Wanita Penghibur

Wanita Penghibur
Part 35


__ADS_3

Ada kertas diberi perekat


Kertasnya putih dalamnya hangat


Selamat membaca wahai sahabat


Semoga harimu selalu semangat.


***


Makan malam itu tidak di langsung kan di rumah Bibi Bell seperti dugaan nya. Karena itu, ia ter kejut ketika mobil ber henti di sebuah restoran elit di pusat kota. Syukur lah Fan Ny me milih gaun ini. Awal nya, ia mengira ber dandan ter lalu ber lebihan untuk se buah makan malam rumahan.


Mereka di sambut oleh Bibi Bell ketika tiba di meja makan yang sudah di pesan sebelum nya. Fan Ny ter ke siap me nyadari me reka tidak hanya makan ber tiga, tetapi ber sama sepasang suami istri yang baru di lihat Fan Ny. Ah tidak, tunggu, Fan Ny pernah ber temu dengan sang istri sebelum nya di teater. Wanita itu mengenali Fan Ny, senyum nya me rekah cerah.


"Oh, bukan kah kau Fan Ny Blair?"


"Nyonya Audie Rodriguez." Fan Ny menunduk kan kepala dengan sopan. Ia pun tak bisa menyembunyi kan kegembiraan nya me lihat wanita paruh baya itu.


"Kalian sudah saling mengenal?" seru Bibi Bell takjub. Cam pun me mandang Fan Ny dengan raut yang sulit di arti kan. Fan Ny merona. "Aku hanya pernah ber temu dengan nya sekali."


"Dan, per temuan sangat menyenangkan, Sayang. Kau ingat gadis manis yang ku temui di teater? Dia orang nya." Audie Rodriguez berkata pada suaminya.


"Jadi, kau gadis yang sudah men curi per hatian istri ku? Per kenal kan, aku Darren Rodriguez." Pria itu ber diri sambil meng ulur kan tangan nya. Fan Ny men jabat nya dengan senang hati. Tak me ngira ia akan di sambut se ramah ini.


"Aku Fan Ny Blair."


"Aku sungguh me nyesal saat itu tidak me nemani istri ku me nonton teater. Ku kira dia akan pulang dengan marah, tetapi syukur lah wajah nya ter lihat ber seri-seri. Se telah itu dia se lalu men cerita kan tentang mu. Aku sampai cemburu."


Hati Fan Ny meng hangat men dengar celotehan Darren Rodriguez.


Mereka ada lah pasangan suami istri yang ramah dan menyenang kan. "Sungguh merupakan kejutan kalian sudah saling mengenal," sela Bibi Bell. "Per kenal kan, ini keponakan ku, Cam Harrison dan Fan Ny Blair tunangan nya."


"Oh." Audie Rodriguez me lebar kan bola mata. "Jadi kau sudah me miliki tunangan? Apa dia kekasih yang tidak datang me nemani mu me nonton teater itu?"


Tangan Fan Ny yang me lingkar di lengan Cam men cengkeram lengan jas Cam. la tegang. Bagai mana ia men jelaskan nya? Saat itu yang seharus nya datang me nonton bersama nya ada lah Tuan Scott, bukan Cam.


Fan Ny me maksa kan senyum senatural mungkin. "Begitu lah." la tidak me nyadari rahang Cam yang me ngeras dan raut wajah nya yang meng gelap.


Setelah sesi per kenalan yang rasa nya bagai se abad lama nya, makan malam pun di saji kan. Fan Ny tidak ber gabung dalam per cakapan yang se bagian besar mem bahas peri hal bisnis. la tidak ingin mem beri kan kesan sok tahu.


"Sungguh sangat di sayang kan kau sudah me miliki kekasih." Ucapan Audie Rodriguez meng alih kan per hatian Fan Ny pada nya. Kedua mata ramah wanita itu me mandang Fan Ny lembut. "Ku pikir, jika kau masih lajang, aku ingin mengenalkan mu pada putra ku."


