
Setelah aku berpisah dengan Tomi pada akhirnya aku duduk sendirian di meja bar tempat kerjaku. Walau sudah selesai waktuku untuk menemani Tomi tadi, namun jam kerjaku belum berlalu. Waktu masih menunjukkan jam 12 malam, aku masih harus menunggu 2 jam lagi untuk pulang. Ku ambil sebatang rokok dan ku hisap sambil menikmati alunan musik DJ yang berdentum keras. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari seseorang yang sedang membooking Angel, yaitu papa Wijaya. Aku masih tak menyangka ia bisa berbuat seperti itu. Ku pikir ia berbeda dengan lelaki lain yang sering datang kemari. Untuk apa ia datang kemari, padahal yang ku tahu keluarganya sangatlah harmonis. Namun papa Wijaya tak terlihat oleh mataku, di tempat duduk dimana aku melihat Angel dan papa Wijaya sudah tidak ada lagi papa. Disana hanya ada Angel yang duduk sendiri.
'Sepertinya ia sedang ke toilet.' Pikirku.
"Della, temani tamu lagi ya dia membookingmu." Roy mengejutkanku tiba-tiba saja ia sudah berada di sampingku.
"Siapa?" Tanyaku
"Arya, dia daritadi nungguin kamu itu. Sepertinya disini nambah 1 orang primadona selain Angel."
"Hah?! Maksud papi?"
"Jam terbang bookinganmu mulai melonjak Della. Lama-lama kamu bisa setara dengan Angel, walau kamu tidak mau di eksekusi. Sudah sana samperin Arya dia membookingmu hingga clossing tempat ini."
Aku pun segera mematikan rokokku yang tadi ku hisap dan segera menghampiri Arya di tempatnya.
"Sudah kelar bermesraan dengan lelaki tadi??" Ucap Arya melihat kedatanganku dihadapannya.
"Anda niat membookingku untuk apa?! Kalau hanya untuk berdebat dan membuat mood saya hancur lebih baik anda cancel saya!" Ucapku dengan ketus padanya.
"Hari ini pulang denganku!" Tanpa basa-basi perkataannya membuatku tersenyum sinis.
"Aku bawa motor, jadi aku bisa pulang sendiri!"
"Kalau kamu ingin selamat, pulang denganku. Motor bisa di titipkan disini."
"Hah? Selamat? Haha Apa tak salah dengar? Aku baik-baik saja walau pulang sendiri, lagipula sudah terbiasa."
"Kali ini tidak bisa."
"Kamu belum bisa menerima aku tadi di booking lelaki tadi? Sampai-sampai menyuruhku pulang denganmu dengan mengancam keselamatanku. Jika aku tidak pulang denganmu, kamu mau apa? Mau menyakiti aku? Aku tidak takut!"
"Bukan aku, tapi ada orang lain."
"Tidak, pokoknya aku pulang sendiri! Kamu tidak ada hak untuk mengatur hidupku!"
Kami berdebat cukup lama, hanya padanya lah aku berani menggertak tamu yang membookingku. Bukan aku tak menghargainya sebagai tamuku, hanya saja makin kesini aku tak nyaman dengan sikapnya yang mulai mengatur-ngatur hidupku. Setelah berdebat terlalu lama, kami berdua hanya berdiam dan berbicara seadanya saja.
'Untuk apa dia membookingku jika dia seakan-akan nyuekin aku?! Mentang-mentang banyak uang jadi seenaknya. Sepertinya hampir semua lelaki berduit bertingkah seenaknya, egois!' Ucapku dalam hati.
__ADS_1
2 jam kemudian..
Tak terasa akhirnya aku bisa bersiap-siap pulang. Aku berpamitan pada Arya untuk mengganti bajuku dan mengucapkan perpisahan saat itu. Ya jam bookinganku sudah kelar bersamanya, jadi aku bisa bebas darinya lagi. Aku menuju loker kerja untuk mengganti pakaian seksiku ini menjadi pakaian biasa dan santai yang tadi ku kenakan saat berangkat bekerja.
