Wanita Berkubang Dosa

Wanita Berkubang Dosa
Bab 23


__ADS_3

Seharian aku tidak kuat bangun dari tempat tidur, kepalaku terasa pusing sekali, dan mual ini sangat menyiksaku, aku makin panik saat teringat aku sudah telat hampir dua Minggu, belum juga menstruasi. Aku menyuruh Lara anakku membeli testpack di apotik dekat rumah, saat aku test ternyata hasilnya positif. Aku hamil tanpa tau siapa ayah anak ini, duh apa yang harus aku lakukan.


Kenapa ini bisa terjadi, saat ibuku sakit aku hamil tanpa seorang suami, apa kata tetanggaku, pasti ibu akan marah, tau aku mengulangi kesalahan yang dulu. Apa aku gugurkan saja, mumpung masih sangat muda.


Yani terus bicara sendiri di dalam hatinya, dan tak terasa air matanya berjatuhan karena bingung apa yang harus di lakukan.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Sedangkan di rumah sakit, Bu Sumi dan pak Parjo tengah saling diam, sibuk dengan pikiran Mading masing. Parjo tak habis pikir dengan sikap anak anaknya yang acuh dengan sakit ibunya, apa lagi Yani, yang sangat di sayang dan selalu jadi prioritas pun tak perduli dengan ibunya yang sekarat, justru Yani mengambil uang dari pemberian ibu ibu saat datang menjenguk Bu Sumi.


Sedang kedua anak laki lakinya lebih memilih cuek dan hanya menjenguk sesekali.


"Pak!


Yani belum kesini?" tanya Bu Sumi lemah dengan mata uang sudah berkaca kaca.


"Belum, Bu!


Ada apa, kamu kangen sama Yani?" tanya pak Parjo lembut dan menggenggam tangan sang istri.


"Ibu ingin ketemu, Yani. Mau bicara sama dia, takut kalau ibu sudah gak kuat lagi. Ibu mau, Yani berubah dan merawat Lara juga Septi dengan baik." lirih Bu Sumi dengan air mata yang sudah berjatuhan membasahi pipinya.


"Iya, nanti biar bapak bilang ke Yani. Biasanya dia akan kesini habis magrib." sahut pak Parjo menenangkan sang istri, padahal Yani sudah dua hari tidak datang menjenguk ibunya, setelah mengambil uang amplop, Yani gak pernah datang lagi.


"Ibu istirahat saja dulu, nanti kalau Yani datang, bapak akan bangunin ibu." pak Parjo mengusap lengan istrinya lembut dan memaksakan untuk tersenyum ke arah istrinya.


Bu Sumi memejamkan matanya, terlihat wajahnya yang pucat dan keadaannya yang semakin melemah.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Lara yang sudah sekolah dasar, sudah bisa disuruh suruh oleh Yani.


"Ra, belikan nasi bungkus ke warungnya Mak mi." suruh Yani pada anaknya.


"Iya, Bu. Berapa?


Lara juga lapar, dari pagi belum makan." lara menghampiri ibunya dengan wajah memelas dan takut, karena Yani seringkali berkata dan bersikap kasar pada anaknya itu.


"Yasudah beli dua bungkus. Ini uangnya lima belas ribu, sama beli es juga." Yani menyodorkan uang lima ribuan tiga pada anaknya dengan wajah yang bersungut sungut.


Lara berjalan dengan gontai menuju warungnya Mak mi yang tak jauh dari rumahnya untuk membeli nasi bungkus pesenan ibunya.


"Mak mi, nasi geprek dua sama es marimas dua." pesan Lara sambil menyodorkan uang dalam genggamannya.

__ADS_1


"Iya, tunggu sebentar ya.


Kok tumben kamu yang beli, Ra. Ibu mau mana?" tanya Mak mi dengan suara cemprengnya.


"Ibu sakit Mak mi. Tadi muntah muntah dan badannya demam." sahut Lara polos.


"Oh paling masuk angin itu, suruh minum teh panas sama Antangin." sahut Mak mi dengan tangannya sibuk membungkus nasi pesanan Lara.


