
"Apa kamu butuh uang sehingga kamu harus seperti ini? Kalau memang kamu ingin uang dari kerjaan, kamu bisa kerja yang lain atau bisa aku bantu kamu, Nya." Pak Arya terlihat mengkhawatirkanku.
"Ini urusan pribadi saya." Aku menjawab dengan sikap cuekku.
"Saya tidak percaya orang secuek dan sedingin sepertimu bisa juga kerja disini, apa tamu disini tidak merasa bosan dengan sikapmu?"
"Kamu ingin tahu? Siapa aku disini?" Ucapku dengan senyuman menggoda milikku padanya.
Aku yang merasa tertantang oleh Arya tanpa mikir panjang langsung meraba pahanya dan menatapnya dengan senyuman menggoda. Ku buat dirinya tergoda pada kecantikan dan keseksianku yang menggoda ini. Disini aku bukan Anya yang pendiam dan cuek, disini aku menjadi seorang Della yang sangat menggoda dan dapat membuat para lelaki tak kan bisa melupakanku.
"Hmmmm"
Tak sadar kami sudah mulai berciuman bibir dan tanpa tersadar aku pun menikmati ciuman itu dengan Arya Bramasta. Aku bisa merasakan Arya mulai memelukku dengan erat bahkan terkadang ia memainkan payudaraku dengan tangannya. Baru kali ini aku membiarkan oranh yang ku temani melakukan hal itu, padahal biasanya tamu-tamu yang lain tak akan ku beri ciuman. Jangankan ciuman, bahkan untuk di sentuh pun aku tak mau.
BUUUGG..
Aku terkejut ketika Arya ditarik seorang lelaki berbadan kekar dan langsung memberikan sebuah pukulan pada Arya tanpa memberinya aba-aba. Terlihat darah segar keluar dari ujung bibirnya sebelah kiri akibat pukulan lelaki itu.
"Apa-apaan ini?!" Wahyu mendekat kearahku dan Arya duduk. Terlihat jelas Wahyu sangat emosi melihat temannya ditonjok dengan lelaki berbadan kekar.
"Maaf pak, orang ini tidak sesuai dengan ketentuan disini. Della tidak untuk di sentuh, kalau mau ya bayar sesuai harganya. Bayar cuma untuk nemenin minum saja kok maunya raba-raba?!" Ucap tegas lelaki itu. Lelaki itu seorang pekerja disini. Kerjaan dia sebagai body guar di tempat ini yang tugasnya memang memantau LC dan juga para tamu seperti ku dan Arya yang tidak sesuai dengan ketentuan disini.
"..." Wahyu dan juga body guard itu terus berdebat. Pada akhirnya Wahyu mengalah membayar hargaku lebih tinggi seperti Angel. Bisa di katakan harga seorang wanita malam yang bisa di eksekusi.
Aku terkejut ketika Wahyu membayarku untuk eksekusi demi temannya. Ini salahku juga, kenapa mau-maunya aku melakukan hal itu pada Arya. Bodohnya aku.
'Apa aku akan di pakai oleh Arya? Apa Arya akan menggunakan kesempatan ini untuk melampiaskan nafsunya padaku?' Aku merasa bersalah namun aku pun takut Arya akan melampiaskan nafsunya padaku nanti.
"Maafin aku." Aku meminta maaf pada Arya yang meringis kesakitan akibat baku hantam dari body guard di tempat kerjaku. Karena kesalahanku ia harus dipukulin oleh lekaki itu, aku merasa sangat bersalah padanya.
"Kenapa harus minta maaf?" Tanyanya padaku yang memasang wajah bersalah padanya.
__ADS_1
"Karena aku terlalu menggoda bapak, jadi bapak harus seperti ini." Jawabku dengan wajah sedih.
"Kamu tidak salah. Yang jelas saya sudah tahu pekerjaanmu."
'Pasti dia menganggap aku wanita murahan sekarang. Anya bodoh, kenapa harus melakukan hal itu pada dosenmu?' Gumamku dalam hati.
"Maka dari itu saya minta maaf." Jawabku dengan kesal. Kesal karena ucapannya seakan-akan aku selalu melakukan hal yang ku lakukan padanya tadi pada semua lelaki yang membookingku.
"Iya saja biar cepat. Orang kamu tidak salah."
"Ya sudah aku ijin ke Roy dulu, aku ingin mengobati luka bapak."