Loker sudah dipenuhi oleh para LC yang juga bersiap-siap untuk pulang ke tempat tinggal mereka masing-masing.
"Aaaahhh.... Ga suka Anj..ng!!" Teriak salah satu LC baru saja memasuki loker yang sudah acak-acakan rambutnya dan di gotong dengan 2 orang waiters lelaki. Sudah ku pastikan dia mabok berat akibat alkohol.
Banyak LC lain yang membantunya untuk menggantikan bajunya, ada yang memberikannya minyak kayu putih, ada pula yang memberikannya air hangat. Lc yang mabok itu berteriak mengeluarkan keluh kesahnya hari ini bersama dengan tamunya. Setahuku dia di booking untuk di tempat karaoke. Ia mengatakan bahwa ia di paksa minum banyak alkohol dan saat dia sudah tidak kuat dia tidak boleh menghentikan minumnya. Bahkan parahnya lagi tamunya telah menyentuh semua bagian tubuh dia dari bagian dada hingga ke bagian kewanitaannya. Aku melihatnya menjadi kasihan dan iba. Aku terfokus pada bagian LC tersebut, terdapat banyak tanda cupangan disana. Ku yakin tamu yang ia temani sangatlah beringas dan sangar.
Tak ingin berlama-lama disana, aku segera keluar dari lokerku itu tak lupa berpamitan dengan yang lainnya.
"Kakak semuanya papi, Della balik duluan yaa." Ucapku pada semua orang yang ada di loker itu.
"Iya Del hati-hati." Ucap salah satu LC yang sedari tadi sibuk membantu LC yang mabok itu.
"Kamu hati-hati di jalan dek." Kata Angel padaku sambil mengganti pakaiannya.
Aku mengganggukkan kepalaku padanya, dan segera meninggalkan yang lain disana. Aku berjalan menuju ke parkiran motorku, ingin rasanya cepat-cepat membaringkan tubuhku ini ke atas kasurku.
"Anya."
Saat aku akan menyalakan mesin motorku, aku dikejutkan oleh suara seorang lelaki yang suaranya tak asing di telingaku. Aku segera menoleh ke suara tersebut, betapa terkejutnya aku ketika melihat papa Wijaya lah yang memanggilku. Aku tak bisa berkata sepatah kata pun dari mulutku.
"Maaf siapa? Saya bukan Anya, saya Della. Mungkin anda salah orang." Ucapku berpura-pura dan berharap dia mempercayaiku.
"Sudah jangan bohong Anya. Papa sudah tahu itu kamu!" Katanya sambil tertawa.
"..." Aku sudah tak dapat berbicara lagi. Rahasiaku sudah tercium olehnya.
"Kamu kan sudah kelar d booking oleh 2 orang pria, sekarang waktunya kamu memuaskan papa, sayang" Ucapan papa membuat buluku merinding mendengarnya. Aku mulai ketakutan akan sikapnya.
Sementara itu..
Arya POV
Aku menunggu Anya, kenapa lama sekali dia mengganti pakaian. Bukankah pintu keluar hanya dari bar ini saja? Apa jangan-jangan ada pintu keluar dari ruangan loker dia? Atau dia menghindar dariku karena aku mengajaknya pulang bersamaku? Aku mengajak Anya pulang bersama bukan untuk melanjutkan kebersamaanku dengannya, hanya saja aku tahu hari ini dia dalam bahaya.
Tak lama aku melihat Angel yang berjalan ke bar untuk menemui seseorang di bartender. Aku segera menghampirinya.
__ADS_1
"Angel,." Panggilku sambil berjalan mendekat kearahnya.
"Loh Arya kesini untuk apa? Mas Wahyu ga ikut?" Tanya Angel yang kaget keberadaan Arya.
