Wanita Penghibur

Wanita Penghibur
Part 36


__ADS_3

...Ada kertas diberi perekat...


...Kertasnya putih dalamnya hangat...


...Selamat membaca wahai sahabat...


...Semoga harimu selalu semangat....


...W.A.N.I.T.A P.E.N.G.H.I.B.U.R |36|...


Dalam per jalanan pulang, di dalam mobil yang me laju dengan tenang di jalan raya, Fan Ny sibuk dengan pikiran nya. la tidak bisa me lupa kan begitu saja per temuan singkat nya dengan Miranda saat di toilet tadi. la juga tidak sengaja ber temu dengan sahabat nya itu. Miranda sedang ber ada di sela per temuan dengan klien baru nya malam ini, Fan Ny ter kejut ketika tiba-tiba saja Miranda menarik nya ke sudut ruangan. Bukan nya gembira karena per temuan mereka, ekspresi Miranda justru di selimuti ke khawatiran. "Kau harus ber hati-hati," bisik Miranda hati-hati.


"Kenapa?" Fan Ny tidak me ngerti. Apa ter jadi sesuatu dengan kantor Madame Jasmine se lagi ia tidak di sana?


"Tuan Scott marah dan men cari mu."


"Apa?" Fan Ny sejenak kehilangan napas nya. "Tuan Scott mencari ku?"


"Tentu saja. Dia marah karena Madame Jasmine me mutus kontrak mu dengan nya dan mem beri kan pada penyewa lain. Dia men datangi kantor dan me ngancam Madame Jasmine agar mengembalikan mu atau dia akan meng hancur kan kantor."


Fan Ny me nutup mulut tak per caya. la benar-benar ter kejut. "Lalu apa Madame Jasmine mem beri tahu Tuan Scott di mana aku?" Akan ter jadi ben cana apa bila Tuan Scott men datangi nya di rumah Cam.


"Madame Jasmine tidak mem beri tahu nya. Itu me langgar per aturan. Justru karena Madame Jasmine me nolak mem beri informasi, Tuan Scott men jadi murka."


Debaran di dada Fan Ny me ngencang. Apa yang harus ia laku kan?


"Aku tidak be gitu yakin, tapi aku me miliki firasat Tuan Scott sedang men cari mu saat ini. Se baik nya, kau ber sembunyi. Kau tidak boleh ber keliaran seperti ini lagi." Miranda tampak benar-benar cemas.


"Tapi aku tidak bisa. Apa yang harus ku kata kan pada tuan ku."


"Kau harus me laku kan nya. Kau mungkin tidak me lihat bagai mana ekspresi Tuan Scott saat me ngetahui kau sudah di ambil penyewa lain. Dia tampak sangat kejam dan ber bahaya. Tuan Scott bisa saja me laku kan hal jahat pada mu jika dia menemu kan mu. Aku sangat meng khawatir kan ke selamatan mu."


Fan Ny sungguh meng hargai pe ringatan Miranda, tetapi ia tidak mungkin ber sembunyi hanya karena ini. Sekarang, prioritas nya ada lah mem bahagia kan Cam. Ia ter senyum, lalu me megang ke dua pundak Miranda. "Aku akan baik-baik saja. Ber henti lah meng khawatir kan ku dan lanjut kan pekerjaan mu."


Setelah itu, Fan Ny me mutus kan keluar. Ia mem batal kan rencana awal nya untuk mem benar kan riasan. Ia tidak ingin mem buat Cam me nunggu lama.


Fan Ny tidak tahu masalah nya akan serumit ini. Me ngapa Tuan Scott harus marah? Apa karena pria itu me rasa rugi se telah mem beri Fan Ny be gitu banyak hadiah, tetapi tidak ber hasil men dapat kan apa pun? Namun, bukan kah Madame Jasmine sudah mem beri Tuan Scott kompensasi? Me ngapa Tuan Scott masih sangat marah dan me ngancam akan meng hancur kan kantor? "Me ngapa kau diam? Apa kau marah pada ku?"


Lamunan yang me nguasai Fan Ny ter buyar kan. Pertanyaan Cam mem buat nya ter sadar. la me noleh ke samping dengan mata me ngerjap-kerjap.


"Aku tidak marah." Karena alasan apa ia marah?


Cam meng angguk lalu men desah. "Aku me minta maaf. Tadi aku tidak ber maksud mem bentak mu. Aku tidak me ngerti me ngapa me lakukan nya."


Apa yang Cam bicara kan? Jika yang di maksud Cam ada lah bentakan nya saat mereka me nuju toilet tadi, sejujur nya Fan Ny sudah me lupa kan nya dan tidak mem per masalah kan nya sama se kali.


