Wanita Berkubang Dosa

Wanita Berkubang Dosa
episode 37


__ADS_3

"Kamu tenang saja, masih ada mama dan juga adikku yang akan menjaga mereka.


Bukankah selama ini, kamu juga seringkali menitipkan anak anak ke mama?" balas Ari dingin dan penuh penekanan.


"Lagian ada Bu Dasih yang akan menjaga dan membantu mereka dirumah. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Fokus saja sama kehamilan kamu!" sambung Ari dengan senyuman tipis dibibirnya, dan membuat semua yang ada ternganga dengan ucapan pria tampan yang sedikitpun tak terlihat sedih karena hatinya sudah terlanjur mati rasa.


Harina langsung salah tingkah dengan ucapan Ari, tak menyangka jika Ari sudah mengetahui kehamilan yang dia sembunyikan.


Harina hamil dua bulan, namun tidak bicara pada siapapun, dan hanya bilang pada Soni suami sirinya.


"Astagfirullah, benar itu Rina?" sahut Bu Rika ikut menimpali, dadanya sudah bergemuruh menahan amarah juga rasa malu pada anak menantu dan besannya.


Harina hanya diam dan menganggukkan kepalanya pelan.


Sedangkan Soni terlihat diam saja dengan wajah frustasi.


"Sebaiknya kita pergi sekarang juga, ibu sudah tidak punya muka pada keluarga suami kamu.


Ibu malu, sangat malu, Harina!


Perbuatan kamu ini sungguh sudah menghancurkan nama baik keluarga kita, memalukan!" sungut Bu Rika dengan wajah yang sudah merah padam, sedangkan pak Bagas berungkali terlihat mengusap wajahnya kasar.


Malu! ya itu yang saat ini tengah dirasakan kedua orang tua Harina kepada keluarga Ari.


"Ari, maafkan anak papa. Jujur kami sangat malu dan merasa sudah gagal mendidik Harina, hingga semua ini bisa terjadi. Papa serahkan urusan perceraian pada kamu, semoga dilancarkan, nak!" pak Bagas menepuk pundak mantan menantunya pelan, lalu berpamitan pada kedua besannya yang diikuti oleh istrinya dan juga Harina beserta Soni.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Setelah kepergian Harina juga orang tuanya.


Ari terduduk lemas, menatap kosong ke sembarang arah, membuang tatap dari sorotan sendu kedua orang tuanya.


"Kenapa kamu tidak pernah cerita saja mama, nak?


Kenapa kamu menyimpan semua ini sendirian selama bertahun tahun.


Bagi bebanmu pada mama juga papa, jangan kamu simpan sendirian." Bu Ratna menatap sedih pada putranya yang bahkan sedikitpun tak bergeming dari keterdiamannya.

__ADS_1


"Papa minta maaf!


Papa yang sudah memaksa kamu untuk menikah dengan Harina, karena papa merasa dia calon yang sempurna untuk kamu. Dia cantik, sarjana, dari keluarga terpandang. Tapi ternyata dia bisa berbuat hal yang begitu memalukan.


Maafkan papa!" sambung pak Toni dengan wajah yang sudah memerah, kecewa dan juga merasa malu pada anak lelakinya, dulu yang begitu memaksa pernikahan itu terjadi adalah dirinya, padahal Ari sudah sangat menolaknya.


"Semua sudah terlanjur terjadi, dan yang terpenting mama juga papa, tau apa yang seharusnya kalian ketahui, agar tidak lagi menyalahkan dan menghakimiku.


Bertahun tahun aku hanya bisa diam, menahan rasa sesak dengan sikapnya yang egois dan semaunya. Kini semua sudah berakhir, Alhamdulillah.


Dan tolong, jangan lagi kekang kehidupanku, biarkan aku menentukan kebahagiaanku sendiri, dengan orang yang aku cintai." sahut Ari dingin menahan segala sesak yang mengisi dadanya.


"Apa kamu masih mencintai perempuan itu?" balas Bu Ratna, menatap dalam wajah anak lelakinya.


"Iya! cuma dia perempuan yang aku inginkan.


Tolong biarkan aku menjalani kehidupanku sesuai dengan apa yang aku inginkan." sahut Ari masih dengan nada yang datar dan wajah dingin.


Teringat jelas bagaimana kedua orangtuanya dulu yang begitu melarang hubungannya bersama Harti, Lantaran Harti dari keluarga miskin.


"Aku tau, kalian tidak menyukainya, karena kalian menganggap dia tidak selevel dengan keluarga kita, dia dari keluarga miskin yang selalu kalian pandang rendah.


Bukan perempuan yang terlihat kata dan sempurna di mata kalian, tapi sanggup melakukan perbuatan hina selama bertahun tahun dan menutupinya dengan sikap pura pura baiknya, munafik!" sahut Ari penuh dengan penekanan, mengingatkan sikap kedua orang tuanya yang dari dulu tidak pernah menyukai Harina hanya karena dia dianggap orang miskin.


Bu Ratna dan pak Toni bungkam, memejamkan mata dan mengingat semua sikapnya dulu, menyesal, ya menyesali keputusannya yang salah, yang melihat semua karena dunia, hingga perempuan yang begitu dibanggakan ternyata seorang yang begitu munafik dan sanggup melakukan perbuatan hina selama bertahun tahun lamanya.


"Mama merestui, tapi selesaikan dulu urusan perceraian kamu dengan Harina.


Mama tau, kalian sudah pisah lama, tapi di mata tetangga kalian masih suami istri selama ini.


Ini juga demi menjaga nama baik kalian, dan agar Harti juga tidak dianggap sebagai perusak rumah tangga. Bersabarlah!" sahut Bu Ratna pelan, membenarkan semua ucapan anak lelakinya, karena memang Bu Ratna juga sebenarnya tau seperti apa sikap dan sifat Harti selama ini.


Meskipun sudah menyandang status janda yang ditinggal nikah suaminya, Harti tetap teguh mempertahankan kehormatannya, rela bekerja kasar demi mencukupi kebutuhan anaknya dan hampir tidak pernah mendengar ada yang menggunjing, tapi melainkan banyak tetangga yang salut dan sungkan karena sikap baik dan lembutnya.


"Alhamdulillah kalau akhirnya mama bisa membuka hati dan mata mama untuk perempuan yang memiliki hati sebaik Harti, dia tulus dan bukan tipe pura pura." sahut Ari yang masih menyimpan rasa sakit atas Penolakan dan penghinaan orang tuanya dulu kepada Harti, saat Ari menyampaikan niatnya untuk melamar gadis pujaannya.


"Maafkan mana sama papa, sekarang kamu sadar kalau sikap kami keliru. Semoga niat dan rencana kamu dilancarkan.

__ADS_1


Dan untuk anak anak, biar ikut di rumah mama saja, gimana?


Agar kamu juga fokus bekerja." sahut Bu Ratna lembut, berusaha menerima kesalahan dan ingin memperbaikinya, untuk menebus duka anak lelakinya akibat perjodohan dan pemaksaan yang dulu dilakukan.


"Zahra biar disini sama aku, ma!


Dia sudah besar dan juga ada Bu Dasih yang akan mengawasi, lagian Zahra juga tidak suka main diluar rumah.


Kalau Zaki biar dirumah mama saja dulu untuk sementara, maaf kalau aku sudah merepotkan mama!" sahut Ari dengan wajah datarnya.


Bu Ratna pun tak bisa lagi memaksa, selain mengikuti kemauan Ari.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Wanita Berkubang Dosa


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.

__ADS_1


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2