Wanita Penghibur

Wanita Penghibur
Keluarga yang Harmonis


__ADS_3

Aku baru saja terbangun dari tidurku di kasur yang berada di tempat ternyaman yaitu di kosanku. Aku menggeliatkan badanku ke kanan dan ke kiri. Kemudian ku ambl handphoneku yang sedang ku charge sebelum ku tidur. Waktu telah menunjukkan pukul 9 pagi. Hari ini merupakan hari weekend, dimana kegiatan kuliahku libur.


"Akhirnyaaaa aku bebas dari kegiatan kuliahku, jadi aku bisa beristirahat hingga waktu kerja tiba lagi" Aku seperti merasakan kebebasan hari ini.


Drrrrt... Drrrttt... Drrrrttt...


Handphoneku bergetar ada yang meneleponku. Handphoneku tak berdering karena semalam aku silent handphoneku ketika akan bekerja, agar tak mengganggu saja. Toh aku juga di tempat kerja susah pegang handphone jika sudah di booking tamu. Kulihat nama kontak yang meneleponku itu, Dina.


"Iya Din?" Aku menjawab telepon dari sahabatku itu.


"Jam 10 ku jemput kamu. Mama ingin kamu datang ke rumah, dia sudah masak untukmu." Dina orang yang memang selain cerewet, dia pun to the point jika berbicara.


"Baiklah. Datang saja." Ucapku.


"Oke, bersiap-siaplah."


"..."


Belum sempat aku menjawab obrolannya kembali, Dina sudah memutuskan teleponnya. Sudah tak heran diriku dengan sikap sahabatku yang satu ini. Selalu tak ada akhlak untuk menelepon dan mematikan telepon seenak jidat dia.


"Aaaahhh.. gagal aku bebas!!!" Protesku ketika telepon sudah terputus.


Sebenarnya aku malas sekali jika harus ada kegiatan atau acara lagi di weekend ini. Padahal niatku ingin beristirahat, tapi semuanya gagal. Kalau saja bukan mama Dina yang menyuruhku datang tak akan aku kesana walapun Dina yang menyuruh. Aku menyetujui untuk ke rumah Dina karena keluarga Dina sudah banyak membantuku ketika aku memutuskan untuk pergi dari rumah. Keluarga Dina sudah seperti keluargaku sendiri, bahkan uang sekolahku jaman SMA, selalu di bayar oleh orang tua Dina. Itu lah yang membuatku memutuskan untuk ngekos sendiri dan juga bekerja, agar aku tidak terlalu bergantung pada kebaikan keluarga Dina. Aku ingin hidup mandiri dan bisa membiayai keperluanku sendiri.


Aku bangkit dari tempat tidurku dan segera mandi. Ku nyalakan shower di kamar mandiku. Aku mandi di bawah air yang mengalir dari showerku sambil bernyanyi. Setelah mandi, aku keluar dari kamar mandi dengan handuk uang ku gulung di kepalaku agar rambutku yang basah ini menjadi kering. 1 handuk lainnya ku balut d tubuhku untuk menutupi tubuhku yang belum memakai baju.


Ku buka lemariku dan melihat isi dalamnya untuk mencari dan memikirkan pakai baju mana yang sekiranya pantas untuk bertemu dengan orang tua Dina. Pakaianku sangatlah sedikit, bisa dikatakan baju yang ku pakai itu-itu saja. Namun aku selalu mencocokan atasan dan bawahan yang berbeda-beda. Jadi orang lain tidak akan sadar bahwa bajuku itu-itu mulu yang ku kenakan.


"Pakai ini saja." Aku mengambil kaos polos hitam dengan celana bawahan jeans putih super ngetat. Pakaianku memang kebanyakan baju yang ngepress di badan dan kakiku. Jadi baju dan celana yang ngetat bukan hanya untuk kerja saja, hampir semua baju dan celanaku ketat di tubuhku.


Setelah memakai pakaian yang ku pilih, aku mulai berdandan seadanya agar wajahku terlihat cerah.


Tiiin.. Tiiin...


Kudengar suara klakson mobil Dina. Aku tidak menghampirinya keluar, aku masih asik bergulat dengan dandananku. Bukan aku tak ingin dia masuk, karena setiap dia datang ke kosanku dia sudah pasti langsung masuk sendiri tanpa harus aku yang membukakan pintu.


"Pagiiiiii..." Suara Dina yang nyaring membuat kupingku pengang.

__ADS_1


"Sssttt..." Aku meletakkan jari telunjukku di depan bibirku dengan maksud untuk menyuruhnya diam dan tidak berisik.


"Hehee... Sorry. Ini buatmu." Dina terkekeh sendiri dan memberikanku sebuah paperbag dari sebuah toko yang mahal.


"Apa ini?" Tanyaku padanya.


"Pakailah sekarang! Aku tak mau lihat kamu pakai baju itu-itu lagi. Bosan aku melihatnya." Kata Dina dengan wajah yang sedikit di tekuk.


"Kamu membelikannya buatku?" Tanyaku.


"Aku tadi beli untuk diriku, cuma tidak cocok sepertinya denganku. Jadi daripada ku buang, lebih baik aku kasih ke kamu" Ucapnya.


