Wanita Penghibur

Wanita Penghibur
Part 30


__ADS_3

...Ada kertas diberi perekat...


...Kertasnya putih dalamnya hangat...


...Selamat membaca wahai sahabat...


...Semoga harimu selalu semangat....


...W.A.N.I.T.A P.E.N.G.H.I.B.U.R |30|...


"Cam!"


Siapa yang ber teriak malam-malam begini? Jelas sekali bukan Fan Ny, karena suara nya tidak se melengking itu. Sebenar nya, Azri sudah bisa me nebak, tetapi ia ber harap tebakan nya salah. Jika dugaan nya benar, Azri yakin ke datangan orang ini di iringi deretan masalah dan segudang per tanyaan.


Setelah menghela napas, Cam me noleh. la mengerang me lihat sosok Ivy Bailey muncul di ruang makan. Tebakan nya tepat. Cam ber harap Tuhan menolong nya se hingga bisa ber bicara dengan Ivy tanpa emosi.


"Ivy, apa kabar? Kau selalu datang tanpa mem beri tahu ku." Ivy tidak mem balas saapaan Cam, malah langsung me nyerbu Cam dengan se rentetan per tanyaan ber nada tidak sabar, "Siapa gadis yang mem buka kan pintu? Kata kan pada ku dia hanya pem bantu baru di rumah ini?"


Dia bukan pem bantu! ketus Cam dalam hati. Ini sangat me repot kan. Cam tidak tahu bagai mana men jelaskan nya. Ivy bukan lah orang yang mudah di hadapi seperti Bibi Bell. Dan parah nya, dia ada lah adik Fiona.


Tetapi, Cam tetap harus men jawab. "Dia tunangan ku." Ivy Bailey mem beku. Gadis itu me mekik, "Dia... Siapa?!"


"Dia...." Cam me lihat kedatangan Fan Ny. Ekspresi Fan Ny penuh tanda tanya saat meng hampiri nya. Cam me raih tangan Fan Ny, lalu me narik gadis itu ke sisi nya. Mata Ivy me nyipit tajam me nyaksi kan aksi itu.


"Ivy, gadis ini tunangan ku, Fan Ny Blair. Dan, Fan Ny, dia...." Cam menelan ludah sebelum mengatakan nya. "Dia adik Fiona."


Adik Fiona!


Fan Ny ter kesiap. Dengan cepat ia me mandang Ivy. Sungguh tak di sangka dia ada lah adik Fiona. Ivy cantik, aura nya me mancar kan talenta dan kecerdasan. Secara naluriah, kesan itu mem buat Fan Ny me rasa di kalah kan. Jika Ivy saja sudah mem buat nya ter pukul, bagai mana dengan Fiona?


"Aku Fan Ny Blair." Fan Ny mengulur kan tangan.

__ADS_1


Tangan Fan Ny tidak di jabat. Ivy hanya me mandang dengan alis terangkat. Fan Ny ter singgung. Mengapa dia ber sikap dingin? Apa Ivy tidak rela Cam men jalin hubungan lagi dan me lupa kan mendiang kakak nya?


Pertanyaan itu di aju kan Ivy pada Cam dengan tajam. "Sejak kapan kau ber tunangan? Mengapa aku tidak mengetahui nya?"


"Aku tidak perlu izin mu untuk ber tunangan."


"Tapi aku keluarga mu! Kau tidak bisa ber tunangan begitu saja. Aku tidak percaya kau me laku kan ini."


Fan Ny bisa me rasa kan kemarahan Ivy ketika gadis itu men delik pada nya. Aura per musuhan me mancar. Tapi, tunggu! Kebencian yang Ivy per lihat kan bukan ke marahan seorang adik, tetapi ke marahan ter hadap rival cinta.


Astaga, Ivy me nyukai Cam. Gadis itu cemburu!


Apa Cam mengetahui nya? Fan Ny pikir tidak. Sikap Cam menunjuk kan bahwa pria itu memang tidak mengetahui nya. "Ivy, sudah waktu nya aku men cari pasangan." Cam men desah. "Jadi, kau ber maksud me lupa kan kak Fiona? Bagai mana kau tega melakukan nya?"


Rahang Cam mengeras. "Aku tidak me lupa kan Fiona."


