Wanita Berkubang Dosa

Wanita Berkubang Dosa
episode 49


__ADS_3

"Yasudah gini saja. Yang penting mbak Lara nanti sampai Kediri dulu. Kalau sudah sampai, pasti di stasiun banyak tukang ojek dan tukang becak, mbak naik saja ojek atau becak buat pulang ke alamat rumahnya.


Ini saya ada uang, nanti buat mbak Lara naik ojek." Pak Kodir menyerahkan uang lima puluh ribu pada Lara untuk nanti naik ojek, dan pak Supri juga memberikan uang lima puluh ribu pada Lara untuk tambahan.


"Semoga sampai di rumah ya mbk, hati hati. Kami permisi dulu.


Nanti naik keretanya bisa minta bantuan atau tanya sama petugas yang ada." pak Supri memberikan nasehat dan dijawab anggukan oleh Lara dengan air mata yang sudah menetesi pipinya, ternyata masih ada orang baik yang menolongnya lepas dari kekejaman Antok.


Kereta jurusan Kediri yang akan ditumpangi Lara sudah datang, Karena baru pertama kali Lara naik kereta, Lara bingung, tidak tau bagaimana caranya.


Dan untungnya ada ibu ibu paruh baya yang mau membantu Lara dengan menunjukkan dia harus naik ke gerbong mana yang sesuai dengan karcisnya.


Lara duduk dengan hati yang lega, namun pikirannya menerawang pada nasib yang menimpa dirinya selama ini.


Lara menyenderkan tubuhnya di bangku kereta, menutup mata karena kepalanya masih terasa pusing. Hampir tiga jam lebih perjalanan Surabaya Kediri, akhirnya Lara sampai di stasiun kota Kediri.


Lara berjalan pelan dan bertanya pada petugas yang ada jalan keluar.


Setelah sampai diluar stasiun, ternya banyak tukang ojek dan becak yang mangkal di depan stasiun. Lara tersenyum lega. Akhirnya dia bisa pulang dengan mudah.


Lara berjalan menghampiri bapak tukang ojek yang sudah agak tua.


"Permisi, pak!


ojek ya?" tanya Lara lirih, dengan wajah lelahnya.


"Iya, mbak!


Mau diantar kemana?" sahut bapak paruh baya dengan sikap ramahnya, matanya menelisik penampilan Lara yang sederhana dengan perut buncitnya, iba itu yang dirasa bapak ojek.


"Bisa antar saya ke kampung baru?


berapa ongkosnya?" sahut Lara, berharap ongkosnya tidak terlalu mahal, karena dia harus irit, uangnya hanya pas pasan.


"Dua puluh ribu saja, kusus buat bumil!" sahut tukang ojek yang sengaja memudahkan tarifnya, karena kasihan melihat Lara, perutnya besar dengan baju akan kadarnya, dan terlihat wajahnya yang muram.

__ADS_1


"Alhamdulillah, tolong antarkan saya ya pak kalau begitu." sahut Lara dengan senyuman mengembang.


Hampir tiga puluh menit perjalanan antara stasiun ke rumahnya Pak Parjo, Lara bernafas lega setelah sampai di depan halaman rumahnya. Terlihat pak Parjo sedang duduk melamun sendirian dikursi depan rumahnya.


Lara membayar ongkos ojek dan mengucapkan banyak terimakasih, lalu berjalan pelan menuju ke arah laki laki tua yang belum menyadari kedatangannya. "Bapak!" panggil Lara dengan suara bergetar.


"Lara!


Itu kamu, nduk?


Ya Alloh, Lara!" sambut pak Parjo dengan tatapan tak percaya, cucu yang selalu dia pikirkan kini sudah berada di hadapannya dengan kondisi yang memprihatinkan.


Pak Parjo dan lara berpelukan, keduanya menumpahkan rasa rindu dan saling menangis haru. "Apa kabar kamu, nduk?" tanya pak Parjo sambil menelisik penampilan Lara dengan dahi mengerut.


"Kamu baik baik saja kan?


Kaku pulang sendirian?" sambung pak Parjo ingin menuntaskan rasa penasarannya.


"Iya pak, Lara kabur dari mas Antok.


"Bapak sudah duga ini bakalan terjadi. Kenapa kamu masih mau mempertahankan laki laki gila itu. Harusnya biarkan dia pergi sendiri dari rumah ini. Sekarang kamu baru menyesalkan?" sahut pak Parjo sendu, meratapi nasib Yani dan Lara yang begitu mirisnya.


"Yasudah, sekarang kita masuk dulu ke dalam. Kamu sebaiknya istirahat dulu. Sudah makan belum?


Dirumah tadi bapak masak sayur sop, kamu makan sana." sambung pak Parjo penuh perhatian. Bersyukur akhirnya Lara sadar dan meninggalkan Antok yang memiliki sikap buruk.


Lara menuruti perintah pak Parjo. Lara memang belum makan sama sekali, hanya dengan sayur sop dan lauk tahu tempe, Lara makan dengan sangat lahap. Membuat pak Parjo semakin sesak dadanya, pasti Lara sangat menderita saat hidup dengan suaminya yang gila itu, batin pak Parjo sedih d Ngan mata yang berkaca kaca.


Setelah selesai menghabiskan makanannya.


Lara pamit untuk merebahkan tubuhnya, karena perutnya terasa sakit, mungkin karena capek dan beban pikirannya yang rumit.


Lara merebahkan tubuhnya diatas kasur depan televisi, rasanya sangat nyaman. Tania terasa Lara sudah terlelap Karena tubuhnya benar benar lelah.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️

__ADS_1


Sedangkan di lain tempat, Antok sedang kebingungan mencari keberadaan Lara yang tidak ada di kontrakan. Antok bertanya tanya pada tetangga kontrakan, tapi semua bilang tidak ada yang tau. Padahal semua tau kalau Lara sudah pergi dan diantar oleh pak Supri.


Antok yang mulai memainkan dramanya, pura pura sedih dan mengarang cerita dengan menjelekkan Lara dihadapan semua orang. Tapi tidak ada satupun yang mau menanggapi ocehan Antok. Para tetangga memilih pergi dan mengabaikan Antok, membuat lelaki itu geram dan kembali masuk ke dalam kontrakannya dengan rasa jengkel.


"Kurang ajar kamu, Ra!


Berani beraninya kamu pergi tanpa ijinku. Awas saja kamu, aku akan memberimu pelajaran yang lebih menyakitkan dan membuatmu tak lagi berani melawanku." gumam Antok dengan wajah memerah dan mengepalkan kedua tangannya erat.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Wanita Berkubang Dosa


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️

__ADS_1


__ADS_2