
"Kau Tuan Scott?"
"Le bih tepat nya, nama lengkap ku Gaston Scott," Dengan santai pria itu duduk di sofa di seberang Fan Ny. Sambil menyilang kan kaki, pria itu menyeringai, "Kenapa? Se telah melihat ku kau me nyesal telah menolak ku?"
Sung guh meng geli kan. Fan Ny men dengkus. Tingkat kepercayaan diri Tuan Scott yang ter lampau tinggi memulih kan kekagetan Fan Ny, la tak habis pikir masih sempat ter kesima pada pria yang sangat me muja diri sendiri itu.
"Ke napa kau mem bawa ku ke mari?" Fan Ny enggan meng gunakan bahasa formal untuk pria ini. Dia pen jahat. Gaston Scott ada lah kriminal.
Gaston ter lihat kaget. Ke dua mata nya mengedip polos. "Ke napa kata mu? Tentu untuk ber temu dengan mu."
"Kau bukan pe nyewa ku lagi." Fan Ny meng ingat kan.
"Itu lah yang ku sayang kan. Semua nya salah bos mu itu. Dia meng alih kan kontrak ku be gitu saja pada orang lain demi tawaran uang yang lebih besar. Wanita menyebal kan. Tahu be gini aku me nyogok nya dengan uang yang lebih besar."
"Karena itu kau marah dan men culik ku? Untuk menegas kan kepemilikan mu atau kau hanya me rasa di rugi kan?" Fan Ny masih tidak me ngerti me ngapa Gaston ber si kukuh meng ingin kan nya. Me reka tidak pernah saling ber kenalan sebelum nya. Ini ada lah kali pertama me reka ber tatap muka. Lalu apa yang mem buat pria ini ber si keras me nyewa nya?
Gaston ter senyum. "Menegas kan kepemili kan." Jadi begitu. Pria ini ter nyata hanya tidak mau rugi. Fan Ny penasaran apa pekerjaan nya. Mungkin kah dia mafia? Wajar saja Fan Ny ber anggapan demikian me lihat gerombolan pe ngawal yang me ngelilingi mereka dan cara Gaston mem bawa nya ke mari dengan kasar. Kalau me mang itu kenyataan nya, Fan Ny me nolak ber urusan lebih jauh dengan pria ini.
"Aku akan mengembali kan semua hadiah yang kau beri kan. Be berapa bahkan tidak ku guna kan sama sekali."
"Tidak, semua itu milik mu." Gaston ber kata, me nolak usulan Fan Ny.
Usulan nya di tolak dengan mudah, mem buat Fan Ny kesal. "Kenapa kau memberi ku semua itu? Aku belum melayani mu."
"Ada satu hal yang salah kau pahami Nona. Benda benda itu memang milik mu. Aku tidak mem beri kan nya, tetapi mengembalikan nya."
Apa maksud kata-kata nya? Jawaban Gaston hanya be rupa senyuman angkuh. Tiba-tiba saja Fan Ny me rasa kan atmosfer di sekeliling nya ber ubah. Ada se suatu dari cara Gaston memandang nya yang mem buat nya merinding.
"Siapa kau sebenar nya?"
"Kau penasaran, bukan? Apa kah itu arti nya kau ber sedia tinggal di sini ber sama ku dengan sukarela untuk men cari tahu jawaban nya?"
Fan Ny tersedak.
Demi Tuhan, jawaban atas per tanyaan itu ada lah TIDAK!
"Tidak!" Fan Ny bangkit untuk pergi, la me nolak ber ada di sana lebih lama lagi. Namun, bahu nya di tahan oleh pengawal di belakang nya. Tangan kekar pengawal itu me nekan bahu nya ke bawah dan memaksa nya duduk kembali.
"Aku belum selesai," ujar Gaston pada Fan Ny yang kesal. "Aku tidak ingin ada di sini. Tolong biar kan aku pulang!"
"Kenapa kau be gitu ter buru-buru ingin pergi? Aku tidak akan me******osa mu, jika itu yang kau takut kan. Aku bukan pen jahat. Aku hanya ingin bicara baik-baik dengan mu."
Baik-baik apa nya? la saja nyaris di seret ke mari. "Lalu kenapa kau mem bawa ku kemari dengan cara men culik? Tidak bisa kah kau me lakukan nya dengan cara halus? Orang-orang mu bahkan me mukul kepala Cam."
Fan Ny kem bali di penuhi ke cemas an begitu ingat telah meninggal kan Cam dalam keadaan ter luka. "Ya Tuhan, bagai mana keadaan nya, aku bahkan tidak tahu." Kaki nya mengetuk ketuk lantai dengan keras.
"Tenang lah. Aku yakin Tuan kesayangan mu itu baik-baik saja." Gaston meng angkat alis se belah ketika Fan Ny me lempar kan delikan setajam belati pada nya. "Hanya itu tanggapan mu? Menyuruh ku tenang? Anak buah mu mem buat nyawa se seorang dalam bahaya!"