"Kau bisa pergi ke kediaman Nyonya Rodriguez atau pun me nemui nya se suka hati mu." Cam diam sejenak, "Bah kan kau boleh ber kenalan dengan putra nya." Se telah itu Cam langsung me maling kan pandangan.


Fan Ny mengerjap kan mata. Jadi, itu marah yang di maksud Cam? la memang ber tanya-tanya me ngapa Cam diam. Sekarang setelah me ngetahui nya, Fan Ny harus me nahan senyum. la senang sekali. Boleh kah ia me nyimpul kan bahwa Cam cemburu?

__ADS_1


"Aku ada lah milik mu hingga kontrak ber akhir. Aku tidak pergi ke mana pun jika kau tidak meng ingin kan nya." Fan Ny men jawab dengan polos nya.


Keadaan men jadi hening. Cam lagi-lagi diam. Fan Ny mem batin, apa kah aku mengata kan se suatu yang salah lagi?


Lagi-lagi hati Cam men desir. Fan Ny tidak tahu be tapa kata-kata nya tadi telah mem bangkit kan g****ah Cam. Setiap pembuluh darah di tubuh nya langsung ter aliri h****at yang mem buat nya ingin me narik Fan Ny ke pelukan nya dan men cium nya hingga napas me reka habis. Cam harus me nahan nya. Ia tidak boleh ber tingkah serampangan seperti manusia primitif di zaman batu. Tapi demi Tuhan, Fan Ny meng klaim gadis itu ada lah milik nya. Dan Cam sangat tidak suka ber bagi, ter utama jika itu ada lah milik nya.


"Kalau be gitu, aku ingin tahu dengan siapa kau pergi ke teater." Fan Ny tiba-tiba saja me rasa panas-dingin. Apa yang harus ia kata kan? Jujur, atau ber bohong saja? Fan Ny lebih me milih jujur. "Tuan Scott."


Cam men dengkus. "Penyewa mu sebelum nya?" Kepala Fan Ny meng angguk.


"Apa dia pernah menyentuh mu?"


Kali ini Fan Ny meng geleng. "Kami bahkan tidak pernah ber temu. Tetapi, Tuan Scott sangat rajin mengirimi ku hadiah. Ber bagai macam hadiah mahal. Tiket teater itu ada lah salah satu nya." Cam diam. Sekarang ia paham me ngapa Fan Ny tidak begitu ter kejut saat me nerima hadiah dari nya. "Apa aku juga boleh ber tanya sesuatu?"


Sejak kapan obrolan mereka men jadi sesi tanya jawab? Walau pun agak keberatan, Cam tetap meng angguk.


"Me ngapa Muffin me milih ku? Maksud ku, Madame Jasmine pasti me nawar kan pada mu murid-murid nya yang lebih cantik dari ku. Apa karena Muffin mengenali ku atau ada alasan khusus? Muffin bahkan sampai me maksa Madame Jasmine agar mem batal kan kontrak ku dengan Tuan Scott."


"Dari mana kau men dengar itu?"


"Asisten Madame Jasmine mengatakan nya secara tidak sengaja."


Bagai mana Cam men jelas kan nya? Apa Fan Ny akan percaya jika ia mengata kan yang se jujur nya?


"Alasan pertama, karena hanya kau yang ku kenal dari sekian banyak gadis yang di tawar kan bos mu itu. Kedua, kau sangat baik hati. Kau rela me nolong se seorang yang tidak kau kenal tanpa pamrih. Mungkin itu lah yang mem buat ku ter tarik pada mu dan ingin me miliki mu. Dan, ketika aku sudah me nentukan pilihan, aku harus me miliki nya apa pun yang ter jadi." Cam me noleh.


"Ter tarik? Apa ter tarik yang di rasa kan lelaki pada wanita yang di cintai?"


Fan Ny meng angguk dengan sorot mata menerawang. Fan Ny me natap jari-jari tangan nya yang ter jalin. Cam menebak Fan Ny ingin mengata kan sesuatu, tetapi dia ragu.


"Apa se telah istri mu me ninggal, Muffin pernah sekali saja jatuh cinta lagi?"


Pernah kah ia jatuh cinta? Tentu saja tidak. Cam meng geleng.


"Apa kah itu penting?"


