
Seumur hidup, Fanny tidak pernah mengira akan mendapatkan pernyataan dari seorang pria. Dan, ia memang tidak mengharapkan nya terutama setelah menenggelamkan diri dalam dunia gelap. Karena itu, sekujur tubuh nya seakan membatu mendengar permintaan mengejutkan yang di lontarkan Cam. la terkejut. la pun merasakan ledakan emosi yang tak di kenali nya. Emosi ini begitu menyenangkan sampai membuat nya ingin tersenyum.
Cam meminta nya menjadi kekasih pria itu. Oh Tuhan.... Fanny merasakan pipi nya memanas. Sejurus kemudian kebahagiaan itu lenyap ketika teringat bahwa la tidak bisa menerima nya. Rasa kecewa dengan cepat menguasai benak nya. la tidak boleh lupa siapa diri nya. Tawaran Cam memang menggiurkan, dan sudah sepantas nya ia merasa gembira, tetapi tetap saja Fanny tidak boleh tergoda sedikit pun. la harus menolak nya. "Apa yang kau katakan? Memintaku menjadi kekasih mu? Bukan kah itu terlalu cepat? Kita belum saling mengenal." Melirik Cam, seperti nya pria itu pun terkejut dengan pernyataan nya. "Ah, kau benar. Seperti nya aku juga mengatakan nya dengan cara salah." Apa maksud nya? Fanny mengeryit karena tidak paham. Cam berdeham untuk mengulangi permintaan nya. "Nona Blair, maukah kau membantu ku dengan berpura-pura menjadi kekasih ku?"
Fanny terkesiap. "Berpura-pura?"
Reaksi Fanny membuat Cam resah. Apa ia mengatakan nya terlalu blak-blakan? Apa Fanny tersinggung? Astaga, bagaimana ia menjelaskan nya?
"Benar. Maksud ku, aku di desak oleh Aunty ku agar mengenal kan seseorang karena aku akan menjelaskan nya jika kau setuju. Sekarang aku hanya ingin tahu apa kau bersedia atau tidak. Kau hanya perlu berpura-pura di depan bibi ku. Kita tidak perlu benar benar menjalin hubungan jika... jika kau tidak mau."
Fanny tercengang beberapa saat seusai mencerna nya. Kemudian, tanpa sempat di tahan, ia terkekeh.
Ekspresi Cam berubah datar. Fanny yakin ia sudah menyinggung pria itu. Reaksi nya bisa berarti sebagai hinaan. Ia tidak mengerti mengapa ia tertawa. Namun, ia bukan tertawa karena senang. Sebalik nya, ia tertawa perih. Sungguh ironis. Cam meminta nya berpura-pura menjadi kekasih pria itu. Dia meminta pada orang yang tepat. Berakting menjadi kekasih seseorang memang salah satu peran seorang wanita simpanan. Yah, la bisa saja setuju. Namun, tidak. Fanny tidak mau melibat kan Cam dalam kehidupan nya.
__ADS_1
"Aku sungguh tersanjung dengan tawaran mu, Cam. Dan, aku sangat ingin membantu mu." Fanny berhenti tertawa. la menyisa kan seulas senyum penyesalan di bibir nya. "Tapi sayang sekali, aku tidak bisa."
Kedua mata Cam melebar sesaat. Pria itu terkejut. Ekspresi nya sangat datar saat Cam berkata, "Begitu. Aku mengerti. Maaf sudah mengejutkan mu."
Fanny merasa sangat menyesal. la tidak ingin mengecewa kan Cam. la merasa harus menjelaskan alasan mengapa ia menolak untuk memecahkan suasana yang mendadak kembali beku.
"Aku menolak bukan karena aku keberatan dengan mu. Tetapi, karena keadaan tidak mengijinkan ku menerima nya," ujar Fanny perlahan. Can tidak mengerti. Fanny melanjutkan dengan tenang. "Hal utama yang harus kau ketahui tentang diri ku, Cam, aku seorang Com*fort Wo*men." Dan, ekspresi terkejut Cam sudah Fanny prediksi kan sebelum nya sehingga ia tidak perlu merasa sakit hati.
"Wanita yang menjual diri seperti ku tidak pantas menjadi kekasih pria terhormat seperti mu. Bahkan walau pun sebagai kekasih pura-pura."
Lalu, mengapa Fanny merasa d*da nya sesak bagai ribuan paku menusuk d*da nya secara bersamaan?
Cam masih tidak bisa percaya pada telinga nya sendiri. Apa la salah dengar? Namun, ia tidak tuli dan Fanny mengucapkan nya dengan sangat jelas.
__ADS_1
Hal utama yang harus kau ketahui tentang diriku, Cam aku seorang Com*fort Wo*men.
Kata-kata itu menggema di dalam kepala nya. Bahu Cam lemas. Dari sekian ribu jenis profesi di dunia ini, Cam tidak pernah membayangkan Fanny sebagai seorang Com*fort Wo*men. Mengapa harus menjadi Com*fort Wo*men? Dari sikap mau pun penampilan, Fanny terlihat layak nya gadis baik-baik yang masih polos dan murni. Lagi pula, jika Fanny memang seorang wanita panggilan, Fanny pasti akan menerima tawaran nya tadi dengan senang hati.
Apa Fanny sengaja membohongi nya? Untuk apa? Agar ia tidak bisa mengganggu nya lagi dan menyerah?
Menyerah? Cam sungguh ingin tertawa. Mengapa ia harus menyerah? Apa ia terlihat seperti seseorang yang sedang mengejar ngejar Fanny? Apa gadis itu menganggap tingkah Cam sebagai usaha untuk mendekati nya?
Apa tingkah ku membuat Fanny salah paham? Cam bertanya-tanya sendiri. Ya Tuhan, ia terlalu tua untuk melakukan aksi pendekatan ala remaja. Jika Cam memang tertarik, ia akan langsung melamar nya.
Namun, keputusan Fanny untuk berbohong entah mengapa sedikit mengecewakan Cam. Seandai nya Fanny berkata sejujur nya bahwa gadis itu keberatan mengenal nya, Cam akan dengan senang hati mundur. Kebohongan Fanny justru membuat Cam dilema.
Cam mendengkus. Untuk apa ia memikir kan gadis yang tidak mau mengenal nya? Seharus nya, ia tahu ini akan terjadi. Setiap orang yang ia sayangi akan pergi. Bukan berarti Cam menyayangi Fanny. la hanya sedikit tertarik. Bahkan, sedikit tertarik pun sudah cukup membuat Fanny enggan pada nya.
__ADS_1
Suasana hati Cam langsung berubah total, la kesal sampai pada tahap ingin menghancurkan sesuatu. Sebaik nya, la pulang sebelum menimbulkan kekacauan. Cam bergegas kembali ke meja nya, memberi tahu Austin bahwa ia tidak enak badan lalu hengkang dari hotel itu.
Bersambung ....