Wanita Berkubang Dosa

Wanita Berkubang Dosa
Bab 22


__ADS_3

"Gimana Yan? Biar Septi ikut aku saja, aku akan menjamin kebutuhannya dan akan merawatnya dengan baik." Mas Adi sangat berharap aku mengiyakan keinginannya membawa Septi bersamanya.


"Aku gak bisa putusin ini sendiri, Mas. Harus minta ijin dulu sana Ibuku, kamu tau sendirikan, kalau selama ini Septi diasuh oleh ibuku." 


"Iya, aku tau. Tapi ibumu lagi sakit, kasihan. Sementara biar Septi bersamaku dulu, nanti kalau ibumu sudah sehat, kamu mau bawa Septi lagi juga gak papa, aku hanya kepikiran sama anakku saja, takut disini tak terawat." Dengan lancarnya mantan suamiku itu mengutarakan uneg unegnya, secara tak langsung dia sudah menyindirku tak becus menjaga anaknya. "Apa katamu mas, Septi tak terawat? Lihat, badannya saja gemuk kayak gitu, kamu bilang tak terawat, jangan asal ngomong kamu." Balasku tak terima. Enak saja dia bicara sesukanya, meskipun aku tak begitu dekat dengan anakku, tapi ibuku begitu menyayangi Septi dan merawatnya dengan penuh cinta.


"Itukan karena ada ibumu yang ngerawat, sekarang ibumu sakit, aku gak yakin kamu bisa ngurus Septi dengan baik." Sekali lagi mas Adi sudah merendahkan diriku, tapi jika aku tetap mempertahankan Septi, yang ada aku akan kerepotan menjaga anak itu, dan tidak bisa senang senang dengan laki laki diluaran. "Kalau mau bawa Septi, bawa baik baik, tidak usah mencari alasan untuk menjelekkan aku, kamu, Mas." Balasku tak terima dan menahan kesal dengan laki laki kurus di depanku. "Sebentar, aku akan minta ijin dulu pada ibuku, kalau dibolehkan, bawa saja anakmu itu, awas saja kalau denganmu dia jadi kurus karena kamu yang gak bisa merawatnya." Terlihat mas Adi menghela nafasnya dalam dan terlihat kebencian yang masih tersimpan di kedua bola matanya padaku, apa kamu pikir aku perduli, gak sama sekali.


"Bu!" Ibu membuka matanya, dan langsung melihatku dengan wajahnya yang terlihat masih pucat. "Mas Adi, mau bawa Septi selama ibu sakit, nanti kalau ibu sudah sembuh, Septi akan di antar lagi kesini. Gimana, ibu ijinin?" Ucapku hati hati, karena aku tau, ibu sangat menyayangi cucunya itu.


Ibu hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju, tapi terlihat air matanya mulai turun, pasti ibu sedih karena akan jauh dengan cucunya. "Ibu jangan nangis, ini cuma sementara, ibu kan harus istirahat biar cepat sehat lagi." Aku berusaha menenangkan kegelisahan ibuku, gak ingin sakitnya makin parah karena banyak pikiran.


Akupun kembali menemui Mas Adi yang masih setia menunggu di ruang tamu, nampak Septi sudah berada diatas pangkuannya, dengan membawa tas berisi baju ganti dan keperluan Septi aku berjalan mendekati mantan Suamiku itu dengan wajah tak ramah. Jujur masih kesal karena dia sudah meremehkan ku.


"Ibu sudah mengijinkan, ini baju ganti dan peralatan mandi serta botol susunya Septi. Aku titip Septi, jaga baik baik, awas saja kalau dia sampai kenapa kenapa."


"Kamu tenang saja, Septi anakku, aku akan menjaganya, bahkan lebih baik dari kamu." Huh, dasar laki laki sombong, ganteng juga tidak, kere lagi. Tapi sok banget gayanya.


Mas Adi mulai menggendong Septi dengan gendongan, lalu membawanya pergi dengan mengendari montor dengan tas yang ditaruh di depan. Aku hanya melihatnya dari depan pintu, tanpa mau mengantarnya sampai keluar halaman. Setelah kepergian mantan Suamiku, aku kembali melihat ibu dikamar, terlihat ibu kesusahan bernafas, aku panik dan keluar mencari bantuan.


