Wanita Penghibur

Wanita Penghibur
Part 56


__ADS_3

Seumur hidup, Fanny tak pernah merasa sekhawatir ini. Ia bingung dan tak memiliki pijakan, sementara jurang memanggilnya agar terjatuh. Fanny tidak mau! la menguburkan wajahnya ke dalam telapak tangannya.


Apa yang harus ia lakukan? Ibunya menyarankan agar kembali pada Cam, tetapi ia takut. Setelah sebulan menghilang, apa yang akan dikatakannya?


Muffin, aku mengaku bersalah. Bagaimana jika kita berbaikan?


Tidak! Fanny terlalu malu mengatakannya. Salahnya sendiri ia kabur. Namun, ia ingin kembali pada Cam. Ia sungguh men derita selama beberapa hari terakhir ini. la bimbang akan menelepon pria itu atau tidak. Namun, ia memutuskan untuk tidak menelepon karena takut men dengar suara Cam.


Fanny berada di rumah sebulan terakhir ini. Audie Rodriguez, ibu kandungnya melimpahinya dengan kasih sayang. Dia rutin menceritakan perkembangan gosip di luar sana. Fanny senang gosipnya sudah menghilang.


Tentang perusahaan Cam, ayahnya berkata bahwa berkat bantuannya, perusahaan Cam terbebas dari ancaman kebangkrutan.


Lalu, setelah semua masalah selesai, apa Cam memikirkannya? Sepertinya tidak, karena tidak ada tanda-tanda Cam mencarinya. Namun, salahnya sendiri mengganti ponsel yang rusak dan tidak memberi tahu Cam.


"Fanny, ada tamu untukmu."


Audie Rodriguez memberi tahu putrinya yang melamun di ruang tengah.


"Siapa?"


Ibunya tak sempat memberikan jawaban karena bertepatan dengan itu Gaston datang bersama Cam.


Tunggu, Cam!


Fanny tersentak melihat sosok pria yang selalu memenuhi pikirannya. Jantungnya langsung berdegup kencang kala mata mereka bertatapan.


"Fanny ...." Cam terpaku, suaranya terdengar penuh kerinduan. Pada umumnya, para pasangan kekasih akan melampiaskan kasih sayang dengan berlari dan memeluk. Namun, Fanny tidak. la kabur dari tempat itu.


"Fanny!"


Cam tersentak. Mengapa Fanny melarikan diri begitu melihatnya? Gaston dan Audie Rodriguez pun heran. Cam langsung mengejar Fanny.


Setibanya di kamar, Fanny langsung mengunci pintu. Sambil mengatur napas yang tak beraturan, Fanny menyandarkan punggung di daun pintu. Mengapa Cam bisa muncul? Pasti Gaston yang membawa Cam.


"Menyebalkan! Dia berjanji tidak akan melakukan apa pun!" gerutu Fanny. Ia menyesal telah menceritakan masalahnya pada Gaston.


Seandainya kakaknya yang usil itu tidak memaksa ketika melihatnya murung, Fanny tidak mau cerita soal keinginannya kembali pada Cam. la memang ingin bertemu Cam. Namun, bukan sekarang. la butuh waktu.


Ketukan yang membabi buta di pintu kamarnya membuat Fanny terkejut. "Fanny, buka pintunya!"


Itu suara Cam! Fanny panik. la menahan kenop pintunya walaupun ia tahu usaha itu tidak bermanfaat karena pintu itu sudah ia kunci.


"Fanny, tolong buka!"


"Aku tidak mau!" teriak Fanny.


Di luar sana, Cam tak henti-hentinya menggedor pintu kamar Fanny sambil memutar kenop pintu dengan paksa.


"Dia mengunci pintunya," gumam Cam kesal. "Fanny. buka pintu ini atau aku akan mendobraknya!!"


Gaston menonton adegan itu dengan penuh minat. la tidak berniat membantu Cam sedikit pun, sementara Audie Rodriguez mulai khawatir.


