Wanita Penghibur

Wanita Penghibur
Part 49


__ADS_3

"Lihat siapa yang ku temu kan ini?"


Siapa lagi yang muncul untuk mengusik nya? Fan Ny men desah berat. la ber balik untuk meng hadapi orang yang meng kritik nya meng ganti kan Catherina.


Seorang pria tidak di kenal ber diri di depan nya. Fan Ny me rasa pernah me lihat pria ini se belum nya. Cara pria itu ter senyum mem buat Fan Ny mundur.


"Anda siapa?"


"Aku tidak percaya kau me lupa kan ku be gitu cepat. Kau waktu itu be gitu ber semangat mem bela teman mu dari ku."


Mem bela teman? Fan Ny meng amati pria itu sekali lagi. Se akan ada bola lampu me nyala di kepala nya, Fan Ny meng ingat pria ini. Dia adalah pria yang dahulu hampir menyakiti Camilla!


"Kau...."


"Jadi kau sudah ingat?" Pria itu me nyeringai. Fan Ny me ningkat kan kadar kewaspadaan nya. Ia tidak perlu takut pria ini akan me lakukan se suatu yang kotor pada nya karena mereka sedang ber ada di tengah pesta. "Aku sungguh takjub saat me lihat mu di sini. Apa yang kau lakukan? Kau menemani klien yang me nyewa mu?"


Fan Ny me noleh ke kiri dan kanan. Untung lah tidak ada yang me merhatikan kata-kata pria yang bahkan nama nya tidak Fan Ny ketahui ini.


"Aku ber sama tunangan ku," balas Fan Ny tenang. "Kau bahkan sudah ber tunangan? Tidak bisa di percaya!"


"Singkir kan tangan Anda dari ku." Fan Ny menepis tangan pria itu dari lengan nya. la marah dengan sikap tidak sopan itu. Dia masih tidak ber ubah. Dan, me ngapa mereka bisa sampai ber temu di sini?


"Kau sungguh cantik. Bagai mana jika kau menemani ku malam ini?" Wajah nya yang tampak mesum sungguh men jijik an bagi Fan Ny. Rasa takut mulai meng gerogoti benak nya. Ia harus meng hindar.


"Maaf, aku tidak akan sudi me lakukan nya." Fan Ny hendak pergi, tetapi pria itu me narik tangan nya dengan kasar.


"Kau itu wanita penghibur! Me ngapa kau ber sikap begitu sombong?" Me ngapa laki-laki ini malah marah?


"Lebih baik Anda pergi."

__ADS_1


"Apa kau butuh bayaran di muka? Aku tidak keberatan mem beri kan nya."


"Tuan, henti kan!" Fan Ny tidak tahan di sentuh pria itu. Ia tidak mau me laku kan kekerasan, tetapi ia ter paksa memiting tangan nya hingga dia me ringis.


Tindakan Fan Ny mem buat laki-laki itu murka. Akibat nya, tanpa segan-segan, mem beberkan masa lalu Fan Ny hingga semua orang men dengar nya.


"Kurang ajar! Kau pikir ada beda nya kau ber sikap sok bersih atau tidak? Itu tidak meng ubah kenyataan bahwa kau wanita peng hibur. Di mana pun kau ber ada, kau hanya akan mem per malu kan semua orang di dekat mu! Kau akan mem buat calon suami mu menanggung malu karena me miliki istri seorang wanita penghibur."


Seluruh saraf di tubuh Fan Ny mem beku. Ia ter lalu ter paku men dengar teriakan itu hingga tidak me nyadari bahwa keadaan di sekitar nya ikut hening. Semua orang me noleh ke arah nya, juga pada pria yang baru saja meneriak kan kata-kata tadi dengan lantang. Mereka ter cengang, beberapa detik kemudian, ketika me reka ber hasil men cerna situasi yang ter jadi, gelombang kritikan dan hujatan pun me lambung di udara.


"wanita penghibur kata nya."


"Tidak mungkin, dia tunangan Cam Harrison, bukan?"


"Mereka bahkan baru saja meng umum kan per nikahan."


"Dia pasti tidak tahu!"


"Aku yakin wanita itu yang me rayu nya."


"Sungguh men jijik kan. Aku tidak percaya wanita rendahan seperti nya berani masuk ke lingkungan kita."


"Tidak bisa di biar kan."


Kaki Fan Ny gemetar hingga tidak sanggup ber diri. Ber akhir sudah. Semua orang di ruangan ini akhir nya me ngetahui rahasia yang ingin ia kubur dalam-dalam. Fan Ny me nerima tatapan jijik dengan pasrah dan ia me nyadari semua orang ber gerak men jauhi nya.


Pria itu me nyeringai, tampak puas setelah mem per malu kan Fan Ny yang terus me runduk me nahan malu dan sakit. "Lihat, ini akibat nya jika kau tidak tahu di mana tempat mu berada."


"Dan Anda, Tuan, juga harus tahu bahwa tempat mu bukan di sini."

__ADS_1


Suara se dingin es itu mem beku kan bulu roma. Pria yang meng hina Fan Ny tadi me noleh dan mata nya ber sirobok dengan tatapan dingin milik Cam. Pria itu mengenali Cam, dengan per lahan mundur ketakutan.


"Kau...."


"Seperti nya kau masih meng ingat ku. Kau masih ingin me lanjut kan niat mu untuk me nuntut ku? Atau, kau ingin aku yang ber balik me nuntut mu?"


Pria itu tak ber kutik. Dahulu, ia berani menantang Cam karena tidak tahu bahwa yang tengah di hadapi nya adalah Cam Harrison pemilik perusahaan besar yang sudah lama meng incar perusahaan nya. Salah me langkah saja, perusahaan nya bisa di gilas habis oleh Cam. Sekarang, setelah ia tahu, me mandang mata Cam saja ia sudah me rinding takut.


"Ti-tidak, aku...."


"Aku mem beri mu pilihan. Pergi dari sini dengan suka rela," tawar Cam dingin, "Atau kau lebih me milih di usir dengan cara kasar." Pria itu kelimpungan me lihat ekspresi Cam. Cam pasti akan meng hancur kan nya di sini. Pria ini ber bahaya, begitu yang ia dengar dari orang-.


"Berani sekali kau mem per malu kan tunangan ku!" Cam sudah me lakukan ancang-ancang dan hendak me layang kan tinju nya ke arah pria yang sudah se enak nya me nyakiti Fan Ny, tetapi se seorang men dahului nya.


Pria malang itu ter jungkal ke lantai dengan hidung patah di iringi teriakan kesakitan. Semua orang yang me lihat nya me mekik kaget. Fan Ny yang sudah berlinangan air mata pun ter perangah, sementara Cam mengeryit tidak suka karena pria itu mem buat nya gagal me lampias kan kemarahan nya.


"Maaf, tangan ku ber gerak begitu saja." Gaston me nyeringai polos pada semua orang yang me nyaksi kan aksi nya me mukul pria tadi, la mengibaskan tangan nya yang tadi di gunakan untuk me layang kan tinju seolah ingin mem bersihkan kotoran. Tatapan nya ter alih pada pria yang sekarang sedang men jadi bahan tontonan orang.


"Hei kau, apa kau itu wanita? Mem per malu kan seperti tadi, itu bukan lah tindakan pria sejati. Jika kau masih me miliki rasa malu, lebih baik kau enyah." Gaston me narik paksa pria itu agar ber diri. la me noleh pada Cam. "Kau tenang saja, aku akan me nyingkir kan pria ini dari pesta mu."


"Siapa kau?" tuntut Cam pada Gaston.


"Aku?" Gaston me noleh pada Fan Ny, lalu ter senyum yang justru menaik kan kembali emosi Cam. "Hanya penggemar berat Fan Ny Blair."


"Apa?" Cam ters entak. Gaston dengan santai me nyeret pria malang itu ke luar aula pesta sebelum Cam sempat meng hajar nya.


Suara kasak-kusuk di sekitar nya me nyadar kan Cam. la me noleh ke arah Fan Ny yang ter isak, lalu mem bawa nya pergi. Cam tak percaya ia mem biar kan semua ini ter jadi. Ini salah nya. Seharus nya ia tidak me ninggal kan Fan Ny sendirian se hingga pria itu bisa meng ganggu. Cam menyalah kan diri nya. Mengapa lagi-lagi ia tidak bisa me lindungi orang yang paling ia sayangi? la me ninggal kan pesta dan me milih pulang. Bibi Bell pasti me ngerti dan akan meng hadapi para tamu untuk mem beri kan penjelasan tentang ke jadian tadi.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2