Wanita Penghibur

Wanita Penghibur
Dosen Pengganti


__ADS_3

Triiiinggg... Triiinggg..


Suara alarm di handphoneku berbunyi, sudah saatnya aku untuk segera bangun untuk memulai rutinitasku di pagi ini yaitu ke kampus. Sejujurnya badanku masih terasa lemas dan juga kepalaku sangat pusing sekali sehingga membuat badanku berat untuk meninggalkan kasurku, bantalku, dan juga gulingku.


"Huuft ini karena semalam. Kalau saja tamu semalam tidak memaksaku untuk minum banyak, aku tidak akan seperti ini." Aku menggerutu kesal mengingat bagaimana semalam aku di kerjaan ketika menemeni seorang tamu yang senang dengan minuman alkohol.


Walaupun badanku berat untuk beranjak dari kasurku, aku harus tetap melawan lemasnya aku. Aku tak boleh sampai tidak masuk kuliah. Aku harus tetap masuk, tidak boleh aku berleha-leha atau bermalas-malasan seperti ini. Ini sudah menjadi resiko pekerjaanku, jadi tidak boleh sampai terbawa-bawa ke masalah pendidikanku.


Aku segera memaksakan badanku untuk bangun untuk mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Seusai mandi, aku yang masih mengenakan handuk di badanku langsung berdandan di depan cermin dan meja riasku. Walau pekerjaanku di dunia malam, aku tak mungkin berdandan seperti aku bekerja yang harus semua barang-barang make up menempel di seluruh wajahku. Aku berdandan senatural mungkin jika tidak bekerja.


"Akhirnya badanku segar kembali. Memang ya mau selemas apapun badanku akan kembali segar jika kita sudah mandi." Ucapku sambil merenggangkan seluruh otot-otot sendiku yang sepertinya masih agak kaku.


Waktu sudah menunjukkan jam 9 pagi, aku pun segera memakai pakaianku, tas dan juga sepatuku. Segera aku bergegas berangkat ke kampusku.


***


Sesampainya di kampus, aku berjalan di sepanjang koridor kampus menuju kelasku.


"Nyanyaaa..."


Terdengar suara memanggil namaku, tapi aku sudah tahu siapa pemilik suara itu. Ya, itu Dina sahabatku. Hanya dialah yang memanggilku dengan panggilan Nyanya, katanya panggilan khusus untuknya tidak boleh ada yang memanggilku dengan sebutan itu kecuali dirinya.


"Hei Din" Sapaku pada Dina yang sudah berada tepat di sampingku.


"Ada berita bagus." Mata Dina membinar antusias .


"Apa? Tentang cowok lagi?"


Aku sudah tak heran dengan sahabatku yang satu ini. Dia selalu tahu berita baru di kampus, tidak sepertiku. Dia seperti kelinci, kupingnya bisa mendengar suara omongan orang lain walau dari ribuan radius km.


"Iya, tentang cowok ganteng. Kamu pasti suka juga mendengarnya."


"Suka? Biasa aja, sepertinya kamu saja yang suka, Din."


"Percayalah, kali ini kamu akan suka."


"Apa?"


"Pak Yudi tidak akan masuk beberapa bulan ini."


"Jadi kamu mengatakan pak Yudi itu ganteng?" Aku tertawa kecil menertawakan Dina, bisa-bisanya dosen tua ubanan dia bilang tampan?


"Bukaaaan," rengek Dina dengan kesal.


"Lalu apa? Kita di liburin? Bagus dong?" Aku menebak-nebak, namun sambil mengejeknya.


"Berhentilah mengejekku. Pak Yudi akan di gantikan sama dosen pengganti yang bukan lain adalah keponakannya sendiri. Dari tampangnya pun seperti pangeran yang ada di negeri dongeng."


"..." Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku sambil melanjutkan langkahku menuju kelas. Aku sudah terbiasa dengan pikiran halu dia.


Dina mengikuti langkahku sambil berbicara menyakinkan omongan dia. Ya, siapa yang peduli? Aku tidak peduli sama sekali dengan sosok dosen pengganti itu.


Langkah demi langkah kami lalui, akhirnya kami sampai juga di kelas kami. Kami pun duduk di bangku kami. Dina duduk selalu di sampingku, seakan-akan dia seperti tidak bisa jauh dariku. Aku tak masalah, setidaknya aku tak akan kesepian jika ada Dina. Di kampus memang hanya Dina temanku, aku tidak suka berbaur dengan anak yang lain. Aku lebih senang menyendiri atau bersama dengan sahabatku ini.

