
"Sejak aku me ngenal mu, kau mem beri ku ke bahagiaan baru, cara pandang baru, dan perasaan baru yang tak pernah ku alami se belum nya. Pasca kematian Fiona, aku me rasa waktu ber henti ber putar. Segala nya selalu sama dan sudah tidak ada kesempatan lagi bagi ku untuk bahagia. Aku tidak per caya bahwa semua orang masih me miliki kesempatan untuk men cintai dan di cintai selama masih ber napas. Aku meng hukum diri ku sen diri dengan ke sen dirian dan pen deritaan karena rasa ber salah ku. Tapi, kau mem buat ku per caya bahwa aku masih bisa bahagia selama me maaf kan diri ku sen diri. Kau mem beri ku pandangan baru tentang arti men cintai dan di cintai. Dan, kau mem bebas kan ku dari mimpi buruk. Aku seakan ter lahir men jadi Cam yang baru. Aku sangat ber terima kasih pada mu."
Fan Ny me rasa d**a nya sesak karena rasa haru yang tak bisa di bendung lagi. Kata-kata Cam mem buat nya tidak bisa ber kata kata.
"Karena itu, mau kah kau me wujud kan impian kecil ku, yaitu meng habis kan seluruh sisa hidup mu ber sama ku?"
Apa Cam masih harus ber tanya? Fan Ny meng angguk tanpa ragu. la me meluk Cam dan me nangis ter sedu-sedu di dada nya.
"Sekarang, bisa kah kau beri kan tangan mu?"
Tangis Fan Ny ter henti. "Tangan ku?" la meng ulur kan tangan nya. Kedua mata nya langsung mem bulat ketika Cam me nyemat kan cincin di jari nya.
Cincin!
Fan Ny ter perangah. Ia me natap Cam dengan sisa linangan air mata di pipi nya. "Muffin ini...."
"Kau tahu apa arti nya, bukan?"
"Tentu saja." Fan Ny ter lalu bahagia sampai tidak bisa ber kata kata. "Apa Muffin ingin kita menikah sekarang?"
Cam langsung meng acak-acak poni Fan Ny me lihat mata nya yang ber binar-binar. "Aku akan megumum kan per nikahan kita saat ulang tahun ku."
"Ulang tahun? Kapan Muffin ulang tahun?" Fan Ny mengedip takjub. la tidak tahu Cam akan ber ulang tahun tak lama lagi.
__ADS_1
"Kau akan tahu saat waktu nya tiba."
Cam kemudian men cerita kan tentang pesta yang akan di selenggara kan untuk me raya kan ulang tahun nya, sekitar se minggu lagi. Cam tidak meng ingin kan hal itu, sebetul nya, tetapi Bibi Bell bersi keras agar pesta itu tetap di langsung kan. Dan, jika Bibi Bell sudah meng ingin kan se suatu, maka harus ter laksana apa pun yang ter jadi.
"Hadiah apa yang Muffin ingin kan?"
"Tidak ada. Hanya kau men jadi istri ku."
Pipi Fan Ny me merah. Yeah, tentu saja. Apa yang bisa ia beri kan pada lelaki yang sudah me miliki segala nya ini?
***
Meski pun akan meng umum kan per nikahan saat pesta ulang tahun nya, tetapi Cam tidak bisa me nunggu meski pun hanya se minggu. Karena itu, ke esokan hari nya ia langsung meng ajak Fan Ny untuk men daftar kan per nikahan mereka, se hingga secara hukum, Cam telah me nikah dengan Fan Ny.
"Maaf kan aku. Aku ber janji akan mem beri mu pesta per nikahan yang sangat meriah," sesal Cam hari itu, tepat se telah men daftar kan per nikahan mereka.
"Kenapa Muffin harus me minta maaf se telah mem beri ku kebahagiaan yang be gitu besar?" tanya Fan Ny bingung. la tidak me mikir kan soal resepsi sama sekali, apa lagi se telah me nurut hukum ia men jadi milik Cam dan Cam men jadi milik nya.
