
Di kamar Arya, aku tak bisa tidur untuk istirahat. Pikiranku terus berarah pada keluarga Dina sahabatku. Ingin sekali rasanya aku memberitahukan mengenai ayahnya, namun aku takut sahabatku ini tak akan mempercayai aku dan menganggap aku pembohong. Papa Wijaya selalu di anggap seorang kepala rumah tangga yang penuh kasih sayang, wibawa, kehangatan, dan bertanggung jawab.
"Bagaimana bisa!"
Terdengar suara seorang lelaki diluar kamar sedang berbicara.
"Suara siapa itu? Itu bukan suara Arya." Ucapku sambil menguping pembicaraan orang yang ada di luar kamar.
Terdengar Arya sedang berdebat dengan seorang lelaki, ingin rasanya aku mengetahui apa yang mereka permasalahin dan siapa lelaki itu. Aku ragu untuk keluar kamar untuk mencari tahu siapa diluar sana yang bersama Arya.
"Bagaimana bisa kau pergi ke sebuah club malam dan membawa seorang wanita ke kamarmu, Arya!" Ucap lelaki itu dengan sedikit meninggikan suaranya.
Aku mendengar semua perkataan lelaki itu bersama dengan Arya. Dengan yakin, mereka sedang membicarakanku. Tapi siapa lelaki itu? Ah, apa dia teman Arya yang selalu bawa wanita kemari hanya untuk eksekusi?
Kreeeekkkk..
Suara pintu kamar Arya berisik sekali, ketika aku mencoba membuka pintu kamar arya perlahan. Kali ini semua pandangan Arya, lelaki yang berdebat dengannya, dan juga seorang wanita melirik kearahku. Aku merasa gugup seketika. Ingin rasanya aku menghilangkan diriku pada saat itu. Bodoh sekali aku.
"Oh jadi wanita ini yang sudah membuat Arya jadi ke club? Hei wanita ******, apa yang kau katakan pada sahabatku, sehingga dia jadi berani menginjakkan kakinya ke dunia malam dan membawamu kemari?!" Lelaki itu berkata padaku dengan wajah yang membuatku ketakutan.
"Jaga omonganmu, Raka!" Sekali tonjokan dari Arya telah melesat pada pipi sahabatnya itu.
"Kau membela wanita itu?!" Terlihat jelas Raka mulai emosi dengan tingkah Arya yang membelaku.
"Jelas! Dia jauh lebih baik dibandingkan setiap wanita yang kau bawa kemari! Ingat ini tempatku, jadi aku berhak membawa siapapun kemari!" Ucap Arya dengan sangat emosi.
"Ini bukan kau, Arya! Apa yang wanita ****** itu perbuat pada kau?!"
"Dia bukan wanita ******! Wanita yang kau bawalah yang wanita ******. Mereka demi uang mau saja di ajak tidur dengan lelaki manapun. Dan kau, kau lelaki murahan yang dengan setiap wanita di depan matamu kau emban juga!"
"Brengsek kau Arya!"
Mereka mulai meluapkan emosi mereka dengan pukulan demi pukulan..
"Hentikan! Ku mohon hentikan!" Aku ketakutan melihat perkelahian mereka dan membuatku menangis melihat kejadian itu.
__ADS_1
Mereka tak mendengarkanku, mereka terus memukul satu sama lain. Aku bingung harus bagaimana untuk menghentikan semuanya. Aku segera memeluk tubuh Arya dari belakang, mungkin dengan cara itu emosi Arya akan sedikit mereda.
"Ku mohon hentikan Arya." Ucapku sambil sesegukan.
"..." Arya yang sudah bersiap memberikan pukulan kembali pada Raka, akhirnya tak jadi memukulnya.
"Hah! Sok-sok menangis depan Arya untuk dapat belas kasihan? Arya bisa saja tertipu oleh air matamu, tapi denganku kau sama saja dengan wanita lainnya yang menjual dirinya demi uang! Kau sama kotornya!" Ucap Raka sambil mengelap darah yang keluar dari sudut bibirnya.
"Ngomong apa kau tadi?!" Arya kembali emosi mendengar perkataan sahabatnya itu.
"Sudaaaahhh!!!" Aku berteriak sekeras mungkin. Kepalaku mulai sakit akibat kejadian yang bertubi-tubi padaku. "Saya akui saya memang pekerja sebagai LC, tapi maaf tidak semua LC bisa kau rendahkan dan kau samakan! Anda belum mengenal saya jadi anda tidak berhak menjudge saya yang bukan-bukan!"
Aku dan Raka terus berdebat. Aku ingin mempertahankan harga diriku sebagai wanita yang sudah diinjak-injak oleh seorang lelaki yang bahkan aku tak mengenal orang tersebut. Aku pun menceritakan yang sesungguhnya mengapa aku bisa sampai di tempat ini. Namun walau aku sudah lelah berdebat dengan lelaki ini, dia tetap menginjak-injak harga diriku. Aku disebut olehnya wanita penghangat ranjang. Ya Tuhan, mengapa hari ini sangatlah sial untukku. Aku merasa lelah menghadapi semua cobaan hari ini yang datang padaku.