"Kalau begitu, aku akan me minta maaf. Yah, itu pun jika dia masih hidup." Kurang ajar benar pria ini men doa kan Cam mati!
"Tuan Scott!"
"Panggil aku Gaston."
__ADS_1
"Tidak ada panggilan akrab untuk mu hingga neraka mem beku!" teriak Fan Ny histeris.
"Astaga, aku tidak mengira tempramen mu sepanas ini." Meski pun me ngeluh, pria itu ter senyum. Per golakan emosi Fan Ny justru meng hibur nya.
Seperti nya, Gaston sosok yang se lalu menanggapi semua hal dengan santai. Fan Ny me nyadari akan sulit mem buat pria ini marah dan hanya meng habis kan tenaga jika ia meng hadapi nya dengan emosi. Padahal, Fan Ny ingin sekali mem buat nya kesal. Fan Ny me mutus kan untuk me nekan emosi nya.
Se telah Fan Ny tenang, Gaston akhir nya kembali pada topik pembicaraan yang ter potong karena emosi Fan Ny. "Jadi, bukan kah tadi kau ber tanya siapa aku?"
Fan Ny ingin berkata bahwa ia ber ubah pikiran. Ia tidak ingin tahu siapa Gaston, tetapi tak bisa di pungkiri ia penasaran. "Jangan bertele-tele, katakan apa tujuan mu dan biar kan aku pulang."
"Aku sudah me ngata kan siapa nama ku."
Uuh!
Sabar lah Fan Ny Blair. Dia sedang mem per main kan mu. Kau tidak boleh ter bawa per mainan nya. "Baik, Tuan Scott. Lalu, me ngapa Anda me nyewa jasa ku? Anda sengaja me milih ku?"
"Tentu saja aku sengaja me milih mu. Aku sudah men cari mu sejak lama."
"Apa maksud nya?"
"Aku me miliki rahasia tentang siapa kau sebenar nya."
"Apa?" Ini me rupa kan hal yang baru di dengar Fan Ny dan mem buat nya sangat ter kejut. Ia me miliki rahasia? Bagai mana Gaston bisa menyimpul kan itu?
Senyum sombong itu kembali di tampak kan Gaston. "Kau penasaran?"
Berani nya dia masih ber tanya setelah me lontar kan sesuatu yang meng gegerkan! "Rahasia apa yang kau maksud? Apa itu ada hubungan nya dengan benda-benda yang kau berikan?"
Gaston men jentik kan jari. "Bingo!"
"Aku hanya anak se orang laki-laki miskin dengan banyak utang yang kemudian men jual anak nya pada sebuah rumah bordil," tambah Fan Ny.
"Oh ya?"
"Bagai mana jika aku me ngatakan bahwa semua itu salah? Bahwa kau se benar nya bukan anak miskin dengan ayah bejat yang suka ber utang?"
"Bagai mana bisa papa ku...." Fan Ny ber henti. la baru me nyadari bahwa se benar nya ia tidak tahu apa-apa tentang ayah nya, keluarga nya, dan siapa saja kerabat nya. Se belum di jual kepada Madame Jasmine, ia dan ayah nya hidup sederhana di sebuah kamar sewa yang kecil. Ayah nya selalu ber kata bahwa dia tidak me miliki keluarga satu pun yang masih hidup dan Fan Ny me nelan kata-kata ayah nya bulat-bulat. Bagai mana jika ter nyata semua itu bohong?
"Ayah yang kau kira ayah kandung mu selama ini tak lebih dari se orang pen culik. Apa kau tidak pernah ber pikir, jika dia memang ayah kandung mu, kau tidak akan di jual oleh nya ke rumah bordir."
"Tidak mungkin." Fan Ny tidak percaya. Ayah nya mungkin jahat, tetapi dia tidak pernah menyakiti nya. Fan Ny ber pikir bahwa tinggal ber sama Madame Jasmine lebih baik dari pada di jual pada pria hidung belang.
"Apa kau me miliki ibu?"
"Tidak. Ibu ku sudah me ninggal sejak aku kecil." Jika Fan Ny ingat-ingat lagi, itu pun di ketahui nya ber dasar kan pengakuan ayah nya dan ia memercayai nya. Fan Ny tidak pernah ber tanya seperti apa ibu nya dan bagai mana cara nya me ninggal karena takut akan me lukai hati ayah nya. Apa mungkin sebenar nya ia tidak me miliki ibu?
"Aku me miliki bukti yang kuat jika kau tidak percaya. Aku sudah meng hajar pria itu karena men culik mu dan menjerumuskan mu ke dunia kotor."
"Kau ber temu dengan ayah ku? Dia ada di mana sekarang?!" Hal terakhir yang Fan Ny tahu tentang ayah nya ada lah pria itu kabur ke luar kota begitu ia di beri kan pada Madame Jasmine untuk ber sembunyi dari para debt collector.
