
Gina dan Rio menyusuri kebun teh yang terbentang sangat luas.Sesekali Gina mengajak Rio untuk berfoto selfi ataupun memoto dirinya.
"Sayang apa kamu tidak capek,ini sudah satu jam loh kita jalannya.Mas aja sampai bingung harus jalan kearah mana untuk pulang ke villa.Semua jalan terlihat sama."
Rio melihat sekeliling,yang terlihat hanya kebun teh dan beberapa orang yang sedang bekerja memetik daun teh.
"Tapi Gina belum capek mas,gina masih ingin jalan-jalan."
"Ini sudah sore sayang lebih baik kita pulang ke villa.Besok kan kita masih bisa jalan-jalan lagi."
Rio membujuk Gina agar mau pulang.
Gina melihat jam yang ada ditangannya.Sudah menunjukan pukul empat sore.
"Ya udah kita pulang tapi besok kita jalan-jalan laginya!Ayo kita tanya orang yang sedang bekerja itu jalan pulang ke villa."
Gina mengandeng tangan Rio dan berjalan bergandengan mendekati seorang perempuan paruh baya yang sedang memetik daun teh.
"Permisi bu,nompang tanya jalan ke villa kearah mana bu?"
Ibu yang ditanya oleh gina memandangi mereka lalu tersenyum.
"Villa yang mana nak,disini ada beberapa villa.Villa mana yang kalian cari?"
Gina dan Rio saling melihat.Karna mereka tidak tau villa mana yang mereka cari.
"Kalau villa yang terdekat dari sini dimana bu?Karna saat di villa kami bisa melihat kebun teh ini."
Ibu itu kembali tersenyum.
"Kalian baru pertama kali datang ke kampung ini ya?"
"Iya bu,kebetulan ayah saya baru membeli Villa di daerah sini."
"Maaf nak,semua villa yang ada di kampung ini berada di dekat perkebunan teh.Karna hampir dari seluruh kampung ini dijadikan perkebunan teh.Memang kalau orang yang baru datang ke kampung ini akan bingung karna hampir semua terlihat sama."
Gina dan Rio kembali saling pandang.Mereka kembali memandang kesekeliling.Benar kata ibu itu sejauh mata memandang hanya perkebunan teh yang terlihat.Seakan-akan semua bumi ini ditutupi oleh perkebunan teh.
Disaat Gina dan Rio berbicara dengan ibu itu,terdengar ada orang yang memanggil nama Gina.
__ADS_1
"Gina..!"
Mendengar ada yang memanggilnya,Gina menoleh dan Gina sangat senang melihat orang yang dikenalnya.
"Sony...!Kebetulan sekali kita bertemu disini.Kamu kenapa ada disini?"
"Gue lagi mengunjungi kakek gue yang tinggal di villa di kampung ini.Kalau kalian sedang apa disini?"
"Kita lagi liburan disini,tapi kami kesasar karna jalan disini hampir sama semua seperti labirin."
Gina tersenyum malu,karna sudah sebesar ini masih bisa kesasar juga.
"Emangnya kalian tinggal di villa mana?Disini ada beberapa villa."
Adiguna bertanya pada Gina.Gina memandang kearah Adiguna dan kembali melihat kearah Sony.Tatapan Gina seakan bertanya pada Sony siapa Adiguna.
"Oh..!Kenalkan ini kakek gue,kakek Adiguna.Kek kenalkan ini Gina teman Sony dan ini suaminya Rio."
Sony memperkenalkan mereka.Mendengar nama Adiguna membuat Rio secara reflek menatap Adiguna dengan seksama.Menyadari Rio menatapnya membuat Adiguna bertanya pada Rio.
"Kenapa nak,apa kita saling kenal?"
Mengetahui kalau Rio adalah cucu dari sahabatnya Rahman sanjaya,Adiguna menepuk bahu Rio dengan wajah berseri.
