
Pak Parjo menarik nafasnya dalam lalu menghembuskan secara kasar, matanya terlihat sudah berkaca kaca.
Mengingat seperti apa jalan hidup yang dipilih Yani, anak yang dari bayi begitu disayanginya dan sangat dimanja, sehingga lupa untuk mendidiknya agar tumbuh jadi perempuan yang baik.
"Ini semua salahku juga almarhumah yang selalu memanjakan dan menuruti semua keinginan Yani.
Bahkan kami tidak bisa memarahi anak itu kalaupun dia melakukan kesalahan. Dan sekarang aku benar benar menyesal, semua sudah terlambat. Yani sudah tak lagi bisa diluruskan. Kalaupun aku menegurnya dia akan justru balik marah dan bahkan tidak menggubris sama sekali teguranku, sebagai bapak aku tidak dihargai sama sekali." curhat pak Parjo dengan tetes bening yang mulai turun membasahi wajah keriputnya.
Pak Dodo merasa iba melihat nasib pak Parjo. Dihari tuanya dia harus menanggung beban seberat ini.
"Yang sabar ya, Pak!
Semoga Yani segera dapat hidayah dan bisa kembali ke jalan yang benar." balas pak Dodo miris, tak mau banyak bicara, karena itu akan membuat pak Parjo semakin sedih bahkan tertekan.
"Kalau begitu saya pamit dulu ya pak!
Takutnya istri nyariin, bisa kena omel nanti." pak Dodo berkelakar dan beranjak dari tempat duduknya, pergi meninggalkan pak Parjo dalam kekalutannya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sedangkan di lain tempat, Yani tengah bersama laki laki salah satu dari pengamen temannya.
Bahkan Yani mengajak Lara bersamanya, Yani yang sudah tak lagi punya pikiran waras, Yani melakukan hubungan badan di depan Lara. Berniat untuk mengajari anaknya agar menirunya biar bisa mencari uang dengan mudah tanpa harus bersusah payah.
Setelah hari itu, Lara selalu teringat dengan apa yang dilihatnya, dan pada akhirnya Lara juga melakukan perbuatan yang sama seperti yang Yani lakukan bersama salah satu pemain angklung.
Semakin hari semakin tak terkendali dan Lara akhirnya juga hamil tanpa suami.
Namun laki laki bernama Antok yang menghamili Lara mau menikahinya secara siri.
Namun setelah menikah bukannya hidup Lara bahagia tapi justru lebih menderita, karena Antok adalah laki laki yang suka minum minuman keras dan ringan tangan.
Saat kondisi hamil, Antok sering kali memukul Lara, dan tiap hari selalu terdengar keributan yang dibuat oleh Antok.
Kondisi kampung yang awalnya adem ayem, dengan kehadiran Antok suaminya Lara, tiap hari selalu ada saja masalah yang dia buat.
Bahkan tengah malam selalu teriak teriak karena mabuk, tak jarang dia berantem dengan teman temannya. Sangat mengganggu ketentraman warga.
"Kenapa lagi itu suaminya Lara, tiap hari kerjanya teriak teriak?" omel Ari yang melihat tingkah laku Antok dari lantai atas bersama Harti.
__ADS_1
"Gak tau lah, mas!
Untung kita kamarnya di atas, jadi gak begitu terganggu, aku itu sebenarnya kesal dan gak nyaman loh, tapi bagaimana lagi, warga juga masih pada diam saja." sahut Harti yang menghembuskan nafasnya dalam.
"Besok aku akan bicara sama pak RT dan bapak bapak disini, kita harus bertindak tegas karena ini sudah meresahkan. Jujur aku itu sebenarnya gatal pingin gampar mulutnya itu." balas Ari dengan mimik kesal dan membuat Harti tertawa melihat suaminya terpancing emosinya.
"Jangan gegabah, mas!
Kecuali kalau warga sudah mencurahkan keresahannya, mas baru bertindak." Harti berusaha menenangkan suaminya yang mulai emosi.
Dan benar saja, saat Harti dan Ari tengah berbincang dari bawah terlihat Antok tengah berkelahi, adu jotos dengan kakak laki lakinya Yani.
Sedangkan Lara menangis, keributan yang berhasil membuat para warga sekitar keluar untuk melihat kegaduhan yang ada.
"Mas!" Harti mencekal lengan suaminya yang hendak turun, karena Ari sudah tidak tahan dengan sikapnya Antok yang sudah sangat keterlaluan.
"Kamu tetap disini saja. Aku akan turun dan memberinya pelajaran, agar dia tidak lagi bikin resah. Kalau kita diam saja, dia akan semakin menjadi. Percayalah, aku pasti akan bisa mengatasinya. Kamu lupa siapa suami kamu ini, hmmm?" sahut Ari dan mengecup pipi istrinya lembut.
Mau tidak mau, Harti melepaskan tangannya dan membiarkan suaminya turun untuk melerai keributan yang dibuat anak menantunya pak Parjo.
"Ada apa ini?" suara bariton Ari langsung membuat Antok menghentikan aksinya, dia langsung keder karena tau siapa yang kini tengah berdiri di hadapannya. Laki laki tinggi tegap dan berprofesi sebagai anggota TNI yang sangat disegani.
"Ada masalah apa, kenapa sampai mas Parta adu jotos dengan Antok?" kembali Ari bertanya dan masih di posisi yang sama, tangannya mencengkram wajah Antok yang mulai pias.
"Dia sudah kurang ajar, Mas!
Masak bentak bentak bapakku dan nyuruh bapakku untuk keluar dari rumahnya, wong dia itu cuma orang lain yang baru masuk, kok sikapnya sudah kayak yang punya rumah.
Bapak juga habis dia pukul, ya jelas aku tidak terima." jelas Parta berapi api mengatakan apa yang membuatnya murka ingin menghajar suami siri keponakannya itu.
Suara suara warga terdengar geram dengan sikapnya Antok, memang terlihat dia begitu kasar pada Lara, tapi ternyata juga berani berbuat keterlaluan pada pak Parjo yang harusnya dia hormati.
"Kurang ajar!"
Bugh! Bugh!
Ari melayangkan pukulan ke wajahnya Antok dan membuat Antok meringis kesakitan, bibirnya mengeluarkan darah karena pukulan yang dilayangkan Ari.
"Jangan lagi macam macam kamu disini.
__ADS_1
Sekali saja aku mendengar kamu berulah, akan aku habisi kamu!" tekan Ari yang kesal dengan kelakuan Antok karena berani memukul pak Parjo.
"Tolong maafkan suamiku, Pak Ari." Isak Lara yang mendekat ke arah suaminya. Dan Ari hanya bisa mendengus kesal dengan lara yang masih mau melindungi suaminya yang seringkali berbuat kasar pada dirinya.
"Jangan pernah bikin ulah lagi. Kalau masih kamu ulangi, dan aku tau. Siap siap aku tendang dan jangan pernah kembali ke kampung sini lagi.
Kamu semua sudah muak mendengar ocehan mu tiap hari. Kamu tinggal di kampung yang punya adab juga tata Krama, jangan bersikap seperti kamu tinggal di hutan yang penghuninya cuma hewan! Paham?" tekan Ari sekali lagi, dan menyuruh Antok pergi dari hadapannya.
Sedangkan Antok hanya tertunduk, tidak berani sama sekali menatap ke wajah Ari.
Padahal kalau dirumah, sikapnya begitu bengis dan pongah Pada Lara juga pak Parjo.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Wanita Berkubang Dosa
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1