
"Jangan pernah bikin ulah lagi. Kalau masih kamu ulangi, dan aku tau. Siap siap aku tendang dan jangan pernah kembali ke kampung sini lagi.
Kami semua sudah muak mendengar ocehan mu tiap hari. Kamu tinggal di kampung yang punya adab juga tata Krama, jangan bersikap seperti kamu tinggal di hutan yang penghuninya cuma hewan! Paham?" tekan Ari sekali lagi, dan menyuruh Antok pergi dari hadapannya.
Sedangkan Antok hanya tertunduk, tidak berani sama sekali menatap ke wajah Ari.
Padahal kalau dirumah, sikapnya begitu bengis dan pongah Pada Lara juga pak Parjo.
Antok memilih diam dan tak berani melawan Ari.
Tapi saat dirumah tiba tiba Antok menampar wajah Lara berulang kali dan membuat Lara menangis histeris.
Bapak bapak yang masih berdiri di depan rumahnya Ari kembali di kejutkan dengan teriakan kesakitan Lara dan terdengar suara Parta meninggi.
Karena penasaran dan masih menyimpan rasa geram, Ari juga bapak bapak berjalan beriringan menuju rumah pak Parjo.
Melihat Lara tersungkur dengan perut buncitnya.
Membuat bapak bapak semakin terbakar emosi.
Kelakuan Antok sudah tak bisa lagi didiamkan.
Melihat kedatangan Ari dan bapak bapak tetangganya, pak Parjo menatap sedih.
"Tolong, bantu saya bapak bapak. Dia sudah kasar sama aku juga anak anakku. Selama ini aku diam, tapi semakin dia injak injak.
Ini rumahku, tapi dia merasa berkuasa dan ingin mengusirku, bahkan berani memukulku sampai seperti ini.
Dan dia juga sering menganiaya Lara, bahkan hampir tiap hari Lara di pukul nya.
Saya mau dia pergi dari rumah ini." Pak Parjo menyimpan amarah yang begitu besar, hingga matanya memerah dan mulutnya gemetar saat mengatakan perbuatan Antok selama ini.
"Tolong, panggil pak RT, pak!
Biar saya yang disini buat perhitungan sama laki laki biadab ini!" Ari meminta salah satu tetangga untuk memanggil pak RT.
Matanya tajam menatap Antok yang menunduk, nyalinya mendadak ciut kalau sudah berhadapan dengan Ari.
"Lara, apa kamu masih ingin bertahan sama laki laki mental tempe kayak dia?
Kalau kamu masih ingin mempertahankan laki laki ini. Maka kalian harus pergi dari kampung ini.
__ADS_1
Karena kami tidak mau terus merasa tidak nyaman dengan kelakuan suamimu ini.
Gayanya sok jagoan, sebelum aku semakin hilang kendali. Pergilah!
Kalian juga bukan penduduk sini, tidak ada KTP ataupun KK kalian kan?" Ari menyorot tajam pada Antok yang sama sekali tak berani berkutik.
Sedangkan Lara yang masih cinta sama Antok merasa bingung harus ikut tapi pergi atau tetap dirumah ini dan berpisah dengan Antok.
"Tinggalkan saja laki laki rendahan itu, Ra!
Biar dia jadi gelandangan di luar sana. Tidak punya rumah dan tidak punya apa apa saja gayanya sudah sok seperti jagoan." sahut pak Parjo yang sudah muak dengan sikap menantunya yang gila itu.
Antok mengepalkan tangannya kuat, kalau saja tidak ada Ari disitu, mungkin dia sudah memukul mertuanya dan menggampar Lara. Karena ada Ari, nyali Antok menciut, dan menahan kemarahannya.
Tak berselang lama, pak RT dan beberapa pemuda datang dan menatap Antok tak suka.
"Silahkan masuk pak, mas!" sambut pak Parjo pada tamu tamunya.
