
"Waktu cepat sekali berlalu, setengah jam lagi aku harus siap-siap lagi untuk kerja. Huuufttt susah sekali rasanya ingin istirahat sebentat." Protesku ketika melihat jam yang ada di handphoneku.
Aku yang masih tidur-tiduran malas di atas kasurku rasanya tak ingin meninggalkan kasurku untuk kesekian kalinya. Namun semuanya harus ku lawan keinginan malas-malasanku. Padahal aku sudah dari 2 jam yang lalu aku tiduran disini setelah kepulanganku dari rumah Dina. Waktu 2 jam seperti hanya 1 detik bagiku. Belum puas aku tiduran di atas kasurku. Dengan perasaan malas, aku segera beranjak membersihkan badanku dengan mandi dan bersiap-siap bekerja kembali.
"100, 200, ..." Setelah mandi, aku menghitung uangku yang sudah terkumpul. Tak percaya aku bisa mengumpulkan uang ini mencapai 5 juta lebih,. Setelah menghitungnya, aku menaruh uangku tersebut di dalam sebuah kaleng khusus tempatku untuk menabung sebagian uangku.
Kelar dengan urusanku dalam bersiap-siap kerja, aku segera berangkat kerja. Kali ini, aku memutuskan untuk membawa motorku sendiri ke tempat kerja. Sesampainya aku di tempat kerja, aku sudah melihat batang hidung milik seorang primadona di tempat kerjaku. Siapa lagi kalau bukan Angel.
"Malaaaammmm..." Sapaku pada Angel yang tengah berdandan.
"Eh Della." Ucapnya setelah melihat keberadaanku di loker bersamanya.
"Jam terbangnya melesat nih kak." Ucapku sedikit menggodanya.
"Lumayanlah. Tamu ku datang dari sore tadi, dadakan pula ngabarinnya. Kalau duitnya ga gede mah ga akan ku bela-belain kerja dari jam segini." Ocehnya sambil meneruskan dandannya.
"Ya udah bagus dong. Daripada ga ada tamu sama sekali kak".
"Iya juga sih."
"Tamunya sering kesini kak?"
"Jarang. Soalnya orang sibuk sih. Tapi memang sudah kenal lama."
"Ya sudah, buruan dandan. Semangat kerja kakak cantik."
Tak lama kemudian, Angel sudah beres dengan urusan mempercantik wajahnya. Dia segera pergi meninggalkanku di loker. Tanpa basa-basi, aku segera mengganti pakaianku dan segera berdandan seperti biasanya. Aku di depan cermin memoles wajahku dengan make up yang ku punya.
"Del, siap-siap!"
Tiba-tiba saja aku dikejutkan oleh suara memerintahku. Suara itu berasal dari papi Roy.
"Ada apa pih?" Tanya ku padanya.
"Ada tamu yang ingin booking kamu. Cepat bersiap-siap. Orangnya sudah di bar. Ingat jangan kejadian kemarin malam terulang!"
"Baik pih."
Kemudian Roy pun berlalu pergi meninggalkanku di loker. Aku segera mempercepat dandananku. Setelah kelar berkutik dengan alat make up, aku segera menuju ke bar tanpa lupa heels tinggiku. Aku berjalan melenggokkan badanku bagaikan seorang model. Banyak pengunjung dan juga karyawan yang memperhatikan diriku. Semakin percaya diri aku berjalan, aku yakin bahwa penampilanku sudah sempurna untuk melayani tamu-tamu kesepian.
"Pih, yang mana tamunya?" Tanyaku pada Roy yang sedang merokok di salah 1 kursi di bar dengan minumannya.
__ADS_1
"Namanya Tomi. Dia disana." Roy menunjukkan seseorang yang tengah duduk di kursi yang ada di tengah-tengah persis depan panggung DJ.
"Bukannya dia karyawan disini?" Tanyaku penasaran.
"Kenapa? Toh dia bisa bayar kamu. Sudah sana temani dia."
Aku pun langsung mengiyakan perkataan papi. Aku harus menemani Tomi? Dia karyawan disini yang selalu memperhatikanku di tempat kerja. Rasanya malas sekali jika harus menemaninya, pasti tipsnya kecil. Namun mau bagaimana lagi, kita sebagai LC mana bisa memilih ingin dengan siapa kita. Bukan kita yg memilih, jelas orang yang membayar kami lah yang berhak memilih.
"Kak.." sapaku pada Tomi yang sedang merokok dan juga meminum alkohol yang ada di depan matanya.
'Pasti dia di kasih temannya yang d bartender. Tidak mungkin dia membelinya.' Gumamku dalam hati ketika melihat minuman cocktail yang ia minum.
"Della. Duduk sini. Temani aku." Ucapnya mempersilahkan aku duduk di sampingnya.
"Libur kerja nih sepertinya." Aku mencoba untuk mencairkan suasana.
"Jelas." Jawabnya singkat.
"Kenapa booking aku?"
"Aku cuma pengen ngobrol-ngobrol aja. Lagian walau kita satu tempat kerja kita ga pernah ngobrol lama."
"Ooh." Ucapku datar.
"Tak usah, aku tak enak hati jika uangmu habis karenaku."
" Tidak masalah. Apa mau minuman seperti punya ku ini. Cuma agak strong alkoholnya."
"Boleh."
Tomi pun memesankan minuman long island untukku dengan kadar alkohol yang tinggi. Sudah di pastikan dgn kadar alkohol yang tinggi walau hanya 1 gelas saja sudah bisa memabukkan bagi siapapun yang meminumnya dan jelas minuman itu pun mahal untuk harga 1 gelasnya. Tak lama minumanku pun datang, kami pun minum bersama. Namun....
'Hah???! Apa aku tak salah lihat? Bagaimana dia bisa kesini? Semoga dia tak mengenaliku. Apa yang harus ku lakukan?'
Betapa terkejutnya aku ketika melihat seorang lelaki paruh baya yang ku kenal. Papa Wijaya, dia di tempat kerjaku bersama dengan Angel. Selain aku takut akan ketahuan olehnya jika aku bekerja di tempat seperti ini, aku juga merasakan kekecewaanku padanya. Baru saja siang tadi di rumahnya, ia berpamitan keluar kota karena ada urusan kerjaannya. Namun aku bisa merasakan penghianatan berada di depan mata dan kepalaku sendiri. Aku tak tahu harus bagaimana bertindak. Ingin rasanya aku memberitahu Dina tentang kelakuan papanya, namun aku takut tidak di percaya olehnya dan akan membuat kesalah pahaman diantara kita berdua.
"Kamu kenapa?" Tomi menyadarkanku dari lamunan seketika.
"Ti.. tidak kok." Jawabku dengan gelagapan.
"Cerita saja kalau ada apa-apa. Kamu terlihat seperti cemas."
__ADS_1
"Hmmm.. kamu tahu lelaki yang bersama dengan Angel?"
"Ooh itu, dia pak Wijaya . Dia pelanggan tetap disini dan omset kita selalu gede karena ada dia. Dia berani bayar mahal untuk wanita simpanannya itu."
"Apa??!" Aku terkejut bukan main mendengar penjelasan dari Tomi.
"Ada apa Del? Apa ada sesuatu yang salah?"
"Ah, tidak. Aku permisi ke toilet dulu ya "
"Baiklah."
Aku pun berjalan ke arah toilet dengan pikiranku yang sangat kacau. Aku tak menyangka papa Wijaya berlaku seperti itu pada keluarganya. Bahkan ia menjadikan Angel sebagai simpanannya. Aku tak bisa juga menyalahkan Angel, dia tak kenal keluarga papa Wijaya.
Setelah kelar ddari toilet aku segera menuju ke tempat dimana Tomi dan aku duduk tadi.
Bruuuk..
Tak sengaja aku sepertinya menabrak seseorang. Segera mungkin aku minta maaf, namun betapa terkejutnya aku melihat seorang Arya yang ternyata yang tertabrak denganku.
"Ngapain kamu disini?" Tanyaku dengan mata yang melebar.
"Apa kamu lupa kemarin aku bilang apa? Kenapa malah sudah di booking orang lain? Aku kan sudah bilang, aku akan datang dan akan booking kamu." Arya terlihat kecewa mengetahui aku yang sedang menemani lelaki lain, bukan dirinya.
"Tak ada hak kamu seperti itu. Siapa cepat, dia yang dapat" ucapku dan melangkah berniat meninggalkan Arya.
"Aaah.." aku terkejut tanganku di tarik olehnya dan dalam waktu hitungan detik, tubuhku sudah berada dalam pelukan lelaki berbadan atletis, tampan, dan juga gagah.
"Lepaskan aku...!" Ucapku dengan memaksa memberontak dari dekapannya.
Tanpa menghiraukanku, tiba-tiba saja Arya mencium bibirku dengan sangat ganas. Aku berusaha menolaknya, namun tetap saja bibirku dan bibirnya tetap menempel dan aku tak bisa kemana-kemana, wajahku di tahan olehnya agar tak bisa mengelak darinya.
"Apa yang kau lakukan!" Ucapku dengan marah ketika berhasil melepaskan ciuman darinya.
"Aku tak suka jika kamu harus menemani lelaki lain." Arya membalas ucapanku dengan tegas.
"Ingat, saya disini bekerja. Anda tidak ada hak untuk melarang saya!"
Aku segera meninggalkan Arya di depan toilet tadi menuju ke tempat Tomi kembali.
"Sorry menunggu lama" kataku ketika sudah sampai di hadapan Tomi kembali.
__ADS_1
"Tak masalah," ucapnya dengan tersenyum.
Kami pun melanjutkan obrolan kami yang random. Tak terasa waktu berlalu, waktuku untuk menemani Tomi pun sudah habis. Kami pun berpisah setelah itu. Ku akui walaupun Tomi mengetahui pekerjaanku seperti apa detailnya, dia tidak ada sedikit pun menyentuhku seperti para lelaki buas yang haus akan belaian. Ia masih menghargaiku sebagai seorang wanita.