
"Apa yang kau lakukan dengan pria itu?"
Fanny terkejut dihadiahi pertanyaan bernada tajam begitu sampai di ruang kerja Cam dengan pintu tertutup. Beruntung rumah sudah sepi ketika Cam mendorong pintu dengan keras kemudian menarik Fanny ke ruang kerja.
"Aku tidak melakukan apa pun," ujar Fanmy tenang. Menghadapi api dengan api hanya akan membuat kobaran api yang lebih besar.
"Lalu, kenapa Bibi Brown berkata bahwa kau seharian ini tidak berada di rumah? Ke mana kau pergi dan apa yang kau lakukan?
"Bukankah sudah kukatakan agar tetap di rumah dengan semua gosip yang merebak di luar sana!"
"Aku tidak bisa berdiam diri saja. Sebelumnya kau tidak mengeluh."
"Karena dahulu kita tidak dilanda masalah sebesar ini. Aku tidak bisa diam saja melihat Muffin berjuang sendiri. Aku keluar untuk membujuk para investor agar tidak meninggalkanmu, Muffin!"
"Apa?" Cam memejamkan mata, menahan pening yang mendadak menyerangnya kepalanya. "Kau apa?!" nadanya meninggi. "Bagaimana bisa kau tahu siapa saja orang yang berinvestasi di perusahaanku?"
"Pria tadi membantuku. Muffin tahu, dia adalah Tuan Scott." Cam tampak sangat terpukul. Pria tadi adalah orang yang sebelumnya menyewa jasa Fanny? Jadi, Tuan Scott bukanlah pria paruh baya? "Apa yang kau lakukan dengannya?!" geram Cam, amarah langsung menguasainya. Ia tidak sanggup membayangkan apa saja yang sudah dilakukan mereka berdua. Namun, tidak mungkin Fanny mengkhianatinya. la percaya pada Fanny. Cam tidak mau sampai cemburu buta.
"Aku tidak melakukan apa pun, aku hanya meminta bantuannya. Tuan Scott memiliki jaringan informasi yang luas. Dia menolongku mencari daftar para investor di perusahaanmu. Kumohon jangan marah, aku hanya membantumu."
"Sudah kubilang tidak perlu. Ini adalah urusanku, kau tidak boleh ikut campur di dalamnya."
"Mengapa tidak boleh? Muffin melarangku bekerja dan hanya berdiam diri di rumah. Aku tidak bisa. Aku ingin mengerjakan sesuatu yang berguna untukmu. Muffin saja dulu mengizinkan Fiona bekerja, bahkan membiarkannya melakukan apa pun yang dia sukai. Mengapa aku tidak boleh melakukannya? Muffin mengatakan kita akan menanggung setiap masalah bersama. Lalu apa ini?"
"Jangan bawa-bawa Fiona dalam obrolan kita. Dia tidak ada hubungannya dengan apa yang kita perdebatkan!"
"Tapi ...."
__ADS_1
"Turuti saja apa kataku, Fanny Blair!" bentak Cam sambil memegang erat kedua bahunya. "Kau bukan Fiona. Dia bisa melakukan apa pun yang diinginkannya. Dia tahu apa yang dilakukannya!"
"Jadi, Muffin menganggap aku tidak berguna?" Fanny terpukul. "Lalu apa fungsiku di sisimu? Apakah hanya untuk pajangan saja? Mengapa Muffin memperlakukanku dan Fiona begitu berbeda? Apa aku tidak berarti?"
Cam tidak menjawabnya, masih terkejut ketika ia melihat air mata di mata Fanny. la sudah melukai Fanny dengan kata-katanya.
"Apa mungkin Muffin masih mencintai mendiang istrimu? Lalu aku apa? Muffin anggap apa semua yang sudah kulakukan untuk membahagiakanmu jika bukan karena aku mencintaimu." Hati Fanny bagai tersayat-sayat.
Fanny melesat pergi dari ruang kerja Cam. Ia tidak pergi ke kamarnya, melainkan ke pintu gerbang hingga akhirnya tiba di jalanan. Ia berlari menelusuri trotoar yang diterangi lampu jalanan dengan cucuran air mata di pipi.
