bakalan marah, pokoknya aku itu bebas, mau melakukan apapun gak bakalan ada yang ngelarang." Yani kembali berucap dan membuat Rudi semakin merasa senang.
"Kita nikah siri saja ya, biar bisa tinggal dirumah kamu. GK ngontrak gini, buang buang uang juga." sambung Rudi yang mulai melancarkan aksinya.
"Beneran kamu mau nikahi aku, mas?" sahut Yani senang.
"Iya, biar kita bebas dan gak di grebek warga juga.
Meskipun kita nikah, aku akan tetap bebasin kamu kok, kamu boleh melakukan apapun sesuka kamu, jadi kamu gak perlu khawatir." sahut Rudi santai dan tersenyum senang karena Yani mulai termakan rayuannya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Wanita Berkubang Dosa
#Cinta berbalut Nafsu
__ADS_1
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️