
Mantra sihir apa yang sebenar nya di miliki Fan Ny? Hanya dengan ke hadiran nya, merasa kan hangat tubuh nya dalam dekapan tangan, mampu menghindar kan Cam dari mimpi buruk. Cam bisa tidur tenang lagi.
Mungkin, Fan Ny adalah dream catcher-ku.
Sejak ke jadian itu, setiap malam Fan Ny selalu menemani nya tidur. Fan Ny ber sikap seperti biasa. Ia tidak terlalu memusing kan ciuman yang di laku kan nya malam itu. Fan Ny menganggap nya hanya bagian dari tugas nya. Cam sendiri masih tidak mengerti mengapa diri nya terdorong untuk mencium nya. Satu-satu nya alasan yang bisa ia terima adalah ia terbawa suasana.
Cam menghela napas. Kenapa pula ia harus memusingkan nya? Bukan kah salah satu alasan nya mencari kekasih bayaran adalah untuk ini? la lalu melirik ke arah pesan yang di kirim kan Bibi Bell pagi ini yang berisi ajakan untuk menghadiri sebuah makan malam penting bersama seorang investor. Cam sudah lama ingin mengajak nya bergabung dengan perusahaan nya. Oleh karena itu, ia tidak boleh sampai melewat kan ke sempatan emas ini.
Masalah nya, Bibi Bell meminta Cam agar mengajak Fan Ny. Sejak mengetahui Cam telah memiliki tunangan, Bibi Bell menjadi sering mengunjungi nya dan menjadi akrab dengan Fan Ny. Bibi nya berbuat begitu untuk memasti kan agar Fan Ny tidak meninggal kan Cam. Dia tidak begitu mempermasalah kan Cam dan Fan Ny tinggal bersama. Hingga sekarang, Bibi Bell masih belum mengetahui ke nyataan yang sebenar nya.
Cam di buat bimbang. la masih bisa bersandiwara di depan bibi nya. Tapi, di depan orang lain, ia tidak yakin. Bukan nya Cam malu membawa Fan Ny, ia hanya tidak mau menunjuk kan ke bohongan di depan calon kolega.
Lebih baik ia mendiskusikan nya dengan Fan Ny. Cam keluar dari ruang kerja nya untuk mencari Fan Ny. Gadis itu tidak terlihat sejak sarapan. Mungkin kah dia sedang berenang?
"Nona Blair berada di kamar nya."
Bibi Brown mengatakan nya tanpa di minta. Seperti nya wanita itu menyadari apa yang sedang Cam cari saat hendak membuka pintu menuju area kolam renang. Cam berterima kasih dan lekas menuju kamar Fan Ny.
Cam sadar Fan Ny membutuhkan kamar sendiri untuk meletakkan baju dan menjadikannya area pribadi. Cam membiarkan Fan Ny memakai kamar yang ada di seberang ruang kamarnya. Dahulu, tempat itu merupakan ruang kerja Fiona, tetapi Cam mengubah nya menjadi kamar tamu.
Apa yang sedang Fan Ny laku kan? Membersihkan nya? Tempo hari Cam sudah menyuruh pembantu nya membersih kan kamar itu.
Pintu kamar tampak tidak tertutup. Cam mengetuk pintu nya hanya untuk memberi tahu Fan Ny bahwa ia ada di sana.
__ADS_1
"Fan Ny ...."
"Apa?" seru Fan Ny dari dalam.
"Aku ingin mendiskusi kan sesuatu dengan mu." Cam me ngutarakan maksud nya memanggil Fan Ny.
"Masuk saja. Aku sedang mencoba baju baru. Kau bisa memberi pendapat." Fan Ny menyahut dari dalam kamar.
Baju baru? Cam masuk tanpa mencurigai apa-apa. Ia sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Fan Ny sehingga sikap nya sudah tidak sekaku dulu. Meski pun begitu, Cam belum sepenuh nya terbuka pada Fan Ny, terutama soal mengapa ia tidak pernah tersenyum. Fan Ny sempat menanyakan nya, tetapi Cam menolak untuk menjawab. Fan Ny yang sudah mengenali nya mengerti. Gadis itu tidak pernah menanyakan nya lagi. Cam merasa tidak enak hati. la merasa tidak adil. Pada hal Fan Ny sudah begitu terbuka.