"Lalu apa yang kau laku kan sekarang?"


"Apa aku harus selama nya sendiri?"


"Kami sedang menyiap kan makan malam ketika kau datang. Apa kau ingin ikut?" Fan Ny langsung meng gigit bibir karena ajakan ramah nya tidak men dapat kan respon sesuai harapan. Fan Ny menyipit tajam.


"Aku tidak lapar. Seperti nya, aku datang di waktu yang salah. Maaf jika aku meng ganggu kalian." Ivy ber balik, kemudian mengeluar kan sesuatu dari dalam tas nya dan me letak kan di meja makan. "Mama menyuruh ku mengantar kan ini. Tetapi, seperti nya kau tidak akan membutuhkan nya." Mata nya melirik meja.


Ekspresi Ivy ketika me mandang Cam mem buat Fan Ny ter cekat. Itu adalah ekspresi gadis yang patah hati. Ivy seperti nya memang menyukai Cam sejak lama. Ivy memaling kan pandangan, lalu pergi.


Suasana sempat hening sepeninggal Ivy. Fan Ny pun tidak tahu harus bagai mana untuk men cair kan keadaan. Kedatangan Ivy tadi me rusak mood Cam, Ekspresi Cam kembali sendu. Pada hal, Fan Ny sudah senang Cam bisa ber gembira dan santai.


Fan Ny me milih mem buka kotak yang Ivy berikan tadi. Bau harum khas langsung me nusuk hidung. Fan Ny mengedip takjub mengetahui isi kotak itu adalah Cornish Pasty. la teringat pada Cornish Pasty yang ada di dalam lemari pendingin. Kedua nya mengeluar kan aroma yang sama, jelas di buat oleh orang yang sama. Jadi, Cornish Pasty itu juga Cornish Pasty yang di kirim oleh Ivy.


"Muffin, kau men dapat Cornish Pasty," ujar Fan Ny, lalu me noleh ke arah Cam.

__ADS_1


"Mama Fiona tahu aku suka Cornish Pasty. Meski pun aku sudah bukan menantu nya lagi, beliau tetap rutin mengirim kan nya pada ku. Mereka masih memikir kan ku walau pun aku sudah...." Cam tidak melanjut kan. Suara nya ter dengar letih. "Maaf, Fan Ny. Kedatangan Ivy mem buat keadaan men jadi runyam."


Tunggu, apa yang akan di katakan Cam? Mengapa dia tidak melanjutkan nya? Fan Ny sangat penasaran karena Cam tampak ter siksa.


"Tidak apa-apa." Fan Ny diam, me nunggu. Fan Ny ber harap Cam akan melanjut kan apa yang ingin di ucap kan nya. Namun, Cam hanya tetap diam.


Sekarang Fan Ny tidak bisa me nahan rasa penasaran. la harus men cari tahu apa yang ter jadi dengan Fiona dan penyebab kematiannya. Fan Ny tidak peduli sudah ber janji tidak akan ikut campur urusan Cam lagi. la tidak tahan terus ber pangku tangan, sementara ada se seorang penting, yang mem butuh kan bantuan. Meski pun Cam tidak mengatakan nya, Fan Ny yakin sebenar nya pria itu mem butuh kan bantuan dari seseorang agar bisa lepas dari penderitaan.


... TO BE CONTINUE .......


Budidayakan setelah membaca, like dulu atau bisa juga sebelum membaca. Aku tahu, author tidak ada artinya tanpa pembaca, dan sebaliknya, jadi ayo bekerja sama saling memberi kesenangan.


JANGAN LUPA MAMPIR KE CERITA YANG LAIN YA, HEHE.



I'm Pregnant : Rayhan & Lisa (42 Episode : END)


I Hate You : Felix & Hanna (61 Episode : END)


Pasutri Gaje : Haris & Jasmin (94 : END)


Wanita seratus ribu : Wilson & Veila (81 : END)


Suamiku Jenderal : Chandra & Nadia (188 : END)


Menikahi Bad Boy : Azri & Widya (99 : On Going)


Tiba-tiba dilamar : Caesar & Alfira (48 : On Going)


Memories : Bagas & Raline (21 : On Going)

__ADS_1



Dan jangan lupa juga, follow, hehe, terima kasih.


__ADS_2