Cam bodoh! Ternyata dia masih belum bisa melupakan istrinya. Fanny seharusnya tahu. Bagaimana pun kedudukannya di hati Cam hanya pengganti. la belum menjadi satu-satunya wanita yang dicintai Cam.
Semuanya sudah salah sejak awal. Semestinya Cam tidak menariknya ke dunianya yang rumit. Seharusnya Fanny tidak mencoba membahagiakan Cam dan seharusnya mereka tidak bertemu sama sekali sehingga ia tidak perlu merasakan sakit seperti ini. Fanny memutuskan melarikan diri dari hadapan Cam untuk sementara. la ingin menenangkan diri. Namun, ke mana ia pergi? la tidak memiliki tempat selain kantor Madame Jasmine dan rumah Cam. Kaki Fanny terasa lelah. Napasnya pun mulai terengah-engah setelah berhasil keluar dari kompleks perumahan elit itu. la duduk di bangku yang ada di depan sebuah minimarket sambil berusaha menata hatinya yang patah.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Fanny tidak perlu mengangkat kepala untuk mengetahui siapa yang tiba-tiba mengajaknya mengobrol. Sudah pasti Gaston Scott. la heran dari mana Gaston mengetahui ia berada di sini. Apa dia belum pulang dan diam-diam menguntitnya? Seandainya Gaston melakukannya, ia tidak heran mengingat perangai pria itu yang serupa dengan penjahat.
"Kau diusir oleh Cam? Hmmfftt--"
"Jangan tertawa!" Sungguh tidak sopan menertawakan gadis yang sedang patah hati tepat di depan wajahnya. Jika Fanny tidak sedang sedih, ia sudah membanting Gaston ke tanah untuk melenyapkan senyumannya itu.
"Maafkan aku. Aku sudah menduga akan berakhir seperti ini. Pria seperti Cam hanya memikirkan diri sendiri. Dia akan mencampakkan orang yang menyayanginya. Tinggalkan saja laki laki dingin dan kasar sepertinya."
Gaston luar biasa benar. Cam memang belum berubah. Fanny sebal karena tidak bisa membalasnya. "Cam tidak dingin. Dia hanya lupa untuk tersenyum." la kemudian diam memandangi telapak tangannya.
Gaston mendengkus. "Baiklah. Lalu, ke mana kau akan pergi?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu. Aku tidak memiliki tempat tinggal. Aku tidak mau kembali ke tempat Madame Jasmine. Aku juga tidak punya teman." Apa yang harus ia lakukan? Fanny tidak memikirkannya sebelum memutuskan kabur dari satu-satunya rumah yang ia miliki. Ke mana la akan pergi? la tidak memiliki orang tua ....
Tunggu! la memiliki orang tua!
"Tuan Scott ...." Fanny menoleh menatap Gaston.
"Gaston, please."
"Oke, Gaston. Kupikir sekarang aku ingin tahu siapa orang tuaku."
Kedua mata Gaston melebar takjub. "Kau bersedia menikah denganku?"
"Tidak.
"Tadi kau bilang ...."
Fanny dengan putus asa menangkupkan tangannya di depan dada. "Kumohon. Hanya sebentar saja. Aku tidak tahu meminta bantuan pada siapa lagi. Aku tidak yakin akan diterima, tapi aku hanya ingin melihat mereka." Hanya melihat. Seandainya mereka tidak mau menerimanya, ia akan pergi.
Gaston masih tampak ragu. "Bagaimana ini? Aku tidak bisa melakukannya jika kau tidak bersedia menerima syaratku."
"Gaston, aku tahu kau bukan orang jahat." Fanny memelas.
Ekspresi itu berhasil menggoyah kan Gaston. Lagi pula pada dasarnya ia memang ingin segera mempertemukan Fanny dengan orang tuanya. Syarat itu dibuat hanya untuk menggoda. Gadis itu sungguh menyenangkan untuk digoda.
"Baiklah, aku akan mengantarmu pada mereka, sekarang."
Fanny mendongak, "Sekarang?"
__ADS_1
"Sekarang. Kau tidak mungkin tidur di jalanan, kan? Sekarang sudah malam."
Bersambung ...