Cam melihat Fan Ny sedang asyik mengagumi diri nya sendiri di depan cermin sambil sesekali berputar untuk me mastikan pakaian itu pas di tubuh nya. Dalam hitungan detik, darah di sekujur tubuh Cam terhenti.
Ini kah baju yang di maksud Fan Ny? Cam ter cengang melihat Fan Ny dengan gaun istri nya. Ia membeku di ambang pintu.
"Oh, aku menemu kan nya di salah satu kardus yang di tumpuk di lemari." Fan Ny menunjuk lemari pakaian di kamar itu. Ah, pantas saja. Cam lupa di lemari itu lah dahulu Fiona menyimpan sebagian baju nya.
"Tapi setelah ku lihat, semua baju ini masih bagus dan bisa ku pakai. Aku juga tidak menyangka ukuran nya pas dengan ku. Kebetulan sekali aku kekurangan baju. Bagai mana penampilan ku?" tanya nya dan dengan polos Fan Ny memutar tubuh nya.
Me lihat kembali baju yang dahulu di pakai istri nya, mengingat kan Cam kembali pada rasa sakit karena kehilangan nya. Ia tidak sanggup melihat baju itu dan tidak mau Fan Ny mengenakan nya. Cam memejam kan mata.
"Lepas kan baju itu," kata Cam.
"Apa?" tanya Fan Ny.
__ADS_1
Fan Ny sangat terkejut. Dia bilang apa?
"Kau mendengar nya. Ku bilang lepaskan baju itu!" Cam sedikit meninggikan suaranya satu oktaf lagi.
"Tapi...."
Fan Ny belum sempat mencerna ketika Cam dengan tidak sabar men dekat, lalu meraih resleting di belakang tubuh Fan Ny dan melepaskan nya.
Napas Fan Ny tercekat di tenggorokan ketika Cam me lolos kan gaun itu dan membiar kan gundu kan kain itu mengumpul di kaki nya. Fan Ny bahkan tidak di beri ke sempatan untuk mempertahan kan diri. la kalang kabut menutupi tubuh nya yang terbuka dengan tangan nya. Ia tercengang menatap Cam yang tak menghirau kan ke panikan nya sama sekali, malah memungut gaun yang di pakai nya tadi, lalu menjejalkan nya kembali ke dalam lemari. la buru-buru memakai baju.
"Jangan pernah menyentuh kotak berisi baju-baju itu lagi," tegas nya.
"Mengapa? Apa itu sangat ber arti?" Fan Ny memang sudah curiga saat menemu kan baju wanita di dalam lemari padahal tidak ada wanita yang tinggal di rumah ini. Kalau begitu milik siapa? Dari model nya jelas baju-baju itu milik wanita berusia dua puluh hingga tiga puluh tahun. Dan, kini Fan Ny merasakan firasat buruk melihat Cam ter paku, merunduk dengan wajah menahan sakit. "Baju itu milik mendiang istri ku."
Mulut Fan Ny langsung terkunci. Udara se akan terenggut dari rongga paru-paru nya saat mendengar Cam me ngata kan nya. la sama sekali tidak tahu bahwa Cam sudah pernah me nikah dan istri nya meninggal dunia.
"Apa kah dia adalah Fiona?" tanya Fan Ny memasti kan.
Cam tidak menggeleng, juga tidak mengangguk. Fan Ny menyimpul kan dugaan nya benar dan Cam enggan me ngungkit kenangan menyakit kan itu. Cam me maling kan pandangan, lalu berkata.
"Lebih baik kau tidak mengguna kan kamar ini lagi. Aku akan mengubah ruang baca di lantai satu menjadi kamar mu," kata Cam lalu kemudian pergi meninggal kan Fan Ny sendirian.
...B.E.R.S.A.M.B.U.NG ...
__ADS_1