Wanita Penghibur

Wanita Penghibur
Part 48


__ADS_3

Ivy Bailey tak pernah me lihat Cam ter senyum selepas itu se telah kakak nya me ninggal. Dan, ia sangat cemburu ketika sadar bahwa yang telah mem buat senyum Cam kembali ada lah Fan Ny Blair, gadis peng hibur itu. Hingga saat ini, Ivy masih belum bisa me nerima nya. Ia tidak me miliki kesempatan se dikit pun men dapatkan hati Cam. Ter lebih ketika semua orang di ruangan ini me ngetahui bahwa Fan Ny Blair ada lah tunangan nya.


"Kau mengenal Cam?" Ivy me lirik sekilas ke arah Chaterina Davis.


Catherina ter kejut ketika me nemukan Ivy ada di pesta itu. la datang kemari karena di undang oleh Jovanka Bell yang me rupa kan pelanggan tetap butik nya. Jovanka Bell dan ibu nya me rupa kan teman lama. la tidak tahu bahwa Ivy juga di undang ke pesta ini. Apa hubungan Ivy dengan Cam?


"Dia mantan suami kakak ku," jawab Ivy pendek.


Catherina mengedip kaget. "Tunggu, jadi dia laki-laki yang, kau sukai?"


Dahulu, saat mereka masih sama-sama kuliah di Esmod, Ivy pernah ber cerita bahwa dia me nyukai guru di tempat les nya dan ter nyata laki-laki itu kekasih kakak nya. Mereka me nikah, kemudian ter pisah karena kakak Ivy me ninggal. Catherina tidak me nyangka laki-laki yang di maksud adalah Can. "Kau sendiri, me ngapa kau ada di sini?"


"Aku hanya teman." Catherina tidak men jelas kan lebih lanjut. Catherina tidak akan meng akui bahwa ia dan Cam pernah kencan buta, la tidak mau mem buat Ivy marah. Ivy adalah teman yang potensial. Akan sangat me rugi kan karier nya jika sampai kehilangan Ivy sebagai teman.


"Tapi, seperti nya dia sudah me milih gadis lain sebagai pen damping nya," pancing Catherina, hanya ingin me lihat reaksi Ivy. Pada hal, ia sen diri juga kesal me lihat Cam ber sama Fan Ny.


"Kau tidak mengenali gadis itu? Dia adalah pelanggan butik mu. Bukan kah kau bilang dia adalah wanita penghibur?"


"Oh ya? Aku tidak akan mengenali nya jika kau tidak meng ingat kan ku," Catherina ter kejut. "Bagai mana bisa Cam me milih gadis se buruk itu."


Kata-kata itu menyengat hati Ivy, sekaligus me naik kan tempramen nya. "Kau bukan satu-satu nya yang ber pikir demikian. Cam pantas men dapat kan gadis yang lebih baik."


"Kau yakin mem biar kan dia ber tunangan dengan gadis itu? Bagai mana pun kau lebih baik dari gadis itu."


"Aku tahu. Tapi..., aku tidak pernah me lihat Cam sebahagia itu, bahkan ketika ber sama kakak ku dulu. Aku tidak yakin jika aku yang ber ada di posisi nya, apa aku bisa mem buat Cam ter senyum secerah itu."


"Apa kah me nurut mu bagus jika kita menyingkirkan nya?" Catherina amat ber semangat. la dengan senang hati akan mem bantu apa bila Ivy setuju. Kedua mata Ivy ber kilat, "Cam akan jauh lebih baik tanpa nya."


Catherina ter senyum miring. la me ngikuti Ivy pergi untuk mem bahas lebih lanjut rencana licik mereka.


Tanpa di ketahui kedua gadis itu, tak jauh dari tempat mereka berdiri, Gaston Scott sudah cukup lama me nguping. la tanpa sengaja men dengar nya ketika meng ambil minuman. Percakapan kedua gadis itu mem buat nya ter tarik. Dan, la baru sadar bahwa mereka sedang merencanakan niat jahat untuk Fan Ny.


"Hmm, seperti nya aku akan tinggal lebih lama di pesta ini dari yang ku rencana kan sebelum nya." la meng ambil minuman nya, kemudian me ngedar kan pandangan ke se keliling ruang pesta.