"Kita harus membantu Cam. Ini waktu yang pas untuk bicara."

__ADS_1


"Jangan. Biarkan Cam menghadapi kesulitannya sendiri."


Gaston menyeringai penuh kemenangan.


Audie Rodriguez tidak mendengarkan. Ia sudah menyuruh seorang pembantu untuk mengambilkan kunci cadangan. Setelah itu, membantu Cam membuka kunci pintu kamar Fanny. Pintu sudah tidak terkunci lagi, tetapi Fanny menolak membiarkan Cam masuk dengan menahan pintu dari dalam.


"Fanny, biarkan aku masuk. Aku ingin bicara denganmu!"


"Sudah kukatakan tidak mau! Pulanglah!"


"Tidak!" Cam mencoba mendorong lagi, tetapi pintu tetap bergeming. "Tenaganya kuat sekali untuk ukuran wanita!" omelnya jengkel.


"Aku juga heran." Gaston mengangkat bahu.


Karena usahanya tidak membuahkan hasil, Cam memutuskan untuk mengalah. la menarik tangannya dari pintu. Jika Fanny tidak mau menatap wajahnya, maka ia akan bicara di sini. la berharap Fanny mendengarkannya.


"Fanny dengarkan aku, aku hanya akan mengatakan ini satu kali."


Fanny mendengarkannya dari balik pintu. Kata-kata Cam yang penuh dengan keputusasaan membuat kewaspadaannya melunak.


"Aku mencintaimu. Aku menyesal sudah membentakmu. Aku juga tidak bermaksud menyiratkan masih mencintai Fiona. Dia memang tidak bisa dilupakan, itu tidak bisa dipungkiri. Namun, yang sekarang mengisi hatiku adalah dirimu. Mengapa kau pergi begitu saja? Kau berjanji tidak akan melakukannya. Aku hanya sedang kalut. Banyak sekali yang terjadi. Aku salah karena tidak bisa mengendalikan diri. Kau sudah cukup menghukumku selama sebulan ini. Aku menyesal. Karena itu, tolong kembalilah padaku. Izinkan aku melihatmu. Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja. Aku tidak ingin kehilanganmu."


Air mata Fanny menetes. Fanny terharu mendengar pengakuan Cam. Sungguh, ia pun tidak ingin meninggalkan Cam dan menghukum pria itu dengan pergi. Ia hanya syok. Dan, ia pun menyesalinya.


Ternyata, Cam mencintainya. Betapa Fanny ingin mendengar hal itu dari mulut Cam sendiri. la takut harus melakukannya lebih dulu.


Sekarang setelah Cam memintanya kembali, Fanny tidak bisa menolaknya lagi. la tidak ingin membohongi dirinya. Fanny membuka pintu.


"Apa yang Muffin katakan tadi benar?" tanya Fanny di dada Cam.


"Apa menurutmu aku sedang bergurau?"


Fanny menggelengkan kepala. la semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku senang sekali Muffin memintaku kembali. Aku berpikir hubungan kita sudah berakhir."


Suara lirih Fanny membuat Cam tersenyum. "Kau lupa kita sudah terikat dengan pernikahan? Aku tidak akan menelantarkan istriku begitu saja."


"Aku takut Muffin akan mengusirku jika aku kembali. Karena itu aku diam."


"Jadi, kita setuju untuk berbaikan?"


Fanny mengangguk. Cam sangat lega mendengarnya. Seakan ia telah mendapatkan seluruh dunia. Pelukannya pada Fanny semakin erat.


Audie Rodriguez terharu melihat Fanny mendapatkan kebahagiaannya. la mengusap air matanya. "Fanny sangat beruntung. Can mencintainya."


"Sayang sekali," gumam Gaston. "Ma, apa aku tidak bisa menikahinya?" Audie Rodriguez langsung memukulnya. "Bicara apa kau? Dia adikmu!"


