
Usia kandunganku sudah berjalan delapan bulan, dan selama itu aku hanya berdiam dirumah, mengandalkan uang nafkah dari Mas Adi, mau tidak mau aku harus irit dan kalau mau beli jajan baru aku ambil uang simpananku yang tidak seberapa. Kehamilan ini memang benar benar sangat menyiksaku, tubuhku juga mulai mekar, tidak lagi seksi. Tapi mau gimana lagi, mau tidak mau aku harus melahirkan anak ini, untuk mengikat Mas Adi agar tidak meninggalkanku. Karena namaku sudah terlanjur jelek di mata orang kampung. Hanya Mas Adi yang mau menerima aku dengan segala keburukkanku.
"Yan, kenapa kamu melamun disitu, sini temani ibu nonton televisi." Suara ibu membuyarkan lamunanku. "Iya Bu." Aku duduk di samping ibu yang sedang memijit kaki Lara yang tiduran di kasur depan televisi.
"Gimana, kapan kamu jadi beli perlengkapan bayi buat anakmu? Ini sudah hampir lahiran loh kamu."
"Iya, Bu. Nunggu uang dari Mas Adi dulu, katanya seminggu lagi Mas Adi dapat uangnya."
"Ibu tambahin tiga ratus ribu Yan, nanti belanja yang perlu perlu saja. Karena biaya lahiran juga tidak murah."
"Yani tau Bu. Bingung juga sih, sudah mau lahiran tapi uang tidak punya. Bahkan beli popok juga belum. Gimana ya Bu?"
"Kita lihat nanti aja, Adi bilang seminggu lagi dapat uang kan? Nanti kalau tidak cukup, ibu akan cari hutangan di pasar, ke Bu Tutik yang jual jajanan pasar itu loh."
"Emang bisa Bu?"
"Bisa. Memang Bu Tutik sudah terkenal jadi tukang kredit segala macam barang dan juga bisa pinjam uang tapi berbunga. Kalau pinjam Lina ratus ribu, nanti baliknya tujuh ratus ribu, dibayar setiap dua hari sekali dua puluh ribu."
"Wah, kalau gitu kita pinjam aja Bu ke Bu Tutik buat jaga biaya lahiran. Satu juta saja, nanti kan Mas Adi juga berusaha untuk cari kurangannya. Biar nanti aku bicarakan ke Mas Adi dulu."
"Iya, sebaiknya memang begitu. Harus dibicarakan berdua, kalau ada apa apa kalian bisa hadapi sama sama. Semoga saja diberi kelancaran. Aamiin."
"Yan, denger denger Harti sudah nikah siri sama pak Ari. Nasibnya kenapa selalu lebih baik dari kita ya dia itu. Dinikahi laki laki mapan. Meskipun jadi istri kedua gak masalah, asal di cukupi."
"Sudahlah Bu. Yani lagi gak ingin bahas orang lain. Yani bingung mikirin hidup Yani yang gini gini aja dari dulu."
__ADS_1
"Owalah Yan, ibu cuma kasih tau saja. Itu kan bisa buat kamu lebih bersemangat buat nyari laki laki kaya. Biar hidupmu tidak susah terus. Tapi ya itu, belum dapat, kamu sudah hamil duluan."
"Bu, jangan keras keras, nanti kalau di dengar mas Adi gimana?" Ibu terdiam dengan mulut dimanyunkan, bukannya takut, tapi belum siap saja kalau tiba tiba di tinggal suami pas hamil besar kayak gini, kan gak lucu.
"Aku ke kamar dulu ya Bu, mau tidur, ngantuk banget rasanya. Nanti tolong bangunin kalau sudah jam tiga."
"Iya." Jawab ibu dengan wajah yang masih terlihat masam. Entahlah, dari dulu, ibu selalu berharap aku dapat suami kaya. Sedangkan itu tidak mudah, apa lagi aku SD saja tidak tamat. Ah ibu, kenapa selalu mendorongku ke lembah penuh dosa hanya untuk kepuasanmu, dan anehnya aku selalu mengiyakan bahkan menikmati itu semua.
POV Adi
Sejak aku menikahi Yani, sebenarnya aku sudah siap dengan semua resiko. Karena Yani memiliki masa lalu yang kelam. Dua hamil saat masih sekolah dasar, dan tentu sifatnya jauh dari kata baik. Kata katanya juga kasar, pemarah dan muda tersinggung. Tapi ini pilihanku, pertama kali melihatnya saat di acara bazar pabrik gula, aku langsung tertarik dengan s nyum manisnya, bahkan bodinya yang sintal juga langsung membuatku tergoda. Dengan modal nekad aku melamarnya dan langsung diterima Yani dan keluarganya. Tapi makin kesini, sikap Yani tidak berubah justru semakin menjadi. Sifatnya yang keras dan gaya hidupnya yang boros membuatku pusing dan harus menumpuk hutang sana sini. Rasanya aku sudah tidak sanggup lagi. Tapi aku harus tetap bertahan demi anak yang dikandung Yani. Aku sudah merindukannya hadir di dunia ini.
"Terimakasih Bu. Maaf, Adi sudah merepotkan ibu."
"Jangan bicara begitu Le. Kalau ibu punya, pasti ibu bantu, kan itu juga buat calon cucu ibu."
"Maafin Adi ya Bu, Adi belum bisa membahagiakan ibu, justru Adi menjadi beban buat ibu."
"Sudah, kamu anak ibu. Jangan mikir macam macam, makan dulu sana, ibu masak sayur asem kesukaanmu. Habis itu baru pulang dan ajak istrimu belanja keperluan calon cucu ibu."
Begitulah ibuku, selalu perhatian pada semua anak anaknya, meskipun ibu hidup pas Pasan tapi kasih sayangnya sangat luas untuk kami anak anaknya. 'Terimakasih Bu, semoga ibu diberi umur panjang, agar aku punya kesempatan untuk membuatmu bahagia.'
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
__ADS_1
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Wanita Berkubang Dosa
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1