
"Mas Adi sudah menamparku Bu. Aku benci dengannya." Ibu langsung mangap tak percaya dengan apa yang aku ucapkan.
"Bener Le, kamu nampar Yani?" Bapak yang dari tadi diam akhirnya bersuara.
"Iya pak, maaf. Tapi Yani sudah sangat keterlaluan. Bisa-bisanya dia selama ini menjual diri pada banyak laki-laki dan tidak pernah menghargai pengorbananku, yang sudah bekerja keras demi bisa mencukupi keluarga ini. Dan mumpung disini ada bapak juga ibu. Mulai detik ini, saya kembalikan Yani pada kalian, dan saya sudah tidak ada lagi tanggung jawab atas anak bapak. Saya talaq kamu Yani Rahmawati binti Suparjo, mulai detik ini saya bebaskan kamu dan melepas tanggung jawabku atas kamu."
Semua langsung melongo mendengar kata talaq yang dijatuhkan Mas Adi barusan, terhadap diriku. Bagiku ini seperti mimpi, aku kira, laki laki itu hanya sekedar marah saja, dan setelah itu semua akan kembali baik baik saja seperti biasanya. Tetapi aku salah, mas Adi bahkan berani menjatuhkan talaq tanpa mau memikirkan lagi. Dengan langkah pasti, mas Adi, mengemasi bajunya memasukkannya ke dalam tas ransel, lalu pamitan keluar dari rumah ini hanya pada bapak juga ibu. Masih tak percaya kalau sekarang aku menjadi janda.
Tidak menoleh lagi, seolah di sini tidak ada darah dagingnya, Mas Adi berlalu dengan wajah memerah menahan amarah. Entahlah, mau menangis, tapi hatiku tidak merasa kehilangan, biarlah, mungkin kepergiannya akan menjadi jalan terbaik untuk nasibku nantinya. Dan untuk Septi anak kami, meskipun kami sudah bercerai, aku akan tetap menuntut uang nafkah buat anakku, enak saja kalau dia mau lepas tanggung jawab, tidak akan aku biarkan itu terjadi.
"Yan, gimana ceritanya, sampai Adi bisa semarah itu? Apa benar, apa yang di katakan Adi tadi, kamu selingkuh?" Tiba tiba bapakku menanyakan apa yang tadi mas Adi katakan.
"Sudahlah pak, biarkan saja Mas Adi pergi, lagian dia juga tidak bisa mencukupi kebutuhanku selama ini, kalau aku gak kerja dengan cara itu, uang dari mana buat menutupi kekurangannya. Hidup itu butuh uang, bukan cinta. Kalau cuma cinta, bisa gak kenyang kita." Aku menjawab pertanyaan bapak dengan santai, bahkan tanpa sedikitpun ada rasa menyesal apa lagi bersalah. Lagian memang hidup butuh uang kan, tidak perlu munafik kalau untuk itu. Bapak hanya diam saja, dan segera pergi dengan raut wajah terlihat kecewa, tapi tidak lagi bersuara. Sedangkan ibu, sibuk menenangkan Septi yang rewel karena sudah waktunya untuk tidur.
"Bu, besok anterin aku ya, aku mau nyusul Mas Adi, membicarakan nafkah buat Septi, biar dia inget ada tanggung jawabnya disini."
"Iya, besok ibu temani, tapi kalau bisa diperbaiki ya.." belum selesai ibu bicara sudah aku potong pembicaraannya, karena paham kemana arah maksud ibuku.
"Sudahlah Bu! Aku juga sudah tidak punya rasa apa apa ke mas Adi, sekarang yang penting dia mau menafkahi anaknya saja, dan aku kembali bebas melakukan apa yang aku mau. Ibu tenang saja, aku akan baik baik saja. Lagian aku masih cantik, masih muda dan banyak yang mau sama aku." Terlihat ibu menggelengkan kepalanya, tapi tidak lagi mengeluarkan suaranya buat menyanggah ucapanku. Aku tau, ibu paling tidak bisa marah apa lagi melarang ku jika itu membuatku bahagia. Ibu sangat menyayangiku.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sejak perpisahan ku dengan Mas Adi, ibuku sering sakit sakitan, kedua anakku memang semua aku serahkan pada ibu, ibu yang mengurus semua hal yang menyangkut anakku, sedangkan aku, tetap dengan kebiasaanku, mencari uang dengan memberi kenikmatan pada laki laki haus belaian, tidak perduli tua dan muda, yang penting mereka mampu memberi tarif sesuai yang aku inginkan.
