
Gina,Rio,Sony,Adiguna dan Saripah berangkat menuju pemandian air panas.Dalam perjalanan mereka melewati hamparan kebun teh yang luas dan para pekerja pemetik teh yang siap untuk memulai aktivitasnya.
Gina melihat keluar jendela mobil menikmati pemandangan indah yang sangat jarang dilihatnya.Gina tidak melewatkan sedikitpun pemandangan yang ada didepannya.Gina menurunkan kaca mobil agar dapat melihat pemandangan yang indah itu dengan jelas.Terpaan angin langsung menyentuh wajah cantiknya dan membuat rambutnya yang terurai berantakan tertiup angin.
Gina sangat menikmati perjalanan menuju pemakaian air panas yang lumayan agak jauh dari villa mereka.Tapi seketika pandangannya tertuju pada beberapa pekerja kebun teh yang duduk di sebuah saung,mereka terlihat sedang menikmati sarapan sambil berbincang dan tertawa.
Tiba-tiba Gina memegang perutnya.
"Mas Rio Gina lapar."
Rio yang ada disampingnya melihat kearah Gina yang masih melihat keluar .
"Apa sayang?"
Rio tidak mendengar jelas apa yang diucapkan oleh Gina.
"Sony berhenti sebentar!"
Bukan menjawab pertanyaan Rio,Gina malah meminta Sony untuk berhenti.
Sony menghentikan laju mobilnya 100 meter dari pekerja yang sedang sarapan sebelum memulai bekerja.Memang pekerja sering sarapan bersama-sama di saung yang ada di kebun teh karna menurut mereka makan di saung lebih nikmat.
Setelah mobil berhenti,Gina langsung turun dan berjalan mendekati para pekerja.Rio juga turun dan mengikuti Gina.Adiguna ,Sony dan Saripah ikut turun dan mengikuti Gina dan Rio dari belakang.
Gina berhenti kira-kira lima meter dari pekerja dan terus menatap makanan yang sedang dinikmati para pekerja itu.Karena asyik menikmati makanan,para pekerja itu tidak menyadari kedatangan Gina dan Rio. Rio melihat kearah tatapan Gina tertuju.
"Kamu lapar sayang?"
"Iya mas,tiba-tiba perut Gina lapar lagi."
Karna tadi sebelum berangkat mereka sudah sarapan terlebih dahulu.
"Ya sudah,ayo kita cari makan sekitar sini."
"Tapi Gina mau itu!"
Gina menunjuk makanan yang sedang di makan para pekerja itu.Rio kaget dan menatap Gina heran.
"Tapi itu makanan orang sayang,lebih baik kita cari makanan yang lain ya!Makanan yang lebih enak dari itu."
"Gina nggak mau mas,Gina mau itu."
Gina terus melihat para pekerja yang makan dengan lahap membuat Gina menelan ludahnya berkali-kali.Rio melihat itu dengan heran dan melihat makanan yang sedang disantap pekerja.Makanan sederhana yang menurutnya tidak terlihat menarik sama sekali.
__ADS_1
"Ada apa kenapa kalian berdiri disini?"
Adiguna berbicara saat mereka sampai ditempat Gina dan Rio berdiri .
Gina yang masih menatap para pekerja itu menjawab dengan lesu.
"Gina lapar dan mau makan itu."
Gina mengelus-ngelus perutnya yang lapar.Mendengar itu Adiguna sedikit heran tapi tetap melangkahkan kakinya melewati Gina dan Rio dan menghampiri para pekerja yang sedang makan.
Adiguna terlihat berbincang dengan para pekerja dan sesaat menuju kearah Gina dan kembali berbicara pada para pekerja.Setelah bicara pada pekerja Adiguna mendekati Gina .
"Para pekerja itu bersedia membagi makanannya.Ayo kita sana."
Gina langsung berjalan dengan semangat menuju saung.Gina sudah tidak sabar untuk menikmati makanan yang terlihat sangat enak di matanya.
Yang lain mengikuti Gina berjalan menuju saung.Para pekerja itu tersenyum menyambut kedatangan Gina dan mempersilahkan kan Gina untuk ikut makan dengan mereka.
