
"Maaf, maaf, gundul mu itu!
Setelah bikin orang susah dan men-deri-ta kamu bilang maaf, kok enak kamu!
Laporkan saja, pak Ari!
Biar dia tidak kurang ajar di kampung sini lagi!" pak Basri ikut menimpali dengan wajah geramnya.
Membuat Antok meringis dan mengumpat di dalam hatinya.
"Semua sepakat kasus ini dilaporkan ya?
Kalau begitu biar saya hubungi kawan saya yang di polres." Ari mengambil ponselnya di dalam saku celana yang dipakainya. Menelpon salah satu kawannya dan menceritakan apa yang tengah terjadi. Tania menunggu lama, laporan Ari langsung diterima dan akan langsung di tindak lanjuti.
"Sebentar lagi polisi akan datang kesini, kamu siap siap saja mendekam di penjara!
Gaya sok jagoan hanya pada orang orang lemah, kalau berani sikap sombong mu itu kamu perlihatkan padaku, lama lama kok muak aku lihat tingkah kamu!" Ari menatap tak suka pada wajah Antok yang terlihat terus menunduk.
"Ikat saja tangannya, takutnya dia kabur!" perintah pak RT dan langsung di iyakan oleh para pemuda, mereka menjaga ketat Antok sampai menunggu polisi tiba untuk menjemputnya.
Sedangkan pak Parjo tengah meringis kesakitan saat diobati luka luka lebam di wajahnya karena pukulan dari Antok yang membabi buta.
Lara masih terus menangis menahan rasa sakit di perut dan tubuhnya. Sehingga ibu ibu memutuskan untuk membawa Lara kerumah sakit untuk di periksa.
"Tapi saya gak punya uang!" sahut Lara sambil meneteskan air mata menatap ibu ibu yang langsung iba dengan nasibnya.
"Bawa saja ke puskesmas terdekat, setidaknya Lara mendapatkan pertolongan. Takutnya terjadi apa apa sama kehamilannya." sahut Bu Dian, dan ibu ibu setuju, lalu meminta salah satu bapak bapak untuk mengambil mobil buat mengantarkan Lara dan pak Parjo ke puskesmas.
Pak Basri yang rumahnya paling dekat langsung mengambil mobilnya dan mengantarkan Lara juga pak Parjo ke puskesmas dengan di bantu ibu ibu yang lain.
Sedangkan pak RT juga Ari masih menunggu kedatangan polisi untuk menjemput Antok.
Seminggu berlalu, keadaan pak Parjo juga Lara sudah kembali baik baik saja. Dan Antok sudah mendekam di penjara karena ulahnya. Sedangkan Yani belum ada pulang kerumah sama sekali. Namun pak Parjo sama sekali tidak mau mengkhawatirkan anaknya Perempuannya itu lagi, sudah lelah bahkan menyerah dengan kelakuan Yani.
"Pak!
Kalau anak ini lahir, bagaimana?" tanya Lara saat tengah duduk berdua dengan pak Parjo di depan rumah.
"Rawat saja sendiri, Ra!
Kamu harus bisa merawat anakmu sendiri apapun yang terjadi, kasihan!
__ADS_1
Bapak akan bantu kamu, nanti kalau anak itu sudah bisa ditinggal, carilah kerja yang halal buat membesarkan anakmu. Jangan kayak ibumu, sungguh bapak merasa gagal dan menyesal karena sudah tidak bisa mendidik ibumu menjadi perempuan baik baik." sahut pak Parjo panjang lebar dengan mata yang sudah berkaca kaca, teringat dengan semua kelakuan Yani selama ini.
"iya, pak!
Lara akan menuruti semua nasehat bapak.
Lara mau kok jadi pembantu, asal lara bisa menghasilkan uang." balas Lara dengan kesungguhan di dalam hatinya. Ingin merubah cara hidupnya demi anak yang akan ia lahirkan sebentar lagi.
"Tapi Lara bingung, sebentar lagi mau lahiran. Tapi Lara tidak punya tabungan sama sekali." sambung Lara sedih dan kini air matanya mulai menetes membasahi pipinya.
"Tenang saja, Ra!
Percaya sama kebesaran Gusti, insyaallah akan ada rejekinya nanti. Bismillah ya!" sahut pak Parjo berusaha memberi ketenangan untuk cucunya, meskipun di dalam hatinya, pak Parjo juga cemas dan bingung dengan biaya kelahiran Lara nantinya.