Bu Minah dan pak Samsul langsung datang setelah mendengar teriakan ku, pun terlihat Bu Yuli juga pak Beno datang menyusul.

__ADS_1


"Ada apa, Yan? Kenapa kamu teriak teriak, kenapa dengan ibumu?" Tanya Bu Minah terlihat ikut cemas. "Itu, ibuku Bu, sesak nafas aku takut ibu kenapa-kenapa." Jawabku gemetar, dan langsung saja para tetanggaku itu langsung ikut masuk, dan melihat keadaan ibu yang semakin parah.


"Ya Alloh, Bu Sumi." Teriak Bu Yuli.


"Pak, bawa saja kerumah sakit, ini sudah parah, ayo cepat pak ambil mobil " Bu Yuli bicara dengan pak Samsul yang langsung di iyakan oleh pria paruh baya itu, pak Samsul langsung berlari keluar untuk mengambil mobilnya, sedangkan aku mulai menyiapkan surat surat penting yang nanti pasti dibutuhkan, dan Bu Minah membantu memasukkan baju ganti dan keperluan lain untuk dibawa kerumah sakit.


Hanya butuh waktu sepuluh menit, Kami sampai di rumah sakit, dan ibu langsung dibawa ke IGD, ibu ditemani Bu Minah dan Bu Yuli, sedangkan aku mengurus pendaftarannya. Kata dokter ibu terkena serangan jantung dan harus masuk di ruangan ICU untuk menjalani perawatan. Ya Tuhan apakah separah ini sakit ibuku.


Setelah ibu dipindahkan ke ICU, Bu Minah dan Bu Yuli juga para suaminya, berpamitan pulang, aku menitip pesan untuk menyampaikan pada bapak tentang keadaan ibu juga menitipkan Lara pada Bu Yuli, sementara aku masih menjaga ibu dirumah sakit.


Ibu masih tak sadarkan diri, tubuhnya sudah terpasang alat alat medis, rasanya sedih sekali melihat ibuku terbaring lemah kayak gini.


Pukul lima sore, bapakku sudah datang menyusul kerumah sakit, dan aku pun ganti berpamitan pulang dengan alasan Lara tidak ada yang menjaga dirumah, lagian di ICU tidak boleh banyak yang jaga, harus satu orang saja.


Sudah tiga hari ibu dirawat di rumah sakit, dan keadaannya masih belum ada perubahan, tetangga datang silih berganti untuk menjenguk, bahkan ibu mendapat uang amplop yang cukup banyak dari para penjenguk. Aku mengambil uang itu dan hanya memberikan sedikit untuk pegangan bapak. Karena aku lebih membutuhkan dari pada mereka, bapak bisa makan dirumah sakit dari jatah ibu, sedangkan ibu sudah kenyang dari infusnya dan orang sakit pasti tak enak makan. Jadi uangnya lebih baik aku yang simpan. Aku hanya menjenguk ibu sebentar saja, setelah itu pulang, karena akhir-akhir ini aku sering merasakan pusing dan mual, mungkin aku masuk angin karena kelelahan.


Seharian aku tidak kuat bangun dari tempat tidur, kepalaku terasa pusing sekali, dan mual ini sangat menyiksaku, aku makin panik saat teringat aku sudah telat hampir dua Minggu, belum juga menstruasi. Aku menyuruh Lara anakku membeli testpack di apotik dekat rumah, saat aku test ternyata hasilnya positif. Aku hamil tanpa tau siapa ayah anak ini, duh apa yang harus aku lakukan.


Kenapa ini bisa terjadi, saat ibuku sakit aku hamil tanpa seorang suami, apa kata tetanggaku, pasti ibu akan marah, tau aku mengulangi kesalahan yang dulu. Apa aku gugurkan saja, mumpung masih sangat muda.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️

__ADS_1


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Wanita Berkubang Dosa


#Cinta berbalut Nafsu

__ADS_1


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2