Aku pun pergi meninggalkan Arya di sofa VIP. Aku mencari papi Roy berada untuk memberikanku ijin untuk mengobatinya dan tak lupa aku meminta P3K darinya.
"Makanya lain kali jangan seperti itu. Kamu suka dengan tamu itu?!" Roy seperti memarahiku karena perilaku kerjaku tadi yang membuat Arya kena pukul.
"Maafin saya pih. Saya tidak suka dengannya, saya ada alasan tersendiri kenap hal itu bisa terjadi."
Aku pergi meninggalkan Roy untuk kembali ke Arya lagi tanpa lupa aku berpamitan dan berterima kasih pada Roy. Aku berlari kecil kearah tempat Arya dan yang lain duduk. Aku sudah terbiasa dengan sepatu heelsku, jadi berlari pun sepatu ini tidak akan membuatku jatuh.
"Ikut aku" Ucapku kepada Arya ketika sampai di hadapan Arya.
"Kamu mau kenapa Del?"
"Eh,?" Aku terkejut melihat Angel sudah di belakangku dan berbisik padaku. "Ini kak, aku mau obatin luka Arya di ruangan eksekusi"
"Kamu yakin?" Mata Angel langsung membesar tak percaya aku akan melakukan pekerjaan yang lebih daripada biasanya.
"Iya. Roy menyuruhku ngobatinnya disana"
"Karena kejadian ini kamu jadi begini Del"
__ADS_1
Tatapan Angel berubah menjadi sedih dan khawatir padaku. Aku yakin dia akan berpikir aku akan melanjutkan di kamar eksekusi untuk melayani nafsu Arya disana. Sebenarnya aku pun takut jika Arya benar-benar melampiaskan nafsunya padaku, karena temannya sudah membayarku untuk hal itu. Perasaan takut dan cemas merajaiku. Aku pun berpamitan pada Angel, segera meninggalkan Angel dan Wahyu di sofa VIP. Aku dan Arya pun menuju ke sebuah kamar yang dimana kamar ini digunakan untuk para LC dan tamunya melakukan kegiatan tidur bersama.
Sebelum masuk ke kamar itu, aku menyuruh 2 orang body guard yang mengikuti kami untuk pergi dengan sebuah isyarat. Untungnya mereka mengerti maksudku dan langsung meninggalkan aku dan Arya. Kami pun memasuki kamar tersebut dan segera menutup dan mengunci kamar tersebut dari dalam.
Aku membuka kotak P3K tersebut dan mengambil obat merah dan juga kapas. Segera aku menuangkan obat merah tersebut ke kapas. Kemudian, kapas yang sudah ku beri obat merah ku tap-tap in ke tempat luka di ujung bibir kiri Arya. Sesekali Arya meringis kesakitan.
"Nya.." Arya memanggil namaku ketika aku mengobati lukanya.
"..." Tanpa menjawabnya aku menatap matanya dan menghentikan tanganku untuk mengobati lukanya tadi.
"Aku bisa minta tolong?" Tanyanya padaku.
"Apa?"
"Aku minta kamu cukup panggil namaku jika di luar kampus"
"Hah?!" Aku terkejut sekaligus kebingungan dengan ucapannya.
"Dan 1 hal lagi, tolong berhenti dari pekerjaanmu ini"
Kedua permintaan dia membuatku tercengang mendengarnya. Tubuhku seperti mematung seketika. Aku kebingungan mengapa dia menyuruhku untuk melakukan kedua hal tersebut. Apa karena dia mengenali diriku? Tapi apa haknya.
"Bagaimana? Bisa?" Tanyanya kembali karena aku belum menjawab permintaan dia tadi.
"Maaf, anda tak punya hak menyuruhku untuk berhenti dari tempat ini! Kalau saya tidak bekerja saya makan apa?!" Ucapku dengan tegas.
"Saya bisa bantu kamu" Jawabnya dengan memelas penuh arti dan perhatian padaku.
"Maaf tapi anda tak punya hak atas itu!"
"Baiklah kalau kamu masih ingin tetap bekerja disini. Mulai detik ini hingga seterusnya saya akan datang kesini dan booking kamu." Ucapannya membuatku terkejut bukan main.
__ADS_1
Pikirku untuk apa ia datang terus kemari untuk menghambur-hamburkan uang ke tempat seperti ini dengan wanita ****** sepertiku.