"Asalamualaikum" Harti datang dengan membawa jantung kresek kerumah pak Parjo. Membuat pak Parjo tersenyum sungkan dengan tetangga yang selama ini sudah terlalu baik dan sering memberinya bantuan.
"Waalaikumsallm. Mbak Harti, Monggo mbak, silahkan masuk!" sahut pak Parjo sungkan dengan senyum ramah di bibirnya.
"Gak usah pak Parjo. Saya cuma sebentar saja kok. Cuma mau antar ini, titipan dari mas Ari." Harti menyerahkan kantong kresek yang berisi gula, kopi, mie instan, telur dan buah buahan.
"Owalah, mbak Harti kok mesti repot repot. Saya jadi sungkan sendiri, merasa selalu merepotkan. Terimakasih banyak nggih, mbak!" balas pak Parjo dengan tatapan haru, karena hampir dua Minggu sekali Harti selalu memberinya sembako.
"Gak repot kok pak Parjo. Kebetulan kami sedang ada rejeki lebih. Kalau begitu saya pamit pulang dulu nggih, asalamualaikum!" balas Harti sopan dan mengangguk ramah menatap pak Parjo dan Lara bergantian, lalu meninggalkan mereka dengan perasaan masing masing. Sungguh Nagi pak Parjo, Harti dan Ari adalah orang yang sangat baik pada siapapun, malu saat mengetahui jika Yani seringkali menjelekkan Harti dengan sesuatu yang tidak pernah Harti lakukan.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Melihat tingkah anak perempuannya membuat pak Parjo semakin tertekan. Yani benar benar sudah tidak bisa di arahkan.
"Astagfirullah! Keterlaluan kamu, Yan!
Kamu sekarang sudah berani beraninya mabuk mabukan seperti ini. Ya Alloh!" teriak pak Parjo dengan amarah yang sudah meletup. Tak tahan lagi dengan kelakuan Yani.
"Sudah gak usah teriak teriak, ini hidupku. Bapak gak perlu ikut campur!" sahut Yani tanpa perduli dengan amarah pak Parjo dan melenggang pergi begitu saja menuju kamarnya.
Plak! Plak!
Pak Parjo sudah tidak tahan lagi, akhirnya tamparan itu mendarat di wajah Yani, dan membuat Yani juga lara langsung tak percaya dengan apa yang sudah dilakukan laki laki paruh baya yang biasanya hanya memilih diam saja dengan semua kelakuan mereka.
"Keterlaluan kamu!
Apa kamu gak malu d Ngan kelakuan kamu yang memalukan ini, hah?
__ADS_1
Sampai kapan kamu hidup di jalan yang yang salah seperti ini, hah?
Sadar, Yan! sadar!" teriak pak Parjo murka, tak lagi mau hanya diam saja jika keadaan justru semakin tak terkendali, Yani sekali kali harus diberi pelajaran.
"Bapak berani menampar aku?
Bapak gak sayang lagi sama aku?
Aku hanya ingin hidupku sesuai dengan apa yang aku mau, bapak tidak usah ikut campur!" teriak Yani yang tak mau kalah, sedangkan Lara memilih diam dan tak mau ikut campur.
"Kalau itu yang kamu mau, pergi dari rumahku dan jangan pernah kamu kembali lagi kesini. Aku gak Sudi punya anak berkelakuan menjijikkan sepertimu, Yani!" sahut pak Parjo dengan amarah yang semakin menggila. Tak tahan dengan sikap Yani yang tidak bisa di kasih tau, dirinya sudah cukup menahan malu dengan ulah anak perempuannya itu, kini sudah saatnya pak Parjo ingin bersikap tegas, agar Yani tak lagi menginjak injak harga dirinya sebagai orang tua.
"Bapak ngusir aku, pak?
Bapak tak lagi mau perduli denganku?
Teta kamu pak!" sahut Yani dengan masih tak percaya melihat kemarahan pak Parjo, karena selama ini, pak Parjo sama sekali tidak pernah memarahi nya dan selalu membelanya, tapi kali ini pak Parjo sudah berani menampar wajahnya dengan begitu kerasnya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Wanita Berkubang Dosa
#Cinta berbalut Nafsu
__ADS_1
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️