Tadi nya, ia ber niat pergi sebelum ada yang me nyadari bahwa ia me nyusup ke pesta ini. la datang hanya untuk memastikan keadaan Fan Ny, me lihat apa kah gadis itu baik-baik saja. la me rasa ber kewajiban mem bahagia kan Fan Ny begitu tahu bahwa gadis itu masih hidup. Be gitu mengetahui bahwa Fan Ny ter lihat sangat bahagia, Gaston me mutus kan untuk pergi. Yah, walau pun sebenar nya Gaston ber harap akan me lihat Fan Ny sedih sehingga ia me miliki alasan untuk mem bawa nya pergi. Tetapi, se telah di pikir dalam-dalam, ia juga tidak mau me lihat Fan Ny men derita. Per cakapan Ivy dan Catherina lah yang mem buat nya me mutus kan me netap.


Gaston me nemukan nya. Fan Ny Blair sedang sendirian di dekat meja aneka pastry. la ber jalan perlahan menyeberangi aula untuk meng hampiri nya.


Fan Ny tidak keberatan di tinggal kan sendirian selagi Cam menyelesaikan obrolan nya dengan beberapa kolega yang datang dari Tiongkok. la lapar dan me mutus kan men cari makanan untuk meng ganjal perut. Pesta ini menyenang kan, semua orang ramah dan baik pada nya. Apa karena ia tunangan Cam Harrison? Fan Ny yakin keadaan nya akan ber beda se andai nya mereka tahu bahwa Fan Ny per nah be kerja di sebuah rumah bordil.

__ADS_1


"Apa kau sudah ber ubah pikiran?"


Kata-kata itu mengejutkan Fan Ny. la menoleh dengan cepat untuk ber tatapan dengan wajah ceria Gaston Scott. "Tuan Scott! Bagai mana kau bisa ber ada di sini?"


"Panggil aku Gaston, ku mohon, jika kau tidak keberatan. Aku di sini karena di undang."


"Jadi kau salah satu kolega bisnis Cam?" Kemunculan Gaston di pesta ini sungguh mengejutkan.


"Aku juga tak percaya." Gaston meng angkat bahu. "Apa kau sekarang ingin tahu siapa orang tua mu? Tapi, kau harus me ninggal kan Cam!"


Ter nyata dia masih belum me nyerah juga. Fan Ny men dengkus.


"Tidak. Pergi sana! Aku sudah ter biasa hidup sendiri."


"Whoaa, kau sungguh kejam untuk ukuran gadis muda." Gaston ter tawa.


Fan Ny harus me nahan keinginan untuk menjejal kan be berapa potong kue ke mulut nya. Setelah puas ter tawa, Gaston meng ulur kan sebuah kartu nama pada nya. "Kapan pun kau ber ubah pikiran, tinggal temui aku, oke."


"Terima kasih, tapi seperti nya aku tidak mem butuh kan kartu nama mu."


"Tidak, kau akan mem butuh kan nya. Kalau begitu aku pergi. Jangan rindukan aku." Gaston me lambai kan tangan nya sambil ber lalu pergi.


"Ada apa? Kau terlihat kesal. Apa kau tidak suka rasa kue itu?" Fan Ny mengerjap. la buru-buru me masang senyum me lihat Cam ber diri di samping nya. "Tidak, bukan begitu. Kue ini enak sekali."


"Jika kau sudah selesai, aku ingin kau ber siap-siap."


"Untuk apa?"


"Aku akan meng umum kan rencana per nikahan kita." Fan Ny hampir ter sedak."Sekarang?"


"Segera setelah kau selesai." Can mengulum senyum me lihat Fan Ny makan dengan ter buru-buru.


"Tak perlu ter gesa gesa be gitu."


"Aku tidak boleh mem buat mu me nunggu."


Cam tidak tahu betapa gugup dan tegang nya Fan Ny saat pria itu mengapit tangan nya, kemudian mem bawa nya ke tengah aula. Pandangan semua orang langsung ter tuju pada mereka be gitu Cam me minta per hatian.


Ini saat nya.

__ADS_1


"Pesta ini di ada kan selain untuk me raya kan hari ulang tahun ku, juga untuk meng umum kan kabar mem bahagia kan. Aku dan tunangan ku, Fan Ny Blair, akan me langsung kan resepsi per nikahan."


Peng umuman Cam itu langsung di sambut tepuk tangan meriah di iringi ucapan selamat yang datang dari ber bagai penjuru. Fan Ny tak pernah men dapat per hatian sebesar ini. la tidak tahu apa yang harus di lakukan selain ter senyum.