"Silahkan nona."
Salah satu dari pekerja itu memberi piring pada Gina.Gina langsung mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk.Gina memakannya dengan lahap seakan-akan Gina sudah tidak makan berhari-hari.
Gina tidak mempedulikan orang-orang yang menatapnya dengan heran.Hanya Saripah yang tersenyum,karena Saripah mengerti dengan apa yang dialami Gina dan Saripah memiliki rencana dengan itu.
Pra pekerja itu juga menawarkan makanan pada Rio dan yang lainnya,tapi mereka menolak karna mereka nyakin makanan itu tidak akan cukup untuk mereka semua.Apalagi melihat cara makan Gina yang begitu lahap dan beberapa kali mengisi ulang piringnya yang sudah kosong.
"Terimakasih pak!Sudah memberi makanan untuk istri saya.Ini untuk bapak sebagai ganti makanannya."
Rio bicara sesopan mungkin,agar para pekerja itu tidak tersinggung.
Salah satu pekerja itu menatap Rio.
"Tidak usah pak,kami ikhlas berbagi makanan dengan istri bapak.Lagipula kami sudah terbiasa saling berbagi makanan."
"Tapi pak istri saya sudah menghabiskan semua makanan yang bapak- bapak punya.Jadi bapak tidak mempunyai makanan untuk siang nanti."
Rio sedikit memaksa bapak tersebut untuk menerima uangnya.Tapi masih dengan cara yang sopan.
Bapak itu tersenyum pada Rio.
"Bapak tidak usah khawatir nanti istri-istri kami akan mengantarkan makan siang untuk kami."
Bapak itu memberi penjelasan pada Rio,membuat Rio mengalah dan menyimpan kembali uangnya.
__ADS_1
"Kalau begitu terimakasih sekali lagi pak."
Rio kembali mengucapkan terimakasih.
"Trimakasih bapak-bapak sudah berbagi makanan dengan saya,masakan istri bapak-bapak sangat enak."
Gina juga mengucapkan terimakasih pada para pekerja itu."
Para pekerja itu mengangguk serentak.
Setelah mengucapkan terimakasih pada para pekerja itu mereka pamit dan ingin melanjutkan perjalanan mereka ke pemandian air panas.
Tapi entah mengapa selesai makan Gina sangat malas untuk berjalan.Jagankan untuk berjalan untu berdiri saja Gina merasa enggan.
"Gina,ayo sayang mereka sudah menunggu kita."
Adiguna,Sony dan Saripah sudah sampai dan masuk kedalam mobil tapi Gina masih saja duduk enggan untuk beranjak.Para pekerja pun sudah pergi untuk memulai pekerjaan mereka.
"Gendong...!!!!
Gina mengangkat kedua tangannya meminta Rio untuk mengendongnya.
"Sayang kamu ko'aneh sih hari ini."
"Apanya yang aneh,Gina kekeyangan mas dan malas untuk jalan,kalau mas Rio nggak mau gendong Gina yang sudah.Mas Rio pergi saja sana kepemandian air panas,biar Gina di sini saja."
Gina membuang wajahnya,merajuk.
Rio menarik nafas pelan lalu dengan sigap langsung menggendong Gina. Gina terkesiap saat Rio menggendong tanpa aba-aba tapi sedetik kemudian Gina langsung melingkarkan tangannya dileher Rio dan meletakkan kepalanya di dada Rio yang bidang.
Sony yang melihat dari dalam mobil memalingkan wajahnya.Sony tidak sanggup melihat kemesraan Rio dan Gina.Semua itu tidak luput dari perhatian Adiguna dan Saripah.Membuat mereka mengetahui perasaan Sony pada Gina.
Adiguna memukul-mukul punggung Sony pelan.Namun tidak mengucapkan apa-apa,Adiguna hanya ingin mengurangi sesak yang ada di dada Sony.
Bersambung...!!!
*****
Terimakasih sudah mampir dan jangan lupa tinggalkan
* like
* komen
__ADS_1
* Vote
biarlah lebih semangat up.