Fan Ny me rona. la ingat se belum ber pisah, Audie Rodriguez pernah mengata kan hal yang sama.

__ADS_1


"Sayang, berhenti lah men jodoh kan anak kita pada setiap gadis yang kau kenal." Darren Rodriguez meng ingat kan istri nya dengan suara yang tenang. Al hasil, fokus per hatian pun ter tuju pada Fan Ny dan Audie Rodriguez.


"Kau me miliki seorang putra, Nyonya Rodriguez?" tanya Bibi Bell.


"Ya, dia kurang lebih seusia dengan Cam. Tetapi, dia ter lalu sibuk me mikir kan bisnis sehingga tidak sempat men jalin hubungan dengan seorang gadis. Sungguh sulit mem bujuk nya untuk me nikah."


"Aku mengerti perasaan itu." Bibi Bell ter tawa. "Aku pun sempat men jodoh kan Cam sebelum dia me ngenal kan tunangan nya. Saat mengetahui ter nyata dia diam-diam men jalin hubungan dengan Fan Ny, aku paham me ngapa dia selalu me nolak setiap gadis yang ku aju kan."


Fan Ny tidak me ngerti sejak kapan pembicaraan men jadi ter pusat pada anak-anak mereka dan per jodohan. Bibi Bell ter nyata me miliki seorang putri yang sekarang tinggal di luar negeri ber sama suami nya. Cam tidak pernah men cerita kan nya. Fan Ny mengira Bibi Bell tidak me miliki anak.


"Aku sebenar nya juga me miliki seorang putri," ujar Audie Rodriguez, sorot mata nya meredup. "Tetapi kami kehilangan nya saat dia ber usia satu tahun."


"Me ninggal dunia?" tanya Bibi Bell prihatin.


"Begitu lah. Jika dia masih ada, usia nya mungkin sama dengan Fan Ny."


Fan Ny men desah iba. Sungguh kasihan. Pantas saja Audie Rodriguez begitu antusias saat ber bicara dengan nya. Kini Fan Ny paham. la meng ingat kan Nyonya Rodriguez pada putri nya yang sudah tiada.


Makan malam pun ber akhir di sertai undangan makan malam lain yang kini datang dari Audie Rodriguez langsung. Mereka me ngundang Cam dan Fan Ny agar datang ke kediaman mereka. Fan Ny me nerima nya dengan senang hati. Setelah meng antar Bibi Bell ke mobil nya, Fan Ny baru me nyadari Cam tidak bicara sepatah kata pun. Kebisuan Cam di mulai sejak men dengar Audie Rodriguez yang ber gurau akan mengenal kan Fan Ny pada putra nya jika mereka ber kunjung ke rumah nya kelak.


Apa Cam marah karena Fan Ny ber kata me nanti kan per temuan itu? Pada hal Fan Ny hanya ber canda. Mengapa Cam menanggapi nya serius?


Kini mereka ber diri dalam suasana canggung di depan restoran.


"Apa sebaik nya kita meng ambil mobil sekarang? Atau, Muffin mau aku yang meng ambil nya?" Fan Ny tahu itu konyol. Ia hanya tidak suka di diam kan.


"Aku ingin pergi ke toilet. Apa aku..."


"Kau tidak boleh pergi ke mana pun. Diam di sini."


"Tapi...."


Decakan Cam mem buat Fan Ny me lonjak takut. la me nanti dengan waspada apa yang akan Cam kata kan ketika pria itu ber paling pada nya.


"Baik lah, kau boleh pergi. Tapi aku akan ikut dengan mu!" Sebenar nya apa yang merasuki Cam? Fan Ny meng angguk dengan kaku karena tidak mau sampai membuat nya marah. Meski pun kurang nyaman, ia tetap mem biar kan Cam meng antar nya.


Fan Ny ingin sekali me miliki kemampuan mem baca isi pikiran orang lain karena ia ingin tahu apa yang sedang ber kecamuk dalam otak Cam saat ini.