Ivy, Catherina, dan be berapa gadis yang selama ini diam diam meng incar Cam me nganga men dengar nya. Pupus sudah harapan mereka men dapat kan posisi sebagai istri Cam. Tempat itu sudah di rebut dengan penuh kemenangan oleh Fan Ny. Ivy me letak kan gelas minuman nya dengan keras di atas meja, lalu ber balik pergi dengan langkah meng hentak.


Bibi Bell me meluk Fan Ny erat se telah pengumuman singkat itu usai. "Akhir nya, aku sungguh gembira untuk kalian ber dua,"


Cam pun lega akhir nya bisa mem beri tahu kan semua orang bahwa Fan Ny akan men jadi milik nya. Dengan be gini, ia tidak perlu khawatir ada orang yang tiba-tiba me ngaku me miliki Fan Ny, kemudian mem bawa nya pergi. Cam mem biar kan Fan Ny me ngobrol dengan Bibi Bell, sementara ia harus me nyingkir sejenak dari keriuhan pesta karena ada panggilan telepon.


Telepon itu dari Austin Carter, yang sangat me nyesal tidak bisa datang karena harus menemani ibu nya check up di rumah sakit. Teman nya itu menyempatkan diri meng ucap kan selamat dan ber gurau me nanya kan pada Cam kado apa yang di ingin kan nya untuk ulang tahun kali ini.


"Tak perlu muluk-muluk, setujui saja proyek kerja sama yang di aju kan tim ku kemarin," balas Cam datar.


"Begini saja." Austin meng abai kan ucapan Cam tadi. "Aku akan me minjam kan villa milik ku di Hawaii. Kau bisa pergi ke sana untuk bulan madu."


"Aku lebih suka pergi ke Dubai."


"Kau menyebal kan. Aku sudah men coba ber baik hati pada mu." Cam tahu. Sebenar nya ia bahagia. Meski pun kerap ber sikap menyebal kan, Austin Carter salah satu orang yang tidak pernah me ngeluh dan me nerima nya apa ada nya. Karena itu, Cam senang ber teman dengan nya. Ia menyudahi obrolan nya. la me rasa kan keberadaan seseorang dari sudut matanya. Tak perlu me noleh pun, Cam tahu siapa yang ber diri di belakang nya.


"Kenapa? Apa yang ingin kau keluh kan sekarang?"


Ivy ter cekat men dengar nada dingin Cam. Per temuan ter akhir mereka pasti mem buat Cam marah, la men coba tenang dan meng abai kan per lakuan dingin Cam. "Aku tidak percaya kau akan me nikahi nya. Apa yang kau lihat dari nya? Dia hanya seorang wanita penghibur."


Cam meng hela napas. la tidak ingin emosi, tetapi Ivy me nguji kesabaran nya. "Fan Ny bukan wanita penghibur. Dia tidak pernah men jadi wanita penghibur."


"Kau tidak perlu me lindungi nya. Aku yakin Fan Ny Blair pasti hanya meng incar harta mu. Aku tidak me ngerti, apa yang Kau lihat dari nya?"


"Sampai kapan pun kau tidak akan pernah bisa me lihat apa yang aku lihat. Kau tidak me nyukai Fan Ny, itu yang mem buat mu tidak bisa me lihat kebaikan yang di miliki nya alih-alih keburukan."


"Apa yang baik dari se orang wanita penghibur? Dia hanya akan me nurun kan derajat mu jika orang-orang sampai me ngetahui nya. Aku tidak ingin kau di per malu kan."


"Meski pun orang lain mengetahui nya, aku akan tetap ber ada di sisi nya. Aku men cintai nya. Jika orang lain keberatan, mereka tidak berhak me larang ku. Ter masuk diri mu. Selain itu, ku tegas kan, Ivy Bailey, bukan Fan Ny yang men desak masuk ke kehidupan ku, tetapi aku yang menarik nya ke hidup ku." Wajah Ivy pucat. "Tidak mungkin! Kau masih men cintai Kak Fiona!"


"Aku tidak bisa memungkiri bahwa Fiona adalah wanita yang pernah ku cintai. Tetapi itu dahulu. Kini, wanita yang ku cintai adalah Fan Ny Blair. Dia men cintai ku tanpa pamrih, dia juga mem buat ku bahagia."


Ivy lagi-lagi di buat bungkam. Dengan begini, Cam sudah tidak bisa di goyah kan. Semua ini karena Fan Ny Blair! Gadis itu sudah men cuci pikiran Cam sampai ia tidak me ngenali sosok pria yang dahulu di cintai nya.


Bersambung .....

__ADS_1


__ADS_2