Lara hanya diam saja tidak menyahut, dia benar benar sedih ditinggal Bu Sumi sakit. Apalagi dirumah hanya ada Yani, ibunya. Yang selalu membentak dan menyuruhnya sesuka hatinya.


"Kamu kok lemes to, Ra. Ada apa?" tanya Mak Mi menatap iba gadis kecil dengan tubuh kurus dan kulit gelap itu, Lara cantik, tapi dia tidak terawat karena Yani sibuk dengan dirinya sendiri.


"Iya, Mak Mi. Aku lapar banget, dari pagi belum makan apa apa!" sahut Lara jujur dengan wajah menunduk dalam.


Mak Mi hanya bisa menarik nafasnya dalam, kasihan dengan nasib bocah di hadapannya. Mak mi cukup tau bagaimana sikap Yani. Apalagi setelah ibunya masuk rumah sakit, Lara tak terurus karena Yani hanya sibuk dengan dirinya sendiri.


"Kalau kamu lapar, langsung aja kesini. Nanti makan disini, wong cuma kamu saja, gak papa." balas Mak Mi dengan wajah ramahnya dan membuat Lara seketika tersenyum sumringah menatap haru pada perempuan paruh baya yang selalu bersikap baik padanya.


Lara pulang dengan membawa kantong kresek berisi makanan dengan wajah riang.


Mengambilkan piring dan sendok untuk Yani dan membawanya ke kamar lalu menyerahkan pada ibunya.


Lara memilih makan diluar dengan rakus karena sudah sangat merasa kelaparan.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Tak terasa hari sudah menjelang malam, tapi Yani tak kunjung bangun dari tidurnya, sementara Lara memilih meringkuk di kasur depan televisi.


Parjo yang sudah berkali kali menghubungi Yani mendadak gusar, karena sudah hampir sepuluh panggilan darinya tak dijawab oleh Yani. Sedangkan Bu Sumi terus memanggil manggil nama Yani dengan kondisi semakin melemah.


"Kemana perginya anak itu, kenapa di telpon sedari tadi tidak menjawab.


Aku hubungi Parta saja, biar dia bawa Yani kesini." gumam pak Parjo kesal dengan dada yang sudah bergemuruh. Dengan menekan nomor Parta anak laki lakinya, kak Parjo memintanya untuk menjemput dan bawa Yani kerumah sakit, karena keadaan ibunya yang sudah sangat melemah.


"Yan! Yani!" teriak Parta menggedor pintu rumahnya.


Yani berjalan dengan sempoyongan karena kepalanya terasa berat, membuka pintu dan ternyata kakaknya yang datang dengan istrinya.


"Kamu kenapa Yan?


Bapak telpon dari tadi gak kamu angkat, ibu kritis nyariin kamu." Parta langsung pada intinya dan menatap Yani dengan wajah datarnya.


"Kepalaku pusing mas, dan tubuhku meriang." sahut Yani dengan wajah meringis menahan sakit.

__ADS_1


"Lalu gimana, kamu gak bisa kerumah sakit ini?" tanya Parta memastikan.


"Aku akan kesana, tapi Lara sana siapa?" sahut Yani memaksakan untuk kuat.


"Biar sama mbak puji. Kamu sama aku kerumah sakit, kan ibu sedang kritis." sahut Parta menatap istrinya yang terlihat mengangguk setuju.


"Baiklah, tunggu sebentar. Aku mau ganti baju dulu." Yani berjalan memasuki kamarnya dan berniat untuk mengganti pakaiannya sebelum kerumah sakit.


Terdengar bunyi telepon dari ponselnya Parta dan terlihat nama bapaknya yang sedang memanggil.


Terlihat Parta mengerutkan wajahnya dan langsung menjawab panggilan telepon dari pak Parjo.


"Asalamualaikum." sapa Parta pada bapaknya.


"Apa?


Ya Alloh ibuk." teriak Parta histeris dengan Isak tangis, setelah mendengar jawaban dari bapaknya di ujung sana.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Wanita Berkubang Dosa


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.

__ADS_1


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2