"Tidak, aku sendiri. Kamu tahu Della kemana?" Aku langsunh menanyakan inti dari permasalahanku dan kekhawatiranku saat ini. Aku menanyakan Anya dengan nama Della karena ku tahu disini nama Anya itu adalah Della, sudah pasti orang-orang disini tidak tahu nama asli wanita yang sedang ku cari.
"Loh, Della. Dia sudah balik daritadi mas. Dia sudah keluar loker duluan loh tadi sekitar 15 menit yang lalu."
"Oke makasih. Aku pamit."
Aku segera berlari mencari seorang wanita yang membuatku khawatir padanya. Aku teringat dia berkata bahwa dia membawa motor hari ini, sesegera mungkin aku menuju ke tempat parkiran yang ada di basement. Benar saja betapa terkejutnya aku melihat Anya di tarik secara paksa bersama dengan seorang lelaki yang sudah ku curigai dari awal. Aku tak tega melihat Anya berteriak menangis ketika di tarik oleh pria itu. Namun aku dibuat bingung oleh pendengaranku ketika Anya menyebut pria itu dengan sebutan "papa". Apa itu orang tua Anya? Betapa kejamnya lelaki itu.
End Arya POV
***
Anya POV
Aku sangat ketakutan berada diharapan seorang pria yang di hadapanku. Aku tak tahu harus bagaimana, disini sangat sepi tak ada orang satu pun yang dapat membantuku. Parahnya lagi aku tahu dari Tomi bahwa papa Wijaya sangat di agung-agungkan disini. Jadi sudah pasti orang yang bekerja disini pun tidak akan membantuku dari papa.
"Kenapa menangis sayang, anak papa?"
Tak terasa air mataku terjatuh karena ketakutan di buat olehnya.
"Pergi dariku! Kalau tidak, aku akan..." Belum sempat ku menyelesaikan omonganku, papa Wijaya memotong omonganku. Seakan-akan dia tahu apa yang ada dalam pikiranku saat ini.
"Akan apa?! Kau akan mengadukan hal ini pada mama Lastri dan Dina? Silahkan saja, apa mereka akan percaya dengan omomganmu?! Hahaha.." papa Wijaya tertawa puas atas ketakutanku padanya.
Tanpa aba-aba, ia langsung mengcengkram tanganku dan menarikku untuk mengikutinya.
"Lepaskan aku pah.." Aku berusaha melepaskan cengkraman papa Wijaya, namun usahanya sia-sia. Bahkan badannya pun sedikit demi sedikit mengikuti langkah lelaki itu.
Aku sudah lelah berusaha melepaskan diri dari papa Wijaya, nyatanya usahaku tak membuahkan hasil. Aku menangis sejadi-jadinya padanya. Aku sangat ketakutan pada papa Wijaya.
Bruuukkk..
Cengkraman papa akhirnya terlepas dari tanganku, namun aku terkejut ternyata Arya membuat papa Wijaya terjatuh akibat pukulan keras dari Arya.
"Anya, pergi!" Perintah Arya padaku.
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang aku berlari keluar dari basement itu tanpa membawa motorku. Lebih tepatnya aku lupa dengan motorku. Aku berlari dengan isak tangis dan sangat ketakutan. Namun di pikiranku tetap khawatir pada Arya, namun aku tidak berani kembali ke tempat itu lagi. Aku segera mencari satpam yang berjaga di tempat kerjaku, aku melaporkan bahwa di basement ada lelaki tua yang mengajak berkelahi dengan lelaki agak muda. Aku berniat bohong pada satpam itu agar papa yang terkena imbasnya, dan Arya tak akan terkena gertakan satpam
2 orang satpam pun berlari dengan sigap menuju tempat yang ku informasikan pada mereka. Aku hanya berdiri di depan pos satpam ini. Karena aku tak bisa mengambil motorku. Niatku setelah papa Wijaya dan Arya di pisahkan, aku segera mengambil motorku kembali dan pulang.