Cam hanya mem beri tahu soal pendaftaran per nikahan itu pada Austin dan Bibi Bell. Mereka ber dua langsung mem beri nya selamat dan men doa kan agar bahagia. Bibi Bell bahkan dengan heboh langsung merencanakan ber bagai hal untuk resepsi per nikahan Cam. Fan Ny sangat antusias karena ini per nikahan pertama nya dan hanya se kali se umur hidup-ia ber doa pada Tuhan-sementara Cam menanggapi nya dengan santai.
"Muffin tidak ter lihat gembira, apa karena ini per nikahan kedua mu?" ujar Fan Ny se telah mereka fitting baju pengantin. Mereka dalam per jalanan pulang.
Cam me noleh. "Aku gembira. Aku tidak harus begitu mem per lihat kan nya, bukan?"
__ADS_1
Benar juga. Fan Ny juga pernah me ngatakan hal yang sama. Namun, me lihat Cam menanggapi per nikahan mereka dengan biasa saja mem buat Fan Ny cemburu.
"Kenapa?" Cam heran me lihat Fan Ny men dadak diam. Fan Ny men desah. Perasaan cemburu yang menyelimuti hati nya kini sungguh ke kanakan. "Tidak, aku hanya ber pikir, dahulu aku tidak be gitu keberatan ketika di jadi kan sebagai wanita simpanan. Tapi, ketika aku men jadi istri mu dan pada saat yang sama aku sadar aku hanya men jadi nomor dua bagi mu, entah me ngapa aku me rasa tidak rela."
Ketika Cam me nyentuh dan meng genggam tangan nya, Fan Ny me rasa seperti di sengat listrik. la ter kesiap, kemudian ter kesima me lihat Cam meng angkat tangan nya ke dekat bibir pria itu lalu mem beri kan kecupan.
"Maybe you're not my first, but you're my last."
Tak ada se senti pun kulit di tubuh Fan Ny yang tak merona karena aksi kecil nan romantis itu. Ia merunduk kan kepala, untuk menyembunyi kan semburat merah yang meng hiasi pipi nya.
Kebersamaan mereka se makin dalam. Se makin mereka sering ber sama, se makin banyak hal yang mereka ke tahui tentang diri masing-masing. Cam me nyadari bahwa be gitu banyak keterampilan yang di miliki Fan Ny. Selain pintar ber bahasa asing, Fan Ny pun ahli dalam otomotif, kuliner, bisnis, bahkan sastra dan beladiri. Fan Ny ber cerita bahwa semua itu di pelajari nya se lama pelatihan sebagai wanita penghibur untuk me nyiap kan hal-hal yang mungkin di minta oleh klien.
"Aku tidak percaya bisa me nikahi wanita yang sangat ber bakat. Kata kan pada ku, bakat apa yang tidak kau miliki."
Fan Ny tersipu. Cam me ngata kan itu setelah ia di kalah kan oleh Fan Ny dalam per mainan catur. "Muffin lebih hebat, karena bisa me ngatur perusahaan besar seorang diri.
"Aku memiliki banyak asisten yang ber bakat." Cam mengibaskan tangan. "Me ngapa kau tidak me manfaat kan keterampilan mu ke arah lebih baik?"
"Apa yang bisa ku lakukan? Saat itu status ku hanya seorang wanita penghibur. Minat ku ter batasi oleh per aturan."
Cam ber tekad tidak akan mem biar kan Fan Ny meng ingat bahwa ia pernah ber ada di tempat itu. Ia akan mem bahagia kan Fan Ny dan ikut bahagia ber sama nya. Cam pun me nyadari akhir akhir ini ia sudah tidak me mikir kan Fiona. Bahkan, malam-malam nya sudah tidak di hiasi mimpi buruk lagi.
Ber sambung ...
__ADS_1