Ari menyalami pak RT dan menjelaskan semuanya tanpa terkecuali. Pak RT mengerti dan harus bagaimana bersikap, karena semua warganya memang sudah mengeluh karena ulahnya Antok.
"Kami sepakat untuk mengusir mas Antok dari kampung ini. Karena sering membuat keributan dan kekerasan. Lagi pula sampean juga bukan penduduk RT di sini.
Dan jangan pernah kembali lagi di kampung ini, karena kami akan bertindak tegas kalau sampai mas Antok menampakkan wajahnya di kampung ini. Sudah cukup kamu bersabar dengan kelakuan kamu selama ini.
Tapi kalau memutuskan berpisah mbak Lara tetap di ijinkan tinggal di rumah pak Parjo, karena memang kak Parjo adalah kakeknya mbak Lara. Tapi juga dengan satu syarat, harus merubah sikapnya.
Dan ini juga berlaku untuk mbak Yani, kami semua sebenarnya risih dengan kelakuan mbak Yani, jadi mohon maaf kalau kamu harus bertindak tegas.
Kamu tidak mau kampung jadi kotor oleh kelakuan segelintir orang yang bersikap semaunya tanpa tau adab!" pak RT bicara panjang lebar, dan menatap bergantian ke arah Antok, Lara, dan juga Yani yang terlihat menunduk.
"Gimana pak Parjo, apa bapak setuju d Ndan keputusan warga?" pak RT beralih menatap pak Parjo dengan iba.
"Setuju pak RT! lagian saya juga sudah capek dengan kelakuan mereka. Dan saya juga sudah gak mau Antok dirumah ini, cuma bikin rusuh dan hidupku semakin tersiksa." sahut pak Parjo dengan amarah yang tersisa. Menatap benci pada Antok.
"Baiklah! kalian dengarkan apa yang sudah kamu putuskan?
Silahkan pergi dari rumah ini. Untuk mbak Lara silahkan putuskan, ikut mas Antok atau tetap disini?" pak RT menatap Lara dan terlihat Lara bingung, gak tau harus bagaimana.
Dan pada akhirnya Lara memutuskan untuk ikut dengan Antok, dan membuat semua orang tercengang, menggelengkan kepalanya, tak menyangka Lara bisa punya pemikiran sebodoh itu. Rela mempertahankan laki laki yang bahkan terus menyiksanya.
"Baiklah jika itu keputusan mbak Lara. Itu artinya mbak Lara juga harus pergi dari rumah mau ini." sahut pak RT tegas.
__ADS_1
Dan terlihat lara memasuki kamarnya, memasukkan baju miliknya ke dalam tas dan mengajak Antok pergi.
Mereka pergi dengan makan kaki karena memang Antok tak memiliki apapun.
"Dasar kurang ajar semua, bapakmu juga kurang ajar, dia sudah berani mengusirku. Awas saja!" maki Antok saat mereka tengah berjalan di gelapnya malam.
Lara memilih diam, takut kalau kalau Antok kembali mengamuk dan memukulnya.
"Sekarang kira mau tidur dimana, bodoh?" teriak Antok pada Lara yang sudah ketakutan.
Menyesal tadi memilih ikut dengan Antok, nasibnya pasti akan jauh lebih menderita setelah ini.
Karena tak punya arah tujuan, Antok mengajak Lara pergi ke kos temannya. Berniat menumpang tidur untuk makan ini saja. Besok pagi baru mau cari kontrakkan.
Antok yang masih sakit hati menyimpan dendam di hatinya dan akan membuat perhitungan dengan keluarga Lara. Untuk membuat masalah pada Ari tentu Antok tak akan berani, bisa bisa dia yang terkena masalah dan masuk penjara. Karena Ari bukan orang sembarang dan punya kuasa. Sedangkan keluarga Yani cuma orang biasa dan sangat mudah di gertak.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Wanita Berkubang Dosa
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️