
Aku masih tetap berdiri di depan pos satpam ada ada di tempat kerjaku. Tak lama lututku yang masih bergetar hebat, membuatku tidak mampu menompang badanku untuk tetap berdiri. Seluruh badanku gemetaran dengan hebat saking ketakutannya. Aku berjongkok sambil memeluk kedua lututku.
'Semoga dia baik-baik saja.'
Aku mulai mengkhawatirkan Arya yang masih berada di basement dengan papa Wijaya. Aku takut papa akan berbuat nekat pada Arya karena telah mengganggu hasrat papa. Ku lihat jam yang ku kenakan di pergelangan tangan kiriku. Waktu sudah hampir jam setengah 4 subuh, tapi Arya belum juga muncul di hadapanku. Aku mulai cemas karena Arya belum juga menemuiku. Tangisku pun belum juga berhenti karena ketakutan dan juga perasaan cemas bercampur aduk dalam diriku.
***
Arya POV
Lelaki itu tampak kesal ketika aku menyuruh Anya untuk pergi dari tempat ini. Ku lihat Anya sudah berlari sambil menangis, ku yakin dia sangat ketakutan atas apa yang terjadi di malam ini.
"Berani-beraninya kau ganggu saya! Siapa anda?!" Tampak lelaki itu mulai geram padaku.
"Tak perlu anda tahu siapa saya,! Lebih baik mulai sekarang anda pergi dan jangan pernah muncul di depan wanita tadi!" Hardikku.
"Tanpa saya muncul di hadapannya, kami selalu bertemu di rumah saya." Lelaki itu tersenyum menyeringai padaku.
'Apa? Ketemu di rumahnya? Apa Anya menjadi simpanan pria ini demi harta?!' Pikiran negatifku mulai menjalar di dalam otakku.
"Minggir! Saya ada urusan dengan Anya, saya ingin membawanya ke tempat saya!." Lelaki itu mulai berjalan melewatiku untuk mencari Anya yang telah lari.
Dengan sigap dan tangkas, ku tarik kemejanya dari belakang dan ku hempaskan ia ke bumi. Aku pun terus menghardiknya untuk segera meninggalkan Anya.
"Berani-beraninya kaaaauuu!!!"
Sreeek
Darah keluar dari tanganku, tak ku sangka lelaki itu pun membawa pisau kecil. Karena lelaki itu kesal padaku dan sangat marah, dia membesitkan pisau miliknya pada tanganku. Ia berusaha bangun dan mencoba untuk menusukkan pisau tersebut ke arah perutku. Namun itu tidak kena padaku, aku berusaha menghindar darinya. Walaupun perutku tak mengenai mata pisau milik lelaki itu, namun beberapa tubuh ku seperti tangan dan pipiku harus terkena besitan pisau tersebut menyebabkan aku banyak luka.
"DIAM DISANA!"
__ADS_1
Terlihat 2 orang satpam yang segera menghampiri kami. Aku dan lelaki yang di depanku terdiam melihat ada satpam yang datang. Aku merasa lega disaat seperti ini, ada satpam yang datang dengan begitu aku bisa segera menghampiri Anya yang pastinya sangat ketakutan sekarang.
End Arya POV
***
Anya POV
"Hiks.. hiks.. hiks.." Aku masih menangis di tempat dimana aku masih berjongkok sambil memeluk kedua lututku dan menundukkan wajahku di antara lututku.
"Sudah, berhentilah menangis."
Aku menolehkan kepalaku kepada orang yang bersuara tersebut.
"Arya?!" Aku memeluk Arya dengan erat dan masih menangis di dalam pelukan itu.
"Kamu pulang denganku ke apartemenku. Untuk kali ini jangan ada bantahan, motormu biar nanti dibawakan oleh kawanku nanti." Jawab Arya sambil membalas pelukanku dan membelai rambutku dengan sangat lembut.
"..." Aku menganggukkan kepalaku.
***
Sesampainya di appartemen Arya..
