
Siang itu, Fanny memutuskan keluar rumah untuk mencari ide. Berdiam diri di rumah tidak akan menyelesaikan masalah. Fanny pernah iseng berkata pada Cam bahwa ia ingin bekerja karena tidak ingin menjadi beban, tetapi Cam justru marah dan menyuruhnya tetap di rumah. Fanny kaget dibentak oleh Cam. la akhirnya tidak pernah memintanya lagi.
Fanny bertekad akan meraih apa yang membuatnya bahagia. la tidak akan membiarkan gosip konyol mengalahkannya dalam pertarungan ini.
Ada satu hal yang bisa ia lakukan. Namun sebelumnya, ia harus meminta bantuan. Dan, Gaston Scott adalah orang pertama yang terlintas di pikirannya.
Gaston Scott.
***
Cam sama sekali tidak tahu bahwa hari itu Fanny sedang berjuang membantu perusahaannya pulih. Fanny pergi menemui setiap orang yang ada pada daftar yang tertera di kertas yang diberikan Gaston, Fanny meminta bantuan pada pria itu dan ia memang mendatangi orang yang tepat. Gaston adalah pemilik perusahaan yang menyewakan jasa pengamanan serta pengawalan untuk orang-orang VIP. Walaupun harus melewati serangkaian perdebatan dan negosiasi, akhirnya Gaston bersedia membantunya mencarikan data orang-orang yang berinvestasi di perusahaan Cam berikut daftar pada pemegang saham.
Kebanyakan dari mereka menolak bertemu dengan Fanny. Sekali pun bertemu, hanya untuk memberi tahu Fanny bahwa mereka tidak akan menanamkan modal pada perusahaan dengan kredibilitas pemimpin yang dipertanyakan. Sebagian yang lain berjanji akan memikirkannya kembali. Fanny sedih dan lelah. la keluar dari gedung setelah menemui orang terakhir dalam daftar dengan tangan hampa. Orang terakhir itu menolak mentah-mentah, enggan menemui Fanny karena merasa status Fanny yang rendah.
Fanny berjalan menuju rumah Cam. Tak terasa hari sudah gelap. la bertanya-tanya apakah Cam sudah pulang. la seharusnya ada di rumah menyiapkan makan malam. Jika Cam sudah pulang, pria itu pasti marah.
"Bagaimana?"
__ADS_1
Gaston muncul entah dari mana. Fanny terkejut karena sempat mengira yang muncul tiba-tiba adalah hantu atau penjahat. la begitu lega ketika tahu yang ada di hadapannya saat ini adalah Gaston Scott, Fanny menggeleng dengan sedih.
"Jadi gagal?"
Dengan berat hati Fanny mengangguk. "Apa yang harus kulakukan?"
Gaston ikut merasakan kesulitan Fanny. Pria itu menerawang jauh. "Jika sudah begini, akan sulit untuk mengambil kembali kepercayaan investor."
"Aku yakin masih ada jalan."
"Tentu saja ada." Jeda sejenak. "Menikah denganku."
"Aku serius. Kau harus meninggalkan Cam, lalu kita menikah. Maka, aku akan mempertemukanmu dengan orang tua kandungmu."
Fanny berkacak pinggang. "Aku merasa kau sebenarnya berbohong."
"Jangan remehkan informasi yang sudah dikumpulkan timku. Aku tidak mungkin salah. Sudah kukatakan, aku berkata yang sebenarnya. Lagi pula aku memiliki bukti autentik yang tidak akan bisa kau bantah."
__ADS_1
"Mana, berikan padaku bukti itu. Aku ingin melihatnya!" Fanny mengulurkan tangan, meminta Gaston menyerahkan bukti yang dimaksud.
Gaston mengambil tangan Fanny. Bibirnya menyeringai.
"Aku meninggalkannya di kantorku."
"Lepas-"
"Apa yang kalian lakukan?"
Kedua orang itu terkejut mendengar suara tajam milik Cam, terutama Fanny. Cam berdiri di sisi mobilnya, terbelalak menatap mereka berdua, terutama tangan Fanny yang masih digenggam Gaston. Fanny benar-benar lupa bahwa mereka bertengkar tepat di dekat pintu gerbang rumah. "Cam!" Fanny menarik tangannya dengan panik.
Tatapan Cam teralih pada pria di hadapan Fanny, pria yang sama dengan pria yang mengaku sebagai penggemar berat Fanny. Apa yang dilakukannya di sini, di depan rumahnya dan bersama Fanny? Cam menderap menghampiri Fanny. la berdiri di antara Fanny dan Gaston.
"Siapa Kau? Berhenti menemui Fanny jika kau datang hanya untuk mengganggunya!" Gaston tidak memiliki kesempatan untuk menjawab. Fanny nyaris diseret masuk melewati gerbang, meninggalkan Gaston sendirian di baliknya. Gaston menatap punggung Cam tanpa ekspresi.
"Pria itu sungguh pencemburu, sama sekali tidak menyenangkan," gumamnya. la tidak membuang waktu berlama-lama di sana.
__ADS_1
Bersambung ...