
"Asalamualaikum, mbak Harti." Harina sudah berdiri di depan pagar dengan senyuman tipis dan mengucapkan salam. Harti yang terkejut dengan kedatangan Harina, mendadak gemetar, takut jika wanita itu menyalahkan dirinya atas perceraian yang terjadi antara Harina dan Ari. Padahal semua sudah tau penyebab sesungguhnya yang dengan sengaja Harina selingkuh dengan mantan kekasihnya yang polisi dan sudah memiliki anak, yaitu Zaki.
"Waalaikumsallm." Harti dengan langkah pelan dan wajah bingung membukakan pintu pagar rumahnya dan mempersilahkan Harina masuk dengan pikiran yang tak karuan. Menerka nerka maksud kedatangan mantan istrinya Ari yang menemuinya.
"Silahkan duduk, mbak. Maaf rumahnya masih berantakan." sambut Harti ramah dan tersenyum. Wajahnya yang teduh dan tuturnya yang lembut membuat Harina menyadari, jika perempuan sederhana yang ada di hadapannya memang lantas untuk dicintai, dan mulai mengerti kenapa Ari masih begitu menginginkan Harti.
"Saya tinggal ke belakang sebentar ya mbak." Harti melangkah ke dalam menuju dapur, membuatkan minuman hangat untuk tamunya. Sedangkan Harina masih menelisik isi dalam rumah sederhana milik Harti. Bersih dan rapi.
"Silahkan diminum, mbak. Dan ini ada sedikit cemilan Monggo di cicipi. Mohon maaf, seadanya!" dengan lembut dan senyum yang gak lepas dari bibirnya, Harti menyuguhkan segelas teh hangat dan brownies kukus pandan buat Harina. Harina masih sibuk memperhatikan wajah dan gestur Harti. Meskipun sesama perempuan, Harina memiliki rasa kagum pada sosok Harti yang teduh dan terlihat begitu tenang juga lembut.
"Terimakasih, Mbak! Maaf kalau jadi merepotkan gini." sahut Harina tersenyum.
Harti memilih duduk di sofa yang berhadapan dengan Harina. Tak berani bertanya lebih dulu maksud kedatangan perempuan itu, takut jika menyinggung perasaannya.
"Mungkin mbak Harti bingung dengan maksud kedatanganku kesini. Mbak Harti tenang saja, aku hanya berniat untuk silaturahmi kok.
Dan ingin sedikit membahas tentang mas Ari." jelas Harina dengan sikap santainya, mendengar nama Ari disebut membuat Harti merasa terkejut, pikirannya jadi kemana mana, karena selama ini Ari berusaha untuk mendekatinya lagi, meskipun Harti sudah berusaha menolak dan menghindari.
Harti terlihat mengerutkan keningnya, mencoba mencari jawaban dari sorot mata lawan bicaranya.
"Mbak Harti jangan langsung tegang begitu, ah!
Perpisahan aku dengan mas Ari itu murni kesalahan aku sendiri kok, aku yang sudah tidak bisa menjaga hatiku juga nafsuku. Tidak perlu aku bicarakan lagi, aku yakin mbak Harti sudah tau ceritanya." Harina langsung pada inti niat dia ingin menemui Harti. Membantu meyakinkan Harti jika Ari begitu mencintai dan menjaga hatinya hanya untuk Harti.
"Mbak! aku dan mas Ari sudah pisah, dan masa Iddah juga sudah hampir habis menurut perhitungan dari keputusan pengadilan. Namun secara agama masa Iddah sudah berlalu dari sejak lama.
Mas Ari sangat mencinta mbak Harti dan berharap bisa menikah dengan mbak.
Terima dia mbk, aku yakin mbak Harti juga masih mempunyai rasa pada mas Ari, kan?" Harina bicara panjang lebar dan mengatakan apapun yang ingin dia katakan. Harti hanya diam menyimak, hatinya benar benar gamang.
"Mbak gak perlu merasa gak enak dengan saya ataupun orang lain, semua juga tau, mbak itu terjaga dan tidak akan tergoda dengan laki laki yang ingin mendekat. Mas Ari sudah lama menunggu saat ini, saat dia punya kesempatan lagi untuk memintamu menjadi istrinya.