__ADS_1


Tak lama kelas pun dimulai, dan ada seorang lelaki putih tinggi dan gagah memasuki kelas kami sambil membawa beberapa buku di tangannya dan juga tas laptopnya.


'Ini yang Dina bilang dosen pengganti yang tampan itu?' Tanyaku dalam hati sambil memperhatikan lelaki yang ada di depan kami semua.


Ku akui dia.memang tampan, tapi aku biasa aja memperhatikannya tidak seperti dina dan para mahasiswi lain yang antusias padan dosen ini. Apa mungkin karena sifatku yang kelewatan cueknya? Tapi dalam pikiranku dia seperti tak pantas jika di panggil bapak, karena wajahnya yang terlihat muda sekali.


"Selamat pagi anak-anak. Pagi yang cerah bukan?" Bapak itu menyapa seluruh mahasiswanya di kelas itu.


"Pagi paaaakkk" Jawab serentak anak-anak di ruangan tersebut.


"Ada baiknya jika kita berkenalan terlebih dahulu ya disini. Perkenalkan nama saya Arya Bramasta, kalian bisa memanggil saya dengan Pak Arya. Saya disini di tugaskan untuk menggantikan sementara pak Yudi untuk mengajar mata kuliahnya untuk beberapa waktu." Arya memperkenalkan dirinya di depan kami semua.


Setelah sesi perkenalan dengan dosen tersebut, pelajaran pun di mulai. Aku mulai mencatat bagian-bagian yang memang penting dan harus ku catat sebagai pembelajaranku di pagi ini.


"Nyanya.. kamu lihat deh pak Arya" Dina berbisik-bisk ke arah telingaku.


"Kenapa?" Tanya ku sambil menatap diam-diam pak Arya.


"Dia menjelaskan sambil terus menatapmu, sepertinya dia kagum padamu." Dina menyenggol bahunya ke bahuku dengan meledek.


"Apaan sih? Jangan ngada-ngada" kataku kesal dan melanjutkan catatanku kembali.


"Cieeee. Di kagumi dosen tampan." Dina terus meledekku, dan membuatku tidak fokus pada pelajaran hari ini. Ingin rasanya ku ikat tubuh Dina agar tidak banyak gerak dan meledekku terus-menerus.


***


Beberapa jam kemudian, kuliahku pun kelar. Aku sudah tak sabar ingin cepat-cepat pulang dan segera beristirahat kembali di kasurku yang empuk hingga jam kerjaku tiba.


Baru saja aku berniat cepat-cepat pulang namun, semuanya gagal karena ada yang mengganggu niatku.


Siapa lagi kalau bukan Dina sahabatku ini. Aku tak mungkin menolak permintaan dia, bagaimana pun juga dia sahabatku dan selalu ada buat aku saat aku susah. Ya hitung-hitung ini balas budi kebaikan dia dariku. Aku pun mengiyakan ajakan dia, aku menemaninya untuk ke perpustakaan yang ada di kampus kami.


***


Di perpustakaan


"Kamu duduk saja disini dulu, biar aku yang mencari sendiri" Dina menyuruhku duduk di salah satu bangku yang disediakan di perpustakaan tersebut.


"Tidak mau ku bantu carikan? Memangnya kamu ingin mencari buku apa? Apa kamu berniat meminjam buku itu?" Tanyaku padanya menawarkan bantuan. Maksudku agar lebih cepat ketemu buku yang ia cari, dengan begitu aku pun bisa lebih cepat pula sampai di kosanku.


"Kalau kamu tahu buku yang kucari, nanti kamu menyesal menemaniku ke perpustakaan. Jadi lebih baik aku mencarinya sendiri. Sudah pokoknya kamu tunggu disini, aku segera kembali"


Dina berkata dan tanpa aku menjawab dia sudah pergi meninggalkanku disini di tempat duduk yang ada di perpustakaan.


'Menyesal? Memang apa yang ia cari? Jangan bilang dia bukan mencari buku untuk pelajaran' Aku menggerutu kesal, hanya saja bagaimana pun aku yak bisa marah dengan sahabatku ini.


Saking aku bosannya menunggu Dina yang sedang mencari buku di koridor perpustakaan, aku mencari sebuah buku untuk ku baca sambil menunggu Dina.


'Cara Bahagia?'


Tiba-tiba saja mataku tertuju pada salah satu buku yang berjudul cara bahagia. Baru tahu aku kalau di perpustakaan kampus ada bacaan seperti ini. Ku pikir di perpustakaan ini hanya ada buku-buku membosankan yang berisikan pelajaran saja. Ku ambil buku tersebut dan ku bawa ke salah satu tempat duduk dan mulai membacanya sekilas-kilas.


