Wanita Berkubang Dosa

Wanita Berkubang Dosa
Bab 9


__ADS_3

Yani yang mulai panik Dan terus menangis, harapan untuk menjadi istri Santo sepertinya harus gagal, dengan tidak hadirnya Santo menunjukkan bahwa lelaki itu telah kabur dan tidak menginginkan pernikahan dengan Yani.


Tiga jam lebih semua orang menunggu kedatangan Santo di KUA, tapi lelaki itu belum juga ada tanda tanda kedatangannya, Parjo yang sudah menahan emosinya dari tadi kini seolah meledak dengan tiba tiba melayangkan pukulan bertubi tubi ke arah pak Arip, serangan mendadak dari pak Parjo membuat pak Arip kaget dan tidak bisa menghindar, tubuhnya terjungkal dan darah segar mengalir dari ujung bibirnya.


Parjo ditarik oleh beberapa saudara laki-lakinya agar tidak semakin brutal menyerang pak Arip, meskipun marah dan kecewa tak seharusnya pak Parjo melakukan kekerasan, karena bisa berakibat fatal, bisa saja pak Arip tak terima dan melaporkan Parjo atas tuduhan penganiayaan, urusan akan semakin panjang dan rumit nantinya.


Keributan yang diciptakan Parjo karena emosi yang tak lagi bisa ditahan sukses menjadi perhatian banyak orang, bahkan para pegawai KUA juga ikut berhamburan keluar, ada yang hanya melihat, ada yang justru menyalakan kameranya untuk mengabadikan keributan sebagai konten, tapi juga ada yang mendekat untuk menenangkan.


"Kurang ajar! kalian bukan manusia, bisa bisanya mempermainkan keluargaku seperti ini, kalau tidak Sudi bertanggung jawab, harusnya kamu bilang dari awal, tidak membuat kami seperti orang bodoh seperti ini!


Dengan kaburnya Santo justru itu memperlihatkan betapa hinanya keluarga kalian, dasar tak punya otak, lihat saja aku akan membalas perbuatan kalian." Parjo yang masih dipegangi kedua adiknya terus mengumpat pak Arip yang hanya diam tak bergeming sedikitpun dengan amarah pak Parjo, bukan pak Arip tak ingin membalas, pak Arip hanya tak ingin memperpanjang masalah, baginya yang terpenting keponakan nya sudah berhasil kabur dan tak jadi menikah dengan Yani, perempuan yang teramat dibenci oleh seluruh keluarga pak Arip.


"Lebih baik selesaikan baik baik, bicarakan dulu dengan kepala dingin." Salah satu pegawai KUA memberi nasehat dan di iyakan oleh seluruh rombongan keluarga Yani, pak Parjo dituntun ke mobil oleh adiknya dan diikuti oleh semua anggota keluarga, semua masuk kedalam mobil dan tak terkecuali Yani yang masih saja terus menangis.


Kedua mobil yang disewa pak Parjo berlahan meninggalkan kantor KUA dan menuju pulang, tak perduli dengan pak Arip juga anaknya yang masih tertinggal disana, amarah, kecewa, sakit hati dengan keluarga kurang ajar yang sudah dengan sengaja mengginjak nginjak harga dirinya, setelah ini Parjo berniat untuk memberi pelajaran pada keluarga itu.


Tak ada yang mengeluarkan suara satupun, semua larut dengan pikirannya masing masing, hanya isakan Bu Sumi yang terdengar hingga mobil kembali sampai didepan rumahnya pak Parjo.


Ada beberapa ibu ibu tetangga yang sudah menunggu diteras rumahnya Yani, mereka berniat untuk mengucapkan selamat dan memberi amplop untuk pengantin, tapi justru dikejutkan dengan suara tangisan Bu Sumi yang semakin menjadi saat keluar dari dalam mobil.


"Loh loh, ini ada apa to, kok Bu Sumi nangis kejer kayak gini, dan kenapa semua wajahnya berubah kayak gitu, ada apa to?." Tanya salah satu ibu ibu dengan raut wajah cemas.

__ADS_1


"Santo kabur, dan sepertinya memang sudah direncanakan oleh mereka." Sahut pak RT dan membuat semua orang ternganga tak percaya.


"Kok kurang ajar bener keluarga itu, bisa bisanya mempermainkan orang lain seenak jidatnya." respon Bu Dian geram.


"Kumpulkan warga, kita demo sama sama, biar mereka tidak bisa seenaknya."


"Iya, kita datangi rame rame rumahnya, dan seret Santo keluar kalau perlu, gebukin aja, biar kapok."


"Wes nggak bener kui, kalau memang tidak mau menikahi Yani, harusnya ngomong secara gantel, bukan malah kabur, wes pokok e nggak bener itu."


Suara sahut sahutan dari para tetangga semakin membuat darah pak Parjo mendidih, rasanya ingin membakar rumah dan seluruh keluarga biadab itu, yang tanpa punya hati telah begitu membuatnya tersakiti bahkan menanggung malu.


Dengan masih dihiasi amarah yang meletup letup, pak Parjo masuk kedalam rumah dan kembali keluar dengan membawa parang, langkahnya yang lebar menuju ke arah ah kediaman keluarga Santo, semua orang saling bertatapan ngeri, bahkan Bu Sumi menjerit histeris takut jika suaminya kalap dan melakukan pembunuhan masal pada keluarganya Santo.


Atau aku dobrak dan obrak abrik." Pak Parjo mengamuk seperti orang kesetanan, warga tidak ada yang berani mendekat, karena Parjo membawa parang ditangan kanan dan linggis ditangan kirinya, bahkan pak Parjo sudah memperingatkan warga jangan ada yang berani mencegahnya, jika ada yang nekad maka dia tidak akan segan untuk menghabisi siapapun.


Tidak ada satupun keluarga Santo yang berani keluar, bahkan keadaan semakin mencekam, karena Parjo mulai menggedor gedor pintu rumah Santo dengan parangnya yang justru sekarang di bantu sama Parto anaknya yang membawa linggis, meskipun parta sakit hati dengan perlakuan orang tuanya, sebagai anak lelaki dia tidak terima kalau orang tuanya diperlakukan begitu hina oleh keluarga Santo, ngeri dan semakin brutal, itulah gambaran kemarahan keluarga yang sudah berhasil di injak-injak harga dirinya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.

__ADS_1


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Wanita Berkubang Dosa


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.

__ADS_1


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2