Insyaallah sekarang aku sudah bahagia dengan mas Soni, karena kami memang saling mencintai semenjak remaja." Harina melanjutkan omongannya dan berharap Harti mau menerima Ari sebagai pendampingnya.
"Saya masih bingung dan juga gak mau aku harus apa. Banyak hal yang harus dipertimbangkan. Terutama soal anak gadisku. Umur sudah tua dan lagi muda, yang dipikirkan juga bukan hanya soal Cinta saja." sahut Harti dengan suara lirih dan sikapnya begitu tenang.
__ADS_1
"Insyaallah, anak mbak Harti pasti setuju. Mas Ari orangnya baik, sabar dan penyayang. Insyaallah mas Ari juga akan menyayangi putri mbak kok." balas Harina tulus dan benar benar berharap ari bisa bersatu dengan cinta pertamanya.
"Insyaallah, mbak!" Harti hanya menjawabnya dengan singkat dan tersenyum kecil.
"Yasudah, aku mau pulang dulu ya mbak, mau mampir dulu kerumah mama, jemput Zaki. Karena mas Soni ingin Zaki tinggal sama kami." sambung Harina ramah lalu berpamitan pergi meninggalkan Harti yang terlihat tengah memikirkan semua ucapan Harina soal Ari.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Waktu terus bergulir, setelah berpisah resmi dengan Harina selama lima bulan, Ari baru berani mengutarakan keinginannya untuk menjadikan Harti istrinya kepada kedua keluarganya.
Karena kegagalan rumah tangga yang Ari alami, membuat kedua orang tua Ari tak lagi terlalu mengatur kehidupan putranya. Mungkin memang Harti adalah jodoh sebenarnya untuk Ari.
Pun dengan Harti yang sudah mendapatkan ijin dari putrinya untuk menerima Ari sebagai ayah sambungnya.
Akad pun terjadi setelah melalu proses yang begitu panjang. Harti dan Ari akhirnya menjadi pasangan dengan saling mencintai satu sama lain.
Karena Harti tidak mau pindah kerumahnya Ari, akhirnya rumah milik Ari dijual dan rumah Harti direnovasi menjadi dua lantai. Zahra sangat senang karena memiliki kakak yang cantik dan pintar seperti Lisa. Mereka menjadi teman yang begitu kompak dan saling menyayangi, membuat Ari dan harti bertambah kebahagiaannya.
"Terimakasih sudah memberiku kesempatan untuk menjadi pendamping wanita hebat sepertimu.
Jujur aku sangat bahagia!" Ari menggenggam jemari istrinya penuh tatapan cinta. Dan Harti tersipu malu dengan keromantisan yang diberikan suaminya.
"Aku juga terimakasih, mas! kamu sudah menerimaku apa adanya, padahal aku adalah insan yang penuh kurang. Terimakasih sudah mencintaiku sedalam ini." sahut Harti menunduk, menyembunyikan rona merah jambu di pipinya yang mulus.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Beruntung sekali sih Harti itu, dengan mudah bisa mendapatkan suami kaya dan juga tampan. Padahal dandan nya juga kampungan banget. Cantik juga gak!" sungut Yani ngedumel saat melihat Harti masuk kedalam mobil yang pintunya dibukakan oleh sang suami dan di ikuti oleh kedua gadis cantik yang cerdas dan juga supel.
"Kenapa sih buk, kayaknya gak suka banget sama mbak Harti?" sahut Lara yang tiba tiba muncul dan ikut duduk disamping Yani.
"Anak kecil tidak usah sok ikut campur, kamu!
Oh iya, daripada ku dirumah cuma bengong, kerja sana!" suruh Yani tanpa merasa bersalah dengan ucapannya.
"Kerja?
__ADS_1
Kerja apa buk?
Aku SD saja gak lulus loh. Siapa yang mau terima aku kerja." sungut lara kesal, bukannya disuruh sekolah lagi tapi malah disuruh kerja sama ibunya.
"Kamu bisa ikut ngamen di perempatan depan sana. Lumayan loh hasilnya. Sehari bisa sampai dia ratus ribu." sungut Yani dengan semangatnya.
"Apa?
Aku ibuk suruh ngamen, gak salah buk?" Lara langsung ternganga dengan jawaban yang Yani lontarkan. Tidak menyangka kalau ibunya tega menyuruhnya untuk kerja ngamen di jalanan.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Wanita Berkubang Dosa
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️