
Tanpa te rasa, tiba saat nya pesta ulang tahun Cam. Fan Ny men dadak di sesaki ke gelisah an. Ia harus jujur pada Cam tentang per temuan nya dengan Gaston. la me miliki firasat akan ter jadi bencana jika tidak segera mem beri tahu Cam ke jadian hari itu, Maka, malam itu, se belum mereka pergi ke lokasi pesta, Fan Ny mem bulat kan tekad akan men cerita kan semua nya.
Fan Ny me lirik ke arah Cam yang sedang ber siap-siap Cam tampak ber konsentrasi saat me makai dasi. Mungkin, ia bisa me manfaat kan ke sempatan mem bantu Cam untuk ke mudian ber cerita. Fan Ny me rasa itu ide yang bagus. la ber jalan dengan langkah pasti, tetapi Cam lebih dulu me nyadari kedatangan nya. Pria itu me noleh.
Ketika pandangan mereka ber temu, Fan Ny me rasa sesak napas.
Tuhan, Cam tampan sekali malam ini. Tiada kata yang pas untuk meng gambar kan pesona yang Cam pancar kan berkat bantuan tatanan rambut yang pas dan jas pesta yang menawan. Fan Ny hanya bisa ter bengong-bengong seperti gadis remaja yang baru me rasa kan jatuh cinta.
Cam ter senyum. Oh, tersenyum! Fan Ny langsung salah tingkah.
"Kau cantik sekali," ucap Cam dengan masih menampil kan senyuman nya.
Benar kah? Fan Ny me lirik gaun biru es nya dengan linglung. la sudah ber dandan habis-habis an, tetapi tetap me rasa tidak pantas ber sanding dengan Cam se telah me lihat nya malam ini.
"Apa tidak masalah jika aku me makai gaun ini? Model nya sangat sederhana. Jika di banding kan dengan Muffin ...."
"Apa yang kau khawatir kan?" Cam me miring kan kepala, mata nya menelusuri tubuh Fan Ny dengan intens. Fan Ny ber getar, seakan Cam sedang mem belai seluruh tubuh nya me lalui tatapan itu. "Kau tampak sempurna."
"Begitu ...." Fan Ny me lupa kan niat awal nya meng hampiri Cam. la malah ter kesima karena satu pujian pria itu. Namun, wanita mana yang tidak ter pesona me lihat Cam saat ini, Fan Ny ber taruh tidak ada.
__ADS_1
"Kau akan lebih sempurna jika me makai kalung ini. Cam mem perlihat kan sebuah kalung dengan untaian berlian dan mutiara yang di ambil dari saku jas nya. Kilauan nya yang cantik mem buat Fan Ny ter kesima.
"Seperti nya Muffin suka sekali mem beri ku perhiasan. Harga nya pasti sangat mahal." Ini me rupa kan hadiah ke-lima be rupa per hiasan yang di beri kan Cam.
"Jangan khawatirkan soal uang. Selama ini, aku me ngumpul kan begitu banyak uang tapi tidak tahu harus meng guna kan nya untuk apa. Karena itu, ketika aku me miliki mu, akan ku manja kan kau hingga bosan. Jadi jangan me ngeluh."
"Aku tidak me ngeluh, hanya tidak ter biasa." Fan Ny ter senyum, lalu ber balik memunggungi Cam. Ia meng angkat rambut nya yang ter gerai agar Cam bisa mengait kan kalung itu ke leher nya.
Begitu selesai me makai kan kalung itu ke leher Fan Ny, Cam diam sejenak. Pandangan nya ter paku pada leher Fan Ny yang putih dan jenjang. la langsung memejam kan mata. Ia tidak boleh ber pikiran kotor di saat seperti ini. Mereka akan pergi ke pesta, tetapi Cam malah ber hasrat untuk hal lain.
Fan Ny heran me lihat Cam malah mem bisu. la hendak me noleh, tetapi Cam men cegah nya dengan sebuah pelukan. Cam me meluk nya dari belakang dan hati nya men desir kala satu kecupan ringan di leher mem buat nya bulu roma nya ber getar.
Napas Cam yang mem buru terasa panas di tengkuk Fan Ny. Se sungguh nya, ia pun meng ingin kan hal yang sama, tetapi mereka sama-sama tahu bahwa mereka tidak boleh sampai absen dari pesta ini. Dengan berat hati, Fan Ny harus meng ingat kan Cam bahwa mereka sudah saat nya pergi.
"Kita harus tetap pergi, atau pesta nya akan berantakan. Semua tamu datang untuk me raya kan ulang tahun mu. Muffin harus ber ada di sana untuk me nerima ucapan selamat dari mereka," jawab Fan Ny susah payah.
Cam men dengkus. "Kau benar."
Fan Ny seketika ingat urusan yang mem buat nya meng hampiri Cam, la me megang lengan Cam saat pria itu ber lalu me lewati nya.
__ADS_1
"Sebelum pergi, ada yang harus ku akui pada mu."
"Apa itu?"
"Ini tentang yang ter jadi selama aku di giring orang-orang asing tempo hari."
Ekspresi Cam langsung meng gelap. Fan Ny me negang. Walau pun takut akan men dapat kan respon buruk, Fan Ny tetap men ceritakan nya. Tak ada satu pun yang ter lewati, ter masuk dalang di balik pen culikan itu. Begitu mengetahui nya, Cam geram. Fan Ny buru-buru menenangkan nya. Toh Gaston memang tidak me laku kan apa pun kecuali mem beritahu nya fakta mengejut kan. Ah, ada satu bagian yang tidak Fan Ny cerita kan, yaitu bagian yang meng haruskan nya me nikahi Gaston jika ingin tahu identitas orang tua nya.
"Aku sangat ter kejut ketika mengetahui nya," tutur Fan Ny. "Aku tidak pernah mengira bahwa aku bukan lah anak kandung ayah ku. Bukan nya aku percaya kata-kata Tuan Scott begitu saja, tetapi entah me ngapa semua nya men jadi masuk akal jika ayah ku memang bukan ayah kandung ku."
"Aku malah sudah men duga nya. Aku ber syukur ayah seperti itu bukan ayah kandung mu. Ber untung aku tidak pernah ber temu, karena bisa-bisa ku hajar dia."
"Tapi, walau pun ayah ku me laku kan hal buruk, aku tetap tidak bisa mem benci nya. Aku tidak akan hidup hingga saat ini jika bukan karena nya. Selain itu menempat kan ku di rumah bordir adalah hal ter baik yang Ayah laku kan."
Cam pun me nyadari nya. "Tentu saja. Jika kau tidak ber ada di sana, kau tidak akan men jadi milik ku saat ini, kan?"
Fan Ny meng angguk setuju dengan bibir ter senyum. Lihat, selalu ada sisi baik dalam setiap bencana. Hanya cukup meng ubah sudut pandang, maka segala hal yang se mula tampak buruk men jadi se suatu yang indah.
Ber sambung ....
__ADS_1