Lara, sudah kelas empat sekolah dasar, sedangkan Septi sudah umur tiga tahun, meskipun aku dirumah, aku juga ogah ogahan dekat sama anak anakku, biar mereka menjadi urusan ibu, waktuku lebih banyak aku gunakan untuk chatting dengan pria hidung belang diluar sana. Ah biarlah, karena aku juga butuh menikmati masa mudaku dengan senang senang tanpa harus terbebani sama anak anak yang ribet.
__ADS_1
"Yan! Yani! Tolong kerokin ibu, Yan.
Sepertinya ibu masuk angin, rasanya sampai kliyengan gini." Terdengar suara ibu, memanggil manggil, mengganggu saja, padahal aku lagi pingin istirahat. "Iya Bu, masuk saja. Biar Yani kerokin di kamar sini." Ibu menyembulkan wajahnya yang terlihat sangat pucat, sepertinya ibu benar benar sakit. "Ibu kok pucat banget, sakit apa?" Tanyaku, setelah ibu sudah duduk di atas kasur.
"Gak tau, akhir akhir ini, ibu sering banget pusing, dan jantung ibu tiba tiba sering berdebar kenceng banget. Kalau sudah begitu, pasti akan lemes dan keringat dingin keluar. Rasanya gak kuat, seperti mau mati saja." Terang ibu, yang badannya memang sudah berkeringat dingin, bahkan telapak tangan ibu terasa dingin sekali.
"Ibu gak lebih baik periksa saja, biar nanti Yani antar naik becaknya pak To ke dokter Afif." Tak tega lihat ibu begini, dan kalau ibu sakit, siapa yang akan ngurus anak anakku, lebih baik ibu segera aku bawa ke dokter, biar tau sedang sakit apa, dan mendapatkan obat yang tepat, jadi biar lekas kembali sehat.
"Asalamualaikum." Sepertinya itu suara mas Adi, tumben datang kesini. Semoga saja mengantarkan uang buat Septi.
"Waalaikumsallam." Aku agak mengeraskan suara menjawab salam seseorang yang di luar sana, tapi suara yang sudah tak asing di telinga ini . "Ibu, istirahat saja disini, biar Yani yang lihat siapa yang datang, dari suaranya sepertinya Mas Adi.
Nanti kalau bapak sudah pulang, kita pergi ke dokter, biar anak anak ada yang jagain." Ibu hanya mengangguk dengan nafas yang terlihat tersendat, kasihan sekali ibu kalau begini, sebenarnya ibu sakit apa?
"Owh, kamu Mas. Silahkan duduk." Terlihat mas Adi masih berdiri diluar pintu, dan aku segera menyuruhnya masuk ke dalam.
"Ada apa Mas?" Tanyaku setelah kami duduk dikursi yang ada diruang tamu.
"Gini Yan. Maksudku datang kesini, aku ingin membawa Septi untuk ikut denganku, biar ibuku yang merawat Septi, karena aku lihat, akhir akhir ini, ibumu sering sakit kan? kasihan. Lagian, ibuku juga bersedia merawat Septi, bahkan sangat senang, karena ada temannya dirumah. Kamu tau sendirikan, kalau ibu dirumah sendirian."
Aku terdiam, bingung mau jawab apa, tapi apa yang dikatakan Mas Adi ada benarnya juga. Tapi kalau Septi di asuh ibunya, yang terima uang dari Mas Adi jadi ibunya dong. Duh aku harus bagaimana? Kenapa sih semua harus ribet gini. Padahal aku tetap mempertahan Septi dirumah ini, itu juga demi biar dapat uang nafkah dari Mas Adi. Lumayan bisa buat beli keperluanku juga. Tapi saat ini, ibuku sepertinya sakitnya agak serius, gimana ya? Apa biar Septi sementara ikut ayahnya saja, biar ibu sembuh dulu, nanti kalau sudah sehat, baru aku bawa Septi ke sini lagi.
"Gimana Yan? Biar Septi ikut aku saja, aku akan menjamin kebutuhannya dan akan merawatnya dengan baik." Mas Adi sangat berharap aku mengiyakan keinginannya membawa Septi bersamanya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
__ADS_1
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Wanita Berkubang Dosa
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1