Aku pun mengeluarkan isi dari paperbag tersebut, terlihat sebuah dress yang sangat lucu sekali. Sejak kapan Dina ingin membeli dress untuk dirinya? Dia tak pernah mau mengenakan pakaian seperti ini. Dia ingin membohongiku.


"Terima kasih banyak, Din. Aku pakai deh untuk ke rumahmu."


Aku segera membawa dress itu ke kamar mandi dan mengganti pakaianku disana. Tak butuh waktu lama aku pun keluar dari kamar mandi.


"Bagaimana?" Aku bertanya padanya tentang penampilanku dengan dress pemberiannya.


Kami pun segera menuju ke rumah Dina, tempat dimana mama Dina sudah menungguku disana. Walau malas untuk kesana, tapi aku senang karena aku sudah merasakan rindu keluarga disana. Mama Lastri dan Papa Wijaya, mereka orang tua Dina yang telah memperilakukanku seperti anak mereka senditi. Sifat mereka jauh lebih baik daripada keluarga kandungku. Tak apa, dengan adanya mama Lastri dan juga papa Wijaya, aku bisa merasakan kembali bagaimana rasanya di perhatiin dan di sayang oleh orang tua.


***


"Maaaahhh... Anak keduamu sudah dataaaannnggg" Teriak Dina memanggil mamanya ketika kami baru saja sampai di rumahnya.


"Eeehhh Anya." Mama lastri menyambut kedatanganku dengan aku salim padanya, memeluk dan ia mencium kedua pipiku. "Mama kangen banget sama kamu sayang."


"Sama, Anya juga kangen sama mama dan papa disini. Cuma kalian keluarga Anya satu-satunya." Ucapku dengan jujur.


"Bisa saja kamu. Ayo kita makan bareng, kamu pasti belum makan kan? Kita makan sama-sama."


Aku, Dina, dan juga mama Lastri melangkah menuju meja makan di rumah ini. Terlihat makanan-makanan enak yang sudah di masak oleh mama Lastri. Masakan mama Lastri benar-benar sangat enak, mama sangatlah pandai mengolah bumbu dapur dengan makanan mentah jadi masakan yang super enak dan lezat.


Kami pun duduk di bangku ruang makan dan segera mengambil makanan yang sudah disediakan.


"Makan yang banyak ya sayang." Ucap mama Lastri sambil mengelus rambutku.

__ADS_1


"Baik mah, aku akan sangat lahap jika makan masakan mama. Masakan mama paling the best" ucapku dengan candaanku.


"Aaah. Mama mah nyediain makanan enak dan banyak juga kalau ada Anya doang." Protes Dina dengan candaan kecil.


"Masih mending kamu masih di masakin dan di kasih makan"


Melihat perdebatan Dina dengan mamanya membuatku tertawa terkekeh. Betapa bahagia dan harmonisnya keluarga mereka.


"Eh Anya datang?" Seorang lelaki yang baru saja keluar dari kamarnya menyapaku sambil melangkah ke tempat kami semua duduk.


"Iya pah." Aku segera salim dengan Papa Wijaya.


"Gimana kuliahmu nak?" Tanya papa Wijaya


"Lancar pah" Jawabku dengan senyum.


"Syukurlah"


Kami pun makan bersama diruang makan tersebut. Tak lama makanan kami pun habis dan perut kami pun kenyang. Perutku rasanya begah sekali sudah kekenyangan karena makanan enak ini.


"Oh ya mah, hari ini papa ada urusan kantor untuk keluar kota." Papa Wijaya ijin dengan istrinya saat kami semua menyelesaikan makan kami.


"Kok mendadak?" Tanya mama Lastri.


"Iya, ada masalah di kerjaan papa."


"Ya ampun, ya sudah semoga aja cepat kelar masalahnya. Ada yang perlu mama siapin?"


"Tidak perlu, papa sudah menyiapkannya kok."


"Baiklah. Kabarin mama kalau ada apa-apa."


"Iya pasti, ya sudah papa berangkat dulu. Anya kamu disini saja dulu ya"


Papa Wijaya berpamitan pada kami. Melihat keluarga Dina yang akur, sebenarnya aku iri kenapa orang tuaku tidak seperti papa Wijaya dan mama Lastri yang penuh kehangatan di dalam rumah. Giliranku untuk bersaliman dengan papa Wijaya setelah mama Lastri dan juga Dina. Aku menyalami tangan papa Wijaya, tiba-tiba saja aku terkejut papa Wijaya mencium pipiku. Ini pertama kalinya ia melakukan hal itu padaku setelah bertahun-tahun kenal. Mama Lastri dan Dina yang melihatnya bersikap biasa saja seperti tak ada hal yang janggal.


Papa Wijaya pun pergi meninggalkan rumah. Aku pun membantu mama Lastri untuk mencucikan piring bekas kami makan, walaupun awalnya ia tidak memperbolehkanku mencuci piring tapi aku tetap memaksa untuk melakukan hal ini. Setelah semuanya bersih kami bertiga berkumpul di ruangan keluarga dimana kami mengobrol dan juga bercanda bersam

__ADS_1


__ADS_2