***
"Aahh? Aku kenapa?" Aku baru saja terjaga.
"Diamlah, kau harus banyak istirahat. Ini, minumlah dulu." Ucap Arya sambil memberikanku segelas air putih padaku.
"Aku kenapa? Bukankah tadi aku sedang berdebat dengan temanmu? Kenapa tiba-tiba aku sudah ada diatas kasur?" Aku sangat terheran-heran dengan hal ini.
"Aku minta maaf, Arya sudah menceritakan semuanya tentangmu padaku. Maaf kalau aku sudah berkata terlalu kasar padamu." Raka menepuk pundakku.
"Ah, tak apa.. Wajar kau memandang dan berkata sedemikian. Bagaimana pun juga aku memang wanita yang berprofesi tidak benar. Jadi saya bisa memaklumi atas perkataanmu." Ucapku dengan mencoba tersenyum dan memaafkan dia.
"Aku tidak tahu jika kamu berbeda dari wanita yang di booking untuk pemuas lelaki." Ucap Raka menyesal.
Ruangan pun menjadi hening setelah perbincanganku dengan Raka. Aku melihat sekekeliling, namun wanita tadi yang dibawa Raka entah kemana. Wanita itu tidak terlihat batang hidungnya.
"Kamu mencari apa?" Tanya Arya padaku yang memandangiku sedari tadi.
"Hmm.. wanita tadi, kemana?" Tanyaku dengan pelan.
"Ada di kamar tamu." Ucap Arya.
__ADS_1
Aku pikir Raka dengan wanita tadi tidak jadi melakukan aktivitas mereka, ternyata perkiraanku salah. Walau sempat keadaan memanas, Raka tetap melanjutkan kegiatannya pada wanita tadi.
"Aku temani Jeselyn dulu ya, kasihan dia sendiri." Ucap Raka pamit ke kamar tamu.
"Ah iya" Jawabku.
"Ya, kalian berdua sudah waktunya saling menghangatkan. Biar aku yang menjaga Anya disini." Arya berkata dengan wajah cueknya. Dari cara berbicara dan juga tatapannya, aku yakin Arya terpaksa memberi pinjam kamar untuk sahabatnya itu.
Raka pun bergegas pergi meninggalkanku dan juga Arya berduaan di kamar. Walaupun Arya sangat baik padaku, mendengar dan melihat kelakuan temannya yang selalu bawa perempuan berbeda-beda aku tetap harus waspada. Bagiku lelaki akan sama saja, mereka baik pada wanita karena bisa saja ada maunya.
Ruangan pun menjadi hening, aku dan lelaki yang ada di depanku sama-sama tak berkata satu kata pun. Kami berdua benar-benar canggung saat itu, di tambah aku yang gugup dan takut jika dia berbuat yang tidak bisa kubayangkan.
"Kamu istirahatlah. Kamu harus tidur sekarang." Arya mencoba membuka suaranya di tengah keheningan kami.
"Ah, iya nanti. Belum mengantuk." Jawabku sambil meminum air putih di gelas yang sudah ku genggam sedari tadi.
"Terus kalau belum mengantuk, kamu mau apa?" Tanyanya sambil mendongakkan kepalanya.
"Entahlah." Jawabku sambil mengangkat kedua bahuku.
"Aku akan menemanimu hingga terlelap." Jawab Arya dengan mengelus rambutku yang panjang.
Ku lihat jam di dinding kamar Arya sudah menunjukkan pukul 5 pagi, aku ingin sekali pulang ke tempat tinggalku saat ini.
"Aku ingin pulang saja deh." Jawabku sambil mencoba bangun dari tidurku.
"Jangan dulu, kalau sekiranya sudah aman baru kamu bisa pulang. Sementara, kamu disini saja dulu" Arya menahan badanku agar aku tidak meninggalkan tempat tidurnya.
"Aku yakin papa Wijaya sudah ke hotel bersama dengan teman satu kerjaku." Ucapku dengan yakin.
"Tapi..." Arya terlihat ragu dengan keinginanku yang ingin pulang.
"Aku yakin, dan aku sudah tidak apa-apa kok." Aku berusaha menyakinkan Arya.
"Baiklah ku antar kamu pulang ya." Tawar Arya.
__ADS_1
"Tidak perlu, kamu disini saja. Aku bisa naik taksi dari sini."
Setelah beberapa kali Arya menolak aku pulang sendiri dan aku berusaha menyakinkan dia, akhirnya aku di perbolehkan pulang ke kost ku tanpa di antar olehnya. Arya memesankan taksi untukku pulang, kami pun berpisah ketika taksi yang di pesan sudah sampai di tempat tinggal Arya. Sebelum pergi, aku tidak lupa berterima kasih padanya telah membantuku.