Cam tidak mengerti ia marah. Rasa nya ingin sekali la meng hantam sesuatu hingga nyeri yang menusuk hati nya hilang. Apa yang mem buat nya tidak senang? Darren Rodriguez sudah ber kata akan mem pertimbang kan tawaran kerja sama yang Cam aju kan se belum pergi. Seharus nya, itu mem buat Cam gembira, tetapi tidak. Ide pergi ke kediaman Darren Rodriguez membuat nya sebal.


"Mengapa ekspresi mu masam begitu? Apa aku ber buat salah?" tanya Fan Ny hati-hati saat mereka ber jalan menuju toilet.


"Tidak."

__ADS_1


Apa ini kesalahan Fan Ny? Entah lah, Cam sendiri tidak mengerti.


"Nyonya Rodriguez baik sekali mengundang kita makan malam di rumah nya. Aku ingin sekali ber temu dengan nya lagi dan...."


Cukup! Cam tidak ingin mendengar nya lagi! "Tidak!" Awal nya ia hanya ber tujuan mem bungkam Fan Ny, tetapi ia mengatakan nya ter lalu kencang sehingga mem buat gadis itu ter cengang. Cam lalu me nyambung dengan suara yang lebih rendah. "Kau mau pun aku tidak akan pergi ke sana sekarang atau pun nanti. Aku akan me ngundang Tuan Rodriguez datang ke kantor ku. Sendiri."


"Oh, baik lah." Fan Ny meng angguk kan kepala setelah di bentak tadi.


Cam me rasa agak ber salah dan bodoh setelah nya. Me ngapa ia marah sampai seperti itu? Ini per tama kali nya ia ke hilangan kendali hingga me ledak.


Aku salah. Aku harus minta maaf. Cam me ngakui dan amat me nyesal.


Mereka tiba di toilet. "Aku tidak akan lama," ujar Fan Ny pelan dan agak waspada, la takut Cam akan mem bentak nya lagi. Cam mem buka mulut untuk meng ucap kan kata maaf yang sudah me nunggu di ujung lidah, tetapi Fan Ny sudah me ninggal kan nya. Ter paksa ia me nutup mulut nya kembali.


Cam me nunggu sambil merenung kan tindakan nya tadi. Jika mereka pasangan kekasih sungguhan, tindakan nya tadi bisa di arti kan sebagai cemburu. Namun, Cam tidak mungkin cemburu. bukan? la tidak men cintai Fan Ny. Men cintai....


Sudut hati Cam yang men dalam entah me ngapa tidak menyetujui nya. Benar kah ia tidak men cintai Fan Ny? Kalau be gitu me ngapa ia marah hanya karena gadis itu setuju ber temu dengan laki-laki lain atau ber sama laki-laki lain?


Tentu saja men dengar Fan Ny pergi ke teater ber sama seorang lelaki pun mem buat Cam panas hati. Ada apa sebenar nya dengan diri nya malam ini?


TO BE CONTINUE ....


Budidayakan setelah membaca, like dulu atau bisa juga sebelum membaca. Aku tahu, author tidak ada artinya tanpa pembaca, dan sebaliknya, jadi ayo bekerja sama saling memberi kesenangan.


JANGAN LUPA MAMPIR KE CERITA YANG LAIN YA, HEHE.



I'm Pregnant : Rayhan & Lisa (42 Episode : END)


I Hate You : Felix & Hanna (61 Episode : END)


Pasutri Gaje : Haris & Jasmin (94 : END)


Wanita seratus ribu : Wilson & Veila (81 : END)


Suamiku Jenderal : Chandra & Nadia (188 : END)


Menikahi Bad Boy : Azri & Widya (101 : On Going)


Tiba-tiba dilamar : Caesar & Alfira (51 : On Going)


Memories : Bagas & Raline (21 : On Going)

__ADS_1



Dan jangan lupa juga, follow, hehe, terima kasih.


__ADS_2