"Wah kamu sudah besar dan gagah seperti kakek mu,Rahman sanjaya.Dulu semasa muda Rahman persis seperti kamu."
Rio heran melihat sikap Adiguna yang tidak terlihat memendam kebencian sedikitpun padanya.Malah terlihat sangat ramah dan bersahabat.
"Bukankah Bima bilang kalau Adiguna membenci Ayah tapi kenapa dari sikapnya dan tatapannya tidak terlihat ada kebencian sama sekali.Atau jangan-jangan dia lagi bersandiwara.Agar tidak terlihat mencurigakan.Tapi kalau memang iya, dia sedang bersandiwara,sungguh hebat akting tuan Adiguna ini.Dia terlihat benar-benar tulus."
Rio hanya diam tidak menanggapi ucapan Adiguna.Rio sibuk dengan fikirannya sendiri.
Gina menyenggol tangan Rio,karna melihat Rio yang hanya diam saja sambil memandangi wajah Adiguna.
"Maaf kan mas Rio kek,mungkin mas Rio lagi bingung memikirkan cara pulang ke villa."
Gina memberi alasan ,takut Adiguna tersinggung karna di cuekkin Rio.
Adiguna hanya tersenyum mendengar alasan yang di buat Gina.
__ADS_1
"O..iya kalian tinggal di villa apa,mungkin kakek tau dimana villa kalian.Kebetulan kakek sudah lama tinggal di kampung ini."
"Gina nggak tau kek.Tadi karna terlalu senang,saat baru sampai di villa Gina langsung jalan-jalan jadi lupa deh,nanya ayah nama villa tempat tinggal kita."
Gina kembali tersenyum malu.Karena kelakuannya seperti anak kecil yang baru dapat mainan baru,jadi lupa dengan segalanya.
"Emang ya kalian kesini sama siapa?"
Kali ini Sony yang bertanya.Sedangkan Rio hanya diam saja.
"Kami datang bersama ayah!"
"Kalau begitu kamu telpon tuan Dedi dan tanyakan nama villa dimana kalian tinggal.Jadi kami bisa mengantar kalian ke sana."
Sony memberi saran.
"O..iya..ya!Bodohnya(Gina memukul keningnya sendiri.)Kenapa tidak kepikiran dari tadi."
Gina mengambil ponselnya dari tas kecil yang mengantung dibahunya dan menelpon Dedi Sanjaya.
"Hallo ayah.Gina mau nanya,nama villa tempat kita tinggal apa yah?Gina dan mas Rio kesasar,saat Gina tanya orang sekitar,katanya disini ada beberapa villa jadi mereka tanya villa yang Gina maksud."
"Tidak usah ayah,Gina dan mas Rio bisa ko' pulang sendiri,ayah tidak usah khawatir.Gina dan mas Rio baik-baik saja."
Setelah berbicara berapa menit dengan Dedi sanjaya,Gina menutup telponnya.
"Villa alam damai kek,kita tingal di sana."
Gina memberi taukan nama villa dimana mereka tinggal pada Adiguna.
"O..Villa alam damai.Kalau begitu kita pulang sama-sama saja karna villa kita berdekatan.Villa kalian hanya berjarak lima ratus Meter dari villa tempat kakek tinggal."
Karna tujuan mereka searah mereka berjalan bersama sambil berbincang -bincang.Rio yang masih sibuk dengan hal-hal yang ada difikirannya hanya diam saja dan sesekali melirik kearah Adiguna seakan-akan mencoba mencari sesuatu yang mencurigakan dari gerak-gerik ataupun tatapan dari Adiguna.
Sebenarnya Sony dan Adiguna menyadari sikap Rio yang selalu memperhatikan Adiguna secara diam-diam.Tapi mereka pura-pura tidak mengetahuinya.Hanya saja Adiguna merasa heran kenapa Rio begitu menaruh curiga padanya.
Bersambung...!
****
__ADS_1