Wanita Berkubang Dosa

Wanita Berkubang Dosa
Bab 13


__ADS_3

Tok tok tok....


"Di, bisa bapak bicara? Keluarlah, bapak tunggu di teras.


Dengan langkah gontai, Adi keluar kamar dan menemui bapak mertuanya, Adi sudah tau, apa yang akan mertuanya bicarakan, pasti Yani sudah ngadu pada orang tuanya.


"Selalu seperti ini, setiap ada masalah sedikit saja, Yani langsung laporan pada orang tuanya, untung aku cinta, kalau tidak, sudah kutinggalkan dia, tapi jika dipikir pikir, bisa bisa aku bisa terkena penyakit darah tinggi, karena selalu menahan marah dan kesal pada keluarga ini." Adi bermonolog dalam hatinya dan tangannya tak berhenti menyugar rambutnya frustasi.


"Duduk sini le, ada yang bapak juga ibu bicarakan." Pak Parjo menepuk kursi kosong yang ada di sampingnya, dengan langkah berat Adi menurutinya, meskipun rasanya sangat kesal sekali, tapi dia bisa apa, selain mengikuti apa yang diinginkan keluarga barunya.


"Bapak sama ibuk, sudah mendengar dari Yani, katanya kamu nggak setuju dengan rencana yani yang ingin mengambil montor baru, kenapa?." Tanya pak Parjo tenang.


Adi menghembuskan nafasnya dengan kasar, kesal dengan sikap istrinya yang selalu melibatkan orang tuanya dalam setiap masalah yang dihadapi.


"Bukan tidak setuju pak, tapi masih belum setuju saja, karena montor yang ada juga masih bisa digunakan, dan pendapatan saya juga tidak menentu, kredit montor itu jangkanya lama, belum lagi harganya yang berkali lipat lebih mahal dari harga sebenarnya, takutnya nanti akan macet ditengah jalan, malah bikin pusing." Sahut Adi menjelaskan maksud menolak keinginan istrinya.


"Owalah Le le, kamu tidak perlu khawatir, nanti bapak sama ibuk akan membantu bayar angsurannya, insya Alloh kami masih mampu, kamu cuma usaha saja cari uang buat DP nya, nanti angsurannya biar kami yang bayar." Sahut Bu Sumi jumawa.


Lagi lagi Adi hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar, ada rasa tak nyaman yang mulai hinggap di hatinya.

__ADS_1


"Terimakasih dengan niat baik bapak sama ibu, tapi terus terang untuk uang DP nya saya masih belum punya saat ini." balas Adi lesu dengan dada bergemuruh menahan kekesalan.


"Kamu kan bisa jual montor mu, nanti uangnya bisa buat DP montor baru, lagian katanya motormu sudah sering mogok, dari pada uang mu terbuang percuma hanya untuk terus memperbaiki montor buntut mu itu, lebih baik ambil montor baru saja." pak Parjo dengan entengnya mengutarakan pendapatnya.


Adi terdiam menahan nyeri akan ucapan mertuanya, montor yang di dapatnya dengan susah payah dibilang hanya montor buntut yang mogok kan, sepertinya Adi sudah salah telah menaruh cintanya pada seorang Yani yang ternyata hanyalah perempuan keras kepala dan sangat egois, tapi nasi sudah jadi bubur, tidak mungkin Adi pergi begitu saja meninggalkan Yani tanpa alasan yang jelas.


Setelah berpikir berhari hari dan terus ditekan oleh Yani dan orang tuanya, akhirnya Adi mengalah, mengiyakan keinginan Yani dan orang tuanya untuk menjual motornya, dulu Adi membeli motornya seharga delapan juta, itupun dengan perjuangan yang tidak mudah, Adi harus sangat berhemat, tidak merokok dan juga tidak pernah membeli jajan, semua uang yang didapat dari bekerja sebagai kuli bangunan ditabung hingga akhirnya bisa sampai membeli montor walau hanya montor bekas, dan kini, hanya karena keegoisan sang istri, wanita yang baru beberapa bulan membersamai nya.


Adi harus rela menjual montor kesayangannya dengan harga yang sangat murah, hanya laku tiga juta delapan ratus rupiah, yang satu juta setengah untuk uang DP, sedangkan sisanya dipegang Yani hanya untuk berfoya foya, menyedihkan!


"Waaaah, akhirnya kita punya montor baru yang aku impikan." Teriak Yani kegirangan menyambut kedatangan montor matic yang jadi incarannya, uang koin juga kembang tujuh rupa sudah Yani siapkan sejak pagi untuk menyambut montor barunya, rencananya yani akan memandikan motornya dengan kembang juga pecahan uang koin, yang menurutnya untuk membuang sial.


"Mas, makasih ya, akhirnya aku bisa menaiki montor idamanku, besok kita jalan jalan ya, aku pingin makan bakso mercon dan mau beli celana baru." Yani dengan wajah berbinar mengutarakan keinginannya pada suaminya, dan hanya dijawab anggukan pasrah oleh Adi, karena ditolak pun percuma, Yani tetap akan melakukan apa yang dia mau.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.

__ADS_1


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Wanita Berkubang Dosa


#Cinta berbalut Nafsu

__ADS_1


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2