
"Iya Yani tau, kalau ibu bilang dari dulu jika tidak keberatan Yani tebar pesona, pasti sekarang Yani sudah punya uang banyak Bu, dan ibu juga tidak perlu lagi mikir kebutuhan Lara."
"Ibu belum kepikiran yan, yaa karena lihat Harti sama pak Ari itu aja, ibu kok sakit hati banget, perempuan seperti Harti selalu saja beruntung dan lebih enak hidupnya, kesel ibu."
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sejak ibu setuju aku menggaet laki laki kaya, aku sangat senang dan hal pertama yang aku lakukan dengan mendekati pak Ari, pria tampan dan tentunya kaya, tak perduli dia sudah punya istri apalagi dekat dengan janda sebelah rumah. Akan aku tunjukkan kalau akulah yang lebih unggul.
Tapi rencanaku tidak sesuai seperti yang aku pikirkan, pak Ari sama sekali tidak menggubris bahkan melirik pun seoalah enggan. Janda sebelah rumah sepertinya lebih menarik hatinya.
Yasudah, aku juga tidak ingin diam ditempat, akhirnya aku memilih jadi pemuas pria hidung belang dan tentunya dengan tarif yang lumayan. Sejak aku menggeluti pekerjaan baruku ini, kehidupan kami berubah, aku yang tidak lagi kekurangan uang, dan tentunya Lara anakku terjamin kebutuhannya.
Entahlah meskipun aku tidak perduli dengan perkembangan anak itu, tapi jiwaku sebagai ibunya tetap ingin dia tidak kekurangan apa pun. Bahkan suamiku Adi tidak pernah curiga sama sekali dengan yang aku lakukan. Dia juga tidak pernah tanya dari mana aku mendapatkan uang, yasudah semua berjalan sesuai dengan yang aku mau, ibuku juga sangat mendukungku.
"Yan, sebentar lagi Lara mau masuk sekolah, kamu sudah punya uangnya belum? buat nanti pendaftaran." Kata ibuku waktu kami sedang berada di dapur untuk memasak.
"Berapa Bu?"
"Paling satu juta, kamu siapin segitu saja. Kalau ibu gak punya uang, kamu tau sendiri kan kalau bapakmu cuma ngojek yang penghasilnya pas pasan."
"Iya nanti Yani Carikan, ibu gak usah khawatir. Yani pasti dapatkan uang itu. Kapan pendaftaran sekolahnya?"
"Minggu depan, tadi ibu dapat info dari Bu Reni."
"Iya, Yani akan usahakan. Yang penting Lara bisa sekolah."
__ADS_1
Aku dan ibu kembali melanjutkan acara memasak kami, dan ekor mataku menangkap bayangan Adi yang sedang mencuri dengar obrolanku bersama ibu di balik dinding penyekat antara dapur dan ruang tengah.
Aku tau Adi sangat mencintaiku, bahkan selama kita menikah, belum pernah dia marah padaku, yang ada dia selalu menuruti apa mauku. Biarlah dia mau curiga atau mau apa akupun juga sudah tidak perduli. Lagian salah dia sendiri, bisanya cuma kerja jadi kuli yang gajinya hanya cukup untuk makan sehari hari.
"Yan, tadi aku dengar kamu sama ibu ngomongin soal sekolah Lara, ini aku ada uang lima ratus ribu, sisanya nanti aku akan cari." Adi menyodorkan uang lembaran merah sebanyak lima lembar saat aku masuk kedalam kamar untuk berganti pakaian. Karena tadi sehabis bantu ibu di dapur aku langsung mandi.
"Wah, kebetulan Mas. Padahal aku lagi pusing mau cari pinjaman. Kamu kan tau sendiri ibuku tidak bekerja dan bapak cuma tukang ojek sekarang. Makasih ya Mas, kamu sudah anggap Lara seperti anakmu sendiri."
"Dari dulu, aku sudah anggap Lara itu anakku yan, tapi aku juga pingin punya anak darimu. Kamu mau ya, lepas KB mu."
"Tapi hidup kita masih susah loh Mas, buat makan saja kita harus muter otak, gimana kalau kita punya anak lagi, apa nanti kita sanggup beli susunya?"
"Anak itu rejeki Yan, insya Alloh aku sanggup. Nanti aku akan kerja lebih keras lagi. Kan nanti juga jamu bisa kasih anak kita dengan Asi, kalau susu formula untuk tambahan saja."
"Ya ampun Yan, jangan pernah membandingkan hidup kita dengan orang lain, rejeki itu sudah ada yang ngatur. Dan kamu juga harus bisa ngatur uang. Bukankah selama ini uang gajiku aku berikan kamu semua, lumayan kan seminggu bisa tujuh ratus ribu, hemat hematin biar kita bisa nabung buat masa depan."
"Uang segitu saja kamu ungkit Mas, mana cukup buat kebutuhan orang satu rumah."
Adi cuma bisa menghela nafas mendengar ucapan istrinya yang selalu sama saat dinasehati. Padahal uang tujuh ratus seminggu itu banyak, kalau bisa sedikit mengirit, untuk biaya makan lima puluh sehari seminggu cuma tiga ratus lima puluh. Buat jajan seratus sampai dua ratus. Sisanya bisa untuk di tabung, tapi tidak buat Yani, tidak perduli bagaimana suaminya mencari uang diterik panasnya matahari. Kalau Adi sudah memberikan uang gajinya selama seminggu sebagai kuli bangunan. Yani langsung pergi belanja dan membeli yang tidak penting, seperti cemilan dan baju baru. Padahal Yani juga mendapatkan uang dari hasil dia menjual tubuhnya, sayangnya uang itu juga tidak pernah ada rimbanya, selalu habis.
"Mas mau sarapan disini apa di meja makan?" Tawarku pada mas Adi yang memasang wajah kesal karena aku selalu membantah ucapannya. Enak saja ngatur ngatur, uang segitu saja selalu di ungkit ungkit. Aku juga butuh senang senang dan dandan cantik. Hidup itu sekali dan harus dinikmati, ngirit cuma bikin kita ngenes.
"Aku makan diluar saja, tolong siapin bekalku, aku mau berangkat karena udah jam tujuh ini." Balas mas Adi datar. Dan akupun langsung mengerjakan perintahnya, membungkus dua nasi buat dibawanya ke proyek, satu buat sarapan dan yang satu buat nanti makan siangnya. Setelah suamiku pergi, aku pun juga siap siap untuk pergi, karena hari ini aku ada janji dengan pak Broto pelanggan setiaku, laki laki tua dari desa sebelah itu sangat menyukai pelayananku, upah yang diberikan juga lumayan, meskipun sudah tua, yang penting uangnya. Kerja tanpa mengeluarkan modal tapi langsung dapat uang banyak bahkan juga tidak perlu capek capek, aku cukup pintar bukan, memanfaatkan tubuhku yang molek selagi masih muda.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
__ADS_1
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Wanita Berkubang Dosa
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1