"Aku tiba-tiba saja ber pikir, alasan Muffin tetap sendiri karena belum me nemu kan wanita yang se banding dengan Fiona. Muffin tidak bisa lepas dari bayangan nya. Muffin bukan nya tidak bisa me lupa kan Fiona, tetapi setiap kali ber temu dengan seorang gadis, tanpa sengaja Muffin mem banding-banding kan dengan Fiona sehingga bagi mu tidak ada wanita lain yang lebih baik dari Fiona. Itu lah alasan me ngapa Muffin se lalu sendiri. Muffin tidak pernah mem buka hati."


Kata-kata itu bagai kan palu yang me mukul hati Cam hingga benak nya ter guncang, la tak percaya Fan Ny men ceramahi nya. "Jadi maksud mu, aku orang yang angkuh?"


"Tidak, bukan itu maksud ku." Fan Ny panik. "Muffin bisa lepas dari belenggu masa lalu. Muffin harus me mulai nya dengan me maaf kan diri sendiri."


Cam menatap nya.


"Aku sudah tahu tentang masa lalu Muffin dan Fiona, tentang kecelakaan itu dan tentang me ngapa Muffin men sewa jasa ku."


"Siapa yang men cerita kan nya pada mu?"


"Austin Carter."

__ADS_1


Cam men desah berat.


"Jadi, kau sudah mengetahui nya. Apa sekarang kau ingin mengasihani ku?"


"Muffin tidak perlu menyalah kan diri sendiri. Kejadian itu bukan kesalahan mu. Muffin hanya ke betulan ber ada di sana ketika Tuhan me ngambil nyawa istri mu. Kematian Fiona ada lah takdir, dan kecelakaan itu hanya lah penyebab nya. Semua nya bukan salah mu."


Cam sudah sering men dengar kata-kata itu, tetapi ini pertama kali nya kata-kata itu me masuki hati nya hingga ke sudut ter dalam, mem buat hat inya perih. Fan Ny mem buka pikiran dan hati nya. la mengakui nya. Sudah ter lalu lama ia teng gelam dalam pen deritaan. Cam ingin meng akhiri nya. Ia tidak mau ter belenggu oleh ke sendirian dan rasa ke sepian.


"Jangan menanggung nya sendirian." Fan Ny me letak kan tangan nya di pipi Cam. Sungguh hangat dan meneduh kan. Tanpa sadar Cam menyandar kan pipi nya ke tangan Fan Ny. la meng genggam tangan Fan Ny seakan itu adalah satu-satu nya pijakan agar tidak ter jatuh. "Terima kasih sudah tetap bersama ku walau pun kau sudah me lihat ku dalam keadaan menyedih kan."


"Semua orang me miliki tempat gelap dalam hati nya. Begitu pun aku. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Dukungan orang orang yang peduli pada mu lah yang mem buat segala nya men jadi sempurna."


Cam ter senyum dalam diam nya seraya meresapi hangat nya tangan Fan Ny. Fan Ny benar, karena ia se lalu meng abai kan dukungan orang-orang di sekitar nya, ia jatuh dalam keterpurukan.


Mulai sekarang, Cam ber janji akan lebih mem buka diri dan me nerima bahwa ia pun masih ber hak untuk bahagia. Semua nya ber kat Fan Ny. Cam me mandang gadis itu dengan ber binar. "Terima kasih untuk segala nya. Aku tidak tahu harus ber terima kasih dengan cara apa."


Fan Ny spontan men jawab, "Bagai mana jika kita ber kencan besok?"


"Besok? Aku harus be kerja, ada rapat dan...."


"Libur lah untuk besok," sela Fan Ny seraya me letak kan telunjuk nya di bibir Cam. "Muffin harus ber istirahat. Sehari bolos tidak akan mem buat perusahaan mu bangkrut."


Me lihat wajah lembut Fan Ny, Cam tidak sampai hati menolak nya.


To Be Continue


Budidayakan setelah membaca, like dulu atau bisa juga sebelum membaca. Aku tahu, author tidak ada artinya tanpa pembaca, dan sebaliknya, jadi ayo bekerja sama saling memberi kesenangan.


JANGAN LUPA MAMPIR KE CERITA YANG LAIN YA, HEHE.



I'm Pregnant : Rayhan & Lisa (42 Episode : END)


I Hate You : Felix & Hanna (61 Episode : END)


Pasutri Gaje : Haris & Jasmin (94 : END)


Wanita seratus ribu : Wilson & Veila (81 : END)


Suamiku Jenderal : Chandra & Nadia (188 : END)


Menikahi Bad Boy : Azri & Widya (101 : On Going)


Tiba-tiba dilamar : Caesar & Alfira (51 : On Going)


Memories : Bagas & Raline (21 : On Going)


__ADS_1


Dan jangan lupa juga, follow, hehe, terima kasih.


__ADS_2