"Tapi, kudengar Mama mencoba menjodohkanku dengan Fanny."


"Itu sebelum mama tahu Fanny anak kandung mama. Saat itu, mama sangat menyukainya dan berharap dia menjadi anak mama dengan menikahkannya denganmu. Tetapi, sekarang rencana itu sudah mama batalkan."


"Jadi, Mama hanya memanfaatkan posisiku saja? Itu menyakitkan."

__ADS_1


"Mama akan mencarikanmu wanita yang lebih baik. Berhentilah mengharap adikmu sendiri. Lagi pula dia sudah memiliki suami. Sekarang ayo pergi."


Gaston ditarik pergi oleh ibunya, tersisa Cam dan Fanny saja.


Cam melepaskan Fanny. "Jadi, kenapa kau melarikan diri dariku?"


Ekspresi Fanny berubah. Kakinya bergerak-gerak gelisah. Fanny bahkan menghindari mata Cam. Ada yang aneh. Tunggu, bukankah Gaston berkata Fanny sedang menderita penyakit mematikan? Cam pucat.


"Apa kau baik-baik saja?" Cam mengamati wajah Fanny lebih cermat. Fanny terlihat baik-baik saja, hanya pucat. Apa mungkin luka dalam?


"Aku tidak apa-apa."


"Tapi pria menye-maksudku kakak angkatmu bilang kau sakit."


"Apa?" Fanny terkejut. Gaston mengatakan itu? "Aku tidak sakit."


"Lalu, kenapa?" Cam cemas setengah mati.


Fanny melirik Cam dari sudut matanya. Ia meminta Cam menunduk sedikit hingga ia bisa berbisik di telinga pria itu.


"Muffin, sebenarnya aku hamil."


"Apa?"


Hamil? Hamil?


Fanny tahu berita ini akan mengejutkan Cam. Karena itu, ia ragu untuk memberitahukannya. la kebingungan selama seminggu ini, terutama begitu sadar tamu bulanannya tidak juga datang. Ketika ia memeriksanya, dokter berkata ia hamil. Kandungannya memasuki minggu ke-enam. Fanny sudah mengira ia hamil karena terakhir kali ia dan Cam bersama, ia lupa meminum pil pencegah kehamilan. Karena alasan itulah ia takut. Bagaimana jika ia kembali pada Cam lalu memberitahu kondisinya, lalu ternyata Cam akan menolaknya?


Ibu, Ayah, dan Gaston sudah mengetahui dan mencoba membantunya memberi tahu Cam, tetapi Fanny melarang. la yang akan memberi tahu.


"Kita tidak pernah membicarakan tentang ini sebelumnya. Aku tahu kita tidak siap menjadi orang tua, kita bahkan belum resmi menikah. Tapi, tapi...."


"Kenapa? Kau takut aku akan menyuruhmu menggugurkan kandunganmu?"


Fanny semakin menyembunyikan wajah nya dari Cam. la sudah menantikan reaksi terburuk. la sudah siap menerima apa pun konsekuensinya.


Tiba-tiba saja Cam tertawa keras.


Kenapa dia tertawa? Apanya yang lucu? Fanny sebal. Cam kembali mengejutkannya dengan sebuah pelukan, lalu mengangkatnya ke udara. Fanny harus berpegangan pada leher Cam agar tidak terjatuh.


"Muffin turunkan aku!" Fanny panik.


Cam menurunkan Fanny, kemudian mereka saling berpandangan.


"Aku senang sekali. Dengan begini kau tidak bisa kabur dariku lagi."


Hati Fanny bergemuruh oleh suka cita. Jadi, Cam tidak keberatan? la sungguh bahagia. "Aku memang tidak akan melakukannya."


"Kalau begitu harus diadakan resepsi secepatnya."


Fanny tertawa. Rencana itu pasti akan membuat ibunya gembira.


***

__ADS_1


__ADS_2