
"Tolong, biarkan aku melindungi kamu. Aku menyayangimu sampai kapanpun." sahut Ari dengan nada yang terbata, tak sanggup membendung perasaannya. Meskipun sudah menikah dan mempunyai istri, Ari tidak pernah bahagia, istrinya bahkan tidak pernah perduli sama sekali padanya, hanya meminta uang dan menghabiskannya, tanpa mau tau dengan kebutuhan Ari selama ini.
Rumah tangganya hambar, tanpa ada cinta diantara mereka, bahkan istrinya secara terang terangan sudah memiliki lelaki lain. Makanya saat mendengar kabar jika suaminya kembali mendekati mantannya, yaitu Harti. Istri Ari sama sekali tak terpengaruh bahkan tak perduli sama sekali.
"Kamu sudah tau bagaimana kondisi rumah tanggaku, kan?
Tolong, jangan terus menghindar, aku ingin mendampingi kamu, bahkan kamu jadi istriku. Insyaallah aku akan buktikan dan mewujudkan ucapanku ini, percayalah!" sahut Ari tegas meskipun terdengar suaranya sedikit serak, namun Ari memang sudah benar benar lelah dengan kelakuan istrinya, sudah bertahun tahun mereka hidup dalam kepura-puraan, di depan semua orang terlihat baik baik saja, namu kenyataannya hubungan mereka begitu dingin, bahkan mereka sudah pisah kamar selama bertahun tahun. Menjalani hidup sendiri sendiri meskipun berada dalam satu atap.
Harti hanya diam membeku, bahagia karena sang pujaan juga memiliki rasa yang sama dan ingin menikahinya, namun juga takut, status Ari yang masih suami orang, pasti akan menyudutkan posisinya, pasti banyak mata yang menganggap jika dirinya adalah seorang pelakor, perusak rumah tangga orang lain.
Tanpa sanggup berkata kata lagi, Harti mematikan telepon begitu saja, termenung tanpa disadarinya air mata sudah berjatuhan di wajah ayunya. Meskipun sudah berusia tiga puluh delapan tahun, namun Harti masih terlihat sangat muda, bahkan banyak yang bilang kalau dia masih seperti anak gadis dua puluh tahunan, tubuhnya yang kecil mungil, serta kulitnya yang bersih, memang membuatnya terlihat awet muda.
"Bund!" tiba tiba Lisa mengagetkan lamunan Harti. Dengan mengusap wajahnya, Harti menerbitkan senyuman hangat pada putri semata wayangnya itu.
"Iya, ada apa sayang?" sahut Harti begitu lembut.
"Bunda kenapa dari tadi melamun terus?
Padahal Lisa sudah panggil panggil dari tadi loh!" sahut Lisa menelisik wajah ibunya yang terlihat memerah.
"Gak papa, ibu lagi mikirin bunga bunga yang sudah dirusak orang kemarin, sedih saja kalau ingat." sahut Harti berbohong kepada anaknya, karena usia Lisa masih belum pantas mengetahui apa yang kini sedang dipikirkannya.
"Oh! Sudah iklas kan saja lah Bu! Insya Alloh akan ganti dengan yang lebih baik.
Di luar ada Bu Dian, nyariin ibu!" balas Lisa sambil memeluk tubuh ibunya manja, mencium pipi sang ibu dengan penuh cinta.
"Bu Dian? ada apa?" sahut Harti menatap anaknya dengan wajah mengernyit.
"Gak tau, Bu Dian datang sendiri sambil bawa sayuran, tak suruh masuk langsung gak mau. Katanya nunggu di teras saja." sahut Lisa bicara apa adanya.
__ADS_1
"Yasudah, ibu mau temuin Bu Dian dulu ya?
Lisa lanjutin belajarnya." sahut Harti sambil mengelus rambut putrinya lembut dan beranjak dari duduknya, melepaskan dekapan putri kesayangannya.
"Bu Dian, mari masuk Bu! kok diluar saja!" sapa Harti sungkan, dan mengajak tamunya untuk masuk kedalam rumah.
"Gak usah mbak Harti, di sini saja enak. Sambil lihat tanaman mbak Harti yang bagus bagus, seger mata ini!" sahut Bu Dian tersenyum ramah, dan saling mengulurkan tangan bersalaman.
"Ada apa Bu, kok tumben kesini lagi pagi. Biasanya Bu Dian masih sibuk masak!" balas Harti dengan senyuman tipis dan mengambil duduk tak jauh dari Bu Dian.
"Ini loh, mbak Harti mau daun puhung kan?
Tadi aku ambil di rumah Bu Romlah kebanyakan, ingat kalau mbak Harti suka banget, jadi aku bagi dua sama mbak Harti. Dan ini ada ikan gurami, tadi pagi suami ambil dari kolam." sahut Bu Dian dengan sikapnya yang ramah.
"Masyaalloh, banyak banget Bu, terimakasih banyak loh!
Bu Dian kok repot repot begini!" sahut Harti sungkan, karena Bu Dian sering banget memberinya ini itu, tanpa mau menerima balasan, katanya iklas dan ingin memberi buat Lisa.
Makanya aku sering memintanya main dan nemenin aku dirumah. Kalian sudah aku anggap keluarga, jadi jangan sungkan kalau butuh apa apa ya!" balas Bu Dian panjang lebar dan mengatakan apa yang memang dia rasakan untuk Harti juga Lisa.
"Alhamdulillah, terimakasih banyak Bu!
Saya jadi terharu, jujur saya sudah tidak punya siapa siapa, di dunia ini hanya dengan Lisa saja. Bu Dian sudah menganggap kami sebagai keluarga, masyaalloh, itu sangat berarti sekali buat saya dan Lisa. Terimakasih sekali Bu!" Harti sudah berkaca kaca, tak menyangka kalau tetangga yang selalu bersikap baik padanya selama ini, ternyata memiliki hati yang memang benar benar tulis dan menganggapnya sebagai keluarga.
Rasa syukur terus diucapkan di dalam hatinya.
Saat Harti dan Bu Dian asik mengobrol, tiba tiba ada mobil yang berhenti tepat di halaman rumahnya Harti. Dan terlihat lelaki tampan dengan postur tinggi tegap dan kulit putihnya keluar dari mobil, membuat Bu Dian menatap Harti dengan senyuman jahil.
"Tuh, ada pak Ari, ibu ganggu nggak ini?" bisik Bu Dian dengan senyum senyum menggoda.
__ADS_1
"Bu Dian bisa saja!
Kamu gak ada hubungan apa apa, Bu. Hanya teman lama. Dan tolong, ibu tetap disini saja temani saya, biar gak terjadi fitnah!" pinta Harti dengan wajah memohon, dan langsung di iyakan oleh Bu Dian.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Wanita Berkubang Dosa
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️