"Bahagia? Memangnya perasaan bahagia itu seperti apa? Aku saja sampai detik ini tidak tahu bagaimana caranya bahagia" Gumamku ketika membaca beberapa halaman buku tersebut.

__ADS_1


Aku terus membaca buku tersebut halaman demi halaman ku baca. Yaa buku itu memberikan tips bagaimana kita menjalani hidup dengan bahagia dan bisa mensyukuri apa yang ada dalam hidup kita. Sebenarnya buku yang bagus, hanya saja aku mulai malas membacanya lebih lanjut.


"Lama sekali itu bocah. Berapa buku sih yang dia cari?"


Aku mulai merasakan bosan menunggu Dina yang sedari tadi belum juga menampakkan batang hidungnya di hadapanku. Aku memutuskan untuk menutup buku yang ada dalam genggamanku dan mengembalikannya di tempat semula. Kemudian, aku segera mencari Dina dengan mengelilingi beberapa rak buku-buku disana.


"Loh, kamu kenapa ga menunggu disana?" Dina menyadari kehadiranku di depannya.


"Lama sekali kamu mencari buku saja." Protesku terhadapnya.


"Sorry beb.. Sudah dapat kok" Jawabnya dengan tawaan tipisnya.


Ku pandangi beberapa buku yang ia genggam. Saat melihat buku-buku itu, aku hanya bisa menggelengkan kepalaku padanya.


'Aku menunggunya sedari tadi hanya untuk menemani dia mencari novel?!' Protesku dalam hati.


"Masih ada yang dicari lagi selain buku-buku itu?!" Ucapku dengan agak sedikit memperlihatkan wajahku yang sudah kesal.


"Sudah kok. Aku ingin meminjam 2 buku ini" Tawa kecil Dina seakan-akan dia tidak merasa bersalah sama sekali.


"Ya Tuhan... Ya sudah cepatlah aku ingin pulang." Protesku terhadapnya.


"Siap bu bos."


Dina benar-benar merasa tidak merasa bersalah sama sekali padaku setelah dia menyuruhku menunggu lama demi beberapa novel. Oh my God ... Ingin rasanya aku jitak kepala anak itu.


Kami pun segera menuju ke petugas perpustakaan untuk mendata buku yang Dina ingin pinjam saat itu. Namun kami di kejutkan dengan suara seorang pria yang sudah berada di samping kami berdua.


"Loh, Dina sama Anya belum pulang?"


Kami berdua serentak menoleh sumber suara pria tersebut.


"Belum pak, saya sedang ingin meminjam buku disini dulu pak untuk di bawa pulang." Jawab Dina dengan senyumannya yang lebar.


"Ooh begitu. Anya juga meminjam buku?" Tanya pria tersebut, yang bisa dikatakan dosen pengganti kami yang baru saja mengajar di kelas kami tadi. Ya, pak Arya yang sudah berada di samping kami dan mengajak kami berbasa-basi.


"Tidak pak. Hanya menemani Dina saja." Jawabku seadanya.


"..." Terasa canggung sekali sepertinya saat itu. Yaa bagaimana tidak? Kami baru saja mengenal pak Arya beberapa menit lalu ketika mengajar kelas kami.


"Sudah beres. Pak, saya dan Anya balik duluan ya pak" Kata Dina setelah mengurus buku-buku yang ia akan pinjam.


"Oh oke, hati-hati ya di jalan. Dan untuk Anya, langsung istirahat ya sesampainya di kosanmu."


'Apa? Bagaimana dia bisa tahu aku ngekos? Dan kenapa jadi sok perhatian seperti itu padaku? Masa bodo deh, lagian juga banyak mahasiswa perantauan, mungkin dipikirnya aku perantauan.' Aku bergumam dalam hati sedikit terkejut dengan ucapan dosen ini.


"Anya doang pak yang di perhatiin? Saya sebagai mahasiswa bapak, tidak?" Aku tahu Dina berkata seperti itu untuk meledekku dan berlagak mencoba akrab dengan pak Arya.


"Tentu untuk kamu juga" Jawab Pak Arya dengan tersenyum.


Tanpa berbasa-basi lagi, kami berdua pun berpamitan pulang pada dosen itu. Dina menawarkanku untuk mengantarkanku pulang ke kosan. Namun sudah pasti ku tolak, karena aku kan bawa motor. Tidak mungkin ku tinggal motorku di kampus.


Kami pun berpisah di parkiran. Dina menuju mobilnya, sedangkan aku menuju kearah motorku parkir. Kami pun pulang ke tempat tinggal kami masing-masing.

__ADS_1


***


__ADS_2