Wanita Penghibur

Wanita Penghibur
Part 38


__ADS_3

Cuara hari itu cerah dengan angin ber tiup sepoi-sepoi. Fan Ny sudah me nunggu sekitar dua puluh menit, cukup lama bagi nya. Kaki nya sudah pegal. la me nyesal me ngapa tidak me makai sepatu dengan hak datar saja, alih-alih me makai sepatu hak tinggi. la juga sudah ber dandan untuk acara kencan ini.


Cam ber janji akan datang dan mem bawa nya ber jalan-jalan. Lalu, apa yang me nahan nya? Apa mungkin kencan ini di batal kan? Jika Cam ingin mem batal kan nya, bukan kah se baik nya mem beri tahu Fan Ny?


Ponsel nya ber dering. Fan Ny meng angkat nya dengan cepat be gitu tahu si pe nelepon ada lah orang yang sudah ia tunggu.


"Kau lama menunggu?" suara Cam langsung me nyerbu nya. "Tidak juga. Kau di mana?" Fan Ny men cari sosok Cam.


"Di sini."


Peng lihat an Fan Ny ter tutup pemandangan puluhan kuntum bunga mawar ber warna peach. Harum mawar yang khas ter hirup hidung nya. Fan Ny takjub. la langsung ber balik dan ber hadapan dengan Cam yang