"Aku tidak akan mengatakan nya dan mem beri mu kesempatan untuk men cari tahu jati diri mu lewat lelaki itu. Aku hanya ingin kau mendatangi ku ketika kau ingin mengetahui jawaban nya. Dan kebetulan, aku me miliki nya saat ini, tepat di sini." Gaston meng acung kan sebuah amplop ber logo resmi.
Itu.., mungkin kah dokumen yang menyata kan siapa orang tua nya? Fan Ny membelalak kan mata. "Berikan pada ku!" la bangkit hendak me rebut ampop itu dari tangan Gaston, tetapi pria itu menjauhkan nya. "Aku akan mem beri kan asal kau mengabul kan satu syarat ku."
__ADS_1
"Apa itu?" Mata Fan Ny begitu ter paku pada amplop yang masih di genggam Gaston hingga tidak me lihat senyum licik pria itu.
"Tinggal kan Cam Harrison dan menikah lah denganku," pinta Gaston.
Sekujur tubuh Fan Ny mem beku.
Syarat macam apa itu? Fan Ny tidak mau me nerima nya sekali pun dunia ber henti ber putar! Gaston pikir ia wanita gampangan yang rela me nikah dengan sembarangan pria? Gaston tidak mengajukan pistol ke pelipis nya saat me minta hal itu dan tidak ter ikat per aturan apa pun sehingga ia tidak perlu me matuhi nya. Sungguh waktu yang aneh untuk mengajukan se buah lamaran.
"Apa kau mabuk? Aku tidak akan me lakukan nya!" tolak Fan Ny mentah-mentah, ia tidak akan pernah mau meninggalkan Cam.
"Kenapa? Jangan kata kan kau mulai me miliki hati untuk pria itu." Fan Ny hanya bisa mengatup kan bibir nya untuk me nahan sakit memikir kan rasa cinta nya pada Cam yang mungkin akan ber akhir tragis. Cam tidak menunjuk kan tanda-tanda bahwa pria itu menyukai nya.
"Tidak."
"Kau sungguh tidak ingin tahu siapa kedua orang tua mu?" tanya Gaston.
"Aku ingin sekali, tapi aku tidak mau meninggal kan Cam," ucap Fan Ny.
"Kalau be gitu maaf kan aku. Aku tidak akan mem beri mu informasi tanpa bayaran yang sepadan."
Fan Ny tidak mau men dengar kan nya. la tetap ber sikukuh ingin tahu siapa orang tua nya. "Siapa me reka? Kata kan siapa orang tua ku!"
"Aku akan mengatakan nya jika kau ber sedia menikah dengan ku.
"Tuan Scott, tolong jangan ber canda lagi!" Fan Ny ber diri. Gelagat nya me nunjuk kan per lawanan sehingga be berapa pengawal yang ber diri di dekat Gaston ber gerak maju, hendak me nangkis serangan Fan Ny.
Gaston meng angkat tangan nya, mem beri kan tanda bahwa ia masih bisa me ngatasi suasana ini. Pengawal nya kembali ke posisi mereka semula. Tatapan Gaston me maku Fan Ny dengan tajam.
"Kau pikir aku ber canda? Tidak sama sekali. Aku serius."
"Bohong." Fan Ny mundur.
"Tidak. Aku menyukai mu." Gaston mem balas perkataan Fan Ny.
Itu lah yang mem buat Fan Ny ngeri, bahwa Gaston tidak ber canda.
"Tapi, aku tidak bisa balas menyukai mu. Aku men cintai Cam Harrison. Maaf kan aku." Penolakan Fan Ny mem buat Gaston ter paku selama be berapa saat. "Kau bahagia bersama nya?"
Fan Ny ragu untuk men jawab. la takut jawaban yang di beri kan nya akan meng ancam nyawa nya dan Cam. Namun, ia yakin dengan keputusan nya. "Aku tidak pernah me rasa se bahagia ini se umur hidup ku."
Hening.
Selama be berapa menit yang menegang kan, Gaston ter diam. Fan Ny me ngira jawaban nya tidak mem buat pria itu puas. Apa yang akan Gaston laku kan? Mem bunuh ku? Menyekap ku di sini? Namun, semua ketakutan itu tidak ter bukti karena secara mengejut kan Gaston men desah.
"Aku mengerti." Gaston bangkit. "Aku akan melepaskan mu saat ini."
Apa? Aku di lepas kan? Sungguh kan?
"Tapi, jika kelak kau me rasa tidak bahagia bersama nya, datang lah pada ku."
Fan Ny tak berani meng angguk. la masih tidak percaya bahwa ia di lepas kan begitu saja.
Begitu saja? Se telah mereka ber debat sengit beberapa saat yang lalu, Gaston mem biar kan nya pegi? Fan Ny tidak bisa memercayai keberuntungan nya. Dan, siapa mengira Gaston bukan lah sosok yang sulit di ajak berkompromi?
__ADS_1
Bersambung ....