"Ini pakailah baju ini?" Arya melemparkan sebuah kemeja panjang dengan celana pendek miliknya padaku. Aku segera menangkapnya dan berjalan menuju ke kamar mandi milik Arya untuk mengganti pakaianku dengan pakaian yang diberikan olehnya. Setelah kelar mengganti pakaianku, aku keluar dari kamar mandi dan menghampiri Arya yang tengah berada di dapur yang sedang berkutik dengan alat masaknya.
"Terima kasih sudah membantuku." Ucapku padanya ketika sudah di hadapannya.
"Sama-sama. Sudah duduklah kita makan bersama. Maaf cuma bisa bikinin kamu mie instan." Jawabnya sambil menyiapkan 2 mangkok mie instan untuk kami santap.
Kami pun makan bersama, namun mataku sesekali terfokus pada luka pada wajahnya dan juga tangannya.
__ADS_1
'Karenaku, kamu jadi seperti ini pak Arya. Padahal aku sangat cuek padanya dan sering marah padanya, tapi malam ini dia membantuku sampai-sampai banyak luka.' Gumamku dalam hati sambil terus menatap wajahnya.
"Makanlah, jangan terus menatapku." Kata Arya sambil tetap fokus pada makanannya.
"Ah, iya." Aku tersadar dari lamunanku dan segera memakan makananku.
Akhirnya kami pun menyelesaikan makan kami, aku membantu Arya membereskan dapurnya. Mataku tertuju pada kotak P3K yang ada di dekat dapur. Setelah beberes, Arya telah duduk di sofa depan televisi, aku segera menghampirinya dengan P3K yang ada di tanganku.
"Kamu istirahatlah di kamarku. Biar aku di sofa." Ucapnya ketika melihat kedatanganku padanya.
"Bukankan disini ada 2 kamar, kenapa kau di sofa?" Tanyaku, memang disini ada 2 kamar karena itu aku penasaran. Padahal kan dia bisa tidur di kamar satunya.
"Kawanku yang bernama Liam akan datang kemari dan pastinya membawa wanita lain kemari."
"Kamu tinggal berdua?"
"Tidak. Dia kesini hanya untuk bermalam dengan wanita-wanita yang dibawa olehnya. Karena ia tak punya tempat, tidak mungkin juga ia membawa wanita itu ke rumahnya karena ada orang tuanya."
"Ooh." Jawabku dengan datar.
"Sudah sana kamu istirahat."
"Sebelum aku istirahat, ijinkan aku mengobati lukamu itu."
"Hanya luka biasa, aku bisa obati ini sendiri."
"Ku mohon." Ucapku dengan memelas.
Akhirnya ia pun mengijinkanku untuk mengobati luka-luka yang terdapat pada wajah dan juga lengannya. Aku ikhlas melakukan ini sebagai tanda terima kasihku padanya yang telah menolongku. Entah jika ia tidak ada, aku tidak tahu apa yang akan papa lakukan padaku.
'Pak Wijaya, kenapa kau begitu tega? Seorang yang sangat ku hormati menjadi seorang yang tidak ku kenal.'
__ADS_1
Aku bergumam dalam hatiku mengingat kejadian tadi yang menimpaku. Tak habis pikir papa Wijaya pun telah membawa sebuah pisau. Aku sudah merasa hilang kepercayaan dan juga rasa hormatku pada lelaki tua itu.
Tak membutuhkan waktu yang lama, aku pun sudah selesai mengobati luka pada Arya. Arya pun kembali menyuruhku untuk beristirahat di kamar, aku pun menuruti kata-katanya. Aku segera masuk kamar miliknya, namun aku masih belum bisa tidur. Aku masih kepikiran dan teringat kejadian tadi malam dengan papa Wijaya. Aku harus segera berpikir bagaimana caranya untuk menguak sifat asli papa Wijaya pada Dina. Walau aku sudah yakin, namun banyak hal yang membuatku takut. Salah satunya aku takut jika Dina menganggapku pembohong dan dia mulai memutuskan tali persahabatan kami.