Wanita Penghibur

Wanita Penghibur
Part 20


__ADS_3

Begitu masakan lengkap terhidang di atas meja, mereka menikmati makan malam dengan tenang. Fanny diam-diam mengamati Cam. la penasaran dengan tanggapan pria itu terhadap rasa masakan nya karena Cam terus diam. la harap Cam menyukai nya. la lupa bertanya apa masakan kesukaan mu. Dan lagi, Fanny tidak begitu menyukai suasana sepi yang melingkupi mereka sekarang. Ia harus membuka obrolan.


"Bagaimana masakan ku? Ku harap kau menyukai nya," ucap Fanny ceria. Cam mengerjap. "Aku menyukai nya." Lalu, pria itu kembali menyuap makanan ke mulut nya dalam keheningan. Itu saja? Padahal, Fanny menunggu komentar dan ekspresi yang lebih beragam. Hingga sekarang Cam masih menampil kan wajah tanpa ekspresi.


"Kau memiliki kolam renang yang bagus. Apa aku boleh berenang di sana?"


"Oh, kau sudah melihat nya?" Kali ini, Cam terlihat kaget. "Ya tentu saja, lakukan apa pun yang kau ingin kan."


"Aku minta maaf karena berkeliaran di rumah mu tanpa izin."


"Tidak masalah. Lagi pula aku juga salah karena meninggalkan mu sendirian. Selain itu, rumah ini sudah menjadi tempat tinggal mu sekarang."


Ya, dan aku menjadi wanita simpanan mu mulai malam ini, tambah Fanny dalam hati. Setelah itu, suasana kembali hening. Lama-lama, Fanny mulai membenci situasi ini. Cam yang ia lihat sekarang bukan lah Cam yang di temui nya pertama kali saat itu, Cam terlihat bersahaja dan manusiawi. Sekarang, Cam tak ubah nya sosok pendiam dan misterius.


"Kita akan hidup bersama. Jadi, aku ingin mendengar beberapa hal dari mu."


Permintaan Fanny pasti mengejut kan Cam. Pria itu menatap nya selama beberapa saat tanpa berkedip.


"Tidak ada yang spesial dari ku. Aku hanya pria biasa berumur tiga puluh tahun yang masih tinggal sendiri."


"Kau tidak memiliki saudara?" Cam menggeleng. "Aku anak tunggal."


"Orang tua mu?"


"Mereka sudah meninggal sejak lama."


"Apa pekerjaan mu?"


Cam ragu sebelum menjawab, "Aku menjalankan sebuah perusahaan."


"Ya Tuhan, kau seorang CEO?" Seharus nya, Fanny tidak perlu begitu kaget. Cam tidak akan datang ke tempat Madame Jasmine jika tidak kaya raya. Namun, Fanny tidak mengira dia seorang CEO, terlebih di usia muda.

__ADS_1


"Ya, semacam itu," gumam Cam tanpa gairah. Tampak nya Cam tidak begitu suka membahas tentang bisnis yang di jalani. Fanny mengingat kan diri agar tidak mengorek informasi apa pun berkaitan dengan bisnis pria itu. Fanny jadi semakin yakin Cam menyimpan begitu banyak rahasia.


"Apa saja yang kau sukai?"


Cam memapar kan bahwa diri nya suka mengunjungi beberapa resort milik nya baik di dalam maupun luar negeri dan bermain golf saat memiliki waktu luang-hobi mahal kalangan konglomerat, batin Fanny. Cam juga tidak terlalu suka keramaian. Dia tidak pilih-pilih soal makanan dan sangat suka melakukan kegiatan yang membutuhkan konsentrasi tinggi.


"Apa kau pernah menikah?"


Deg.


Fanny tersentak karena Cam meletak kan sendok nya dengan tiba-tiba. Apa ia mengajukan pertanyaan yang salah?


"Cukup untuk ku. Sekarang giliran mu," kata nya datar dan tegas. Apa yang salah? Fanny mendapat kesan Cam ingin menghindari nya.


***


Cam sudah tidak tahan lagi. la tidak akan membiarkan kenangan buruk merusak mood-nya. Fanny sudah terlalu banyak berta nya. Cam mencari seorang kekasih agar ia melupakan Fiona, bukan justru semakin di hantui.


"Berapa usia mu?"


"Dua puluh dua."


Apa? Dia delapan tahun lebih muda dari ku!


"Apa orang tua mu masih hidup?"


"Mama sudah meninggal sejak aku kecil. Sementara Papa, aku tidak tahu keberadaan nya saat ini, dan aku tidak peduli." Fanny mengangkat bahu santai.


Begitu, bisa jadi Fanny hidup sendirian. Pantas saja tidak ada yang memperingatkannya agar tidak menempuh jalan yang salah.


"Mengapa kau memutuskan menjadi wanita penghibur? Kau masih muda dan tentu memiliki kesempatan luas untuk mencapai masa depan yang lebih baik."

__ADS_1


Apa Fanny melakukan nya karena tuntutan ekonomi? Fanny harus menghasil kan banyak uang untuk membiayai hidup keluarga nya? Namun, bukankah Fanny termasuk debutan baru? Karena itu, dia pasti belum melayani siapa pun.


Ekspresi Fanny meredup. "Papa ku."


Papa? Kenapa dengan papa nya?


"Dia terlilit utang dan menjual ku pada Madame Jasmine. Sebenar nya, aku tidak begitu ingin, tapi harus bagaimana lagi. Papa mengancam akan menjual ku pada pria hidung belang jika aku tidak setuju ikut dengan Madame. Awalnya, aku benci keputusan ku. Namun, belakangan aku menyadari berada di tempat Madame Jasmine merupakan pilihan terbaik. Wanita itu menawarkan perlindungan dan tempat tinggal yang jauh lebih baik. Meskipun pada akhir nya aku akan tetap dipekerjakan demi keuntungan wanita itu, aku menganggap nya sebagai balas budi atas tempat tinggal dan pendidikan yang diberikan oleh nya secara gratis."


Cam mengepal kan tangan nya erat. Rasa nya ia ingin sekali menghajar seseorang. Mungkin, Ayah Fanny sasaran pertama nya. Pria itu sungguh biadab. Menjual anak kandung nya sendiri demi melunasi utang, tidak bisa di maaf kan. Karena ulah nya, hidup Fanny jadi seperti ini.


"Jangan kasihani aku seperti itu." Fanny tersenyum tulus menyadari ekspresi Cam. "Aku tidak menyesal. Jika aku tidak memilih jalan ini, aku tidak akan bertemu pria baik seperti mu."


Kata-kata itu menggetarkan hati Cam hingga ia tercenung diam. Hanya sebait kalimat sederhana, tetapi sanggup membuat nya bahagia. la seakan tertampar karena sebelum nya berpikir buruk tentang Fanny. Gadis ini jujur, polos, dan apa ada nya sementara Cam begitu munafik dan penuh kesalahan.


"Aku minta maaf karena mencium mu sebelum nya." Cam terkejut ketika melihat pipi Fanny merona. "Tidak masalah. Aku milik mu mulai hari ini. Kau bisa melakukan apa pun pada ku."


Fanny seharus nya tidak mengatakan nya. Ucapan nya sukses membangkit kan g**rah terlarang yang Cam kira sudah lama mati. la menekan perasaan itu kuat-kuat sebelum terpaksa melakukan sesuatu yang memalukan pada Fanny.


"Tentu saja, bukan kah itu sudah tugas mu," cetus Cam tanpa maksud menyinggung. la tidak terlalu suka di ingatkan bahwa Fanny telah menjadi wanita simpanan nya. Demi Tuhan, gadis itu pantas mendapat kan status lebih baik.


Cam tidak memandang Fanny saat buru-buru bangkit dari kursi. "Terima kasih, makanan yang kau siapkan lezat sekali." Setelah mengatakan nya, Cam melenggang pergi. la merencanakan mandi cukup lama dan menyiram kepala nya dengan air dingin untuk meredakan gai***h yang menjalari tubuh nya.


Hari ini banyak sekali kejutan. Sudah lama Cam tidak mengobrol sebanyak yang di lakukan dengan Fanny Blair di meja makan tadi. Ia pun berkali-kali di buat terkesima oleh ucapan dan perbuatan gadis itu. Meskipun hanya bertanya hal sederhana, hati Cam menghangat. la tidak salah pilih. Ya, Cam tidak menyesal sedikit pun.


Seusai mandi, Cam kembali ke dapur untuk melihat apa yang sedang di lakukan Fanny. Sayang nya, gadis itu sudah tidak ada di sana. Dapur serta ruang makan sudah rapi dan bersih seperti sedia kala seakan kedua ruangan itu tidak pernah di gunakan. Lalu, ke mana Fanny sekarang? "Kau mencari ku?"


Suara itu berasal dari arah belakang. Ah, syukur lah Fanny kembali. Cam hendak memberitahu nya agar menggunakan kamar mandi di kamar tamu jika ingin mandi dan bisa menggunakan kamar itu. la membalik kan tubuh dan langsung kehilangan napas melihat pemandangan yang terpampang di depan nya.


Cam terkejut melihat Fanny dalam balutan gaun tidur sebatas lutut dengan bahan yang nyaris transparan. Astaga.


Bersambung ....

__ADS_1


Hehe, Cam kaget sama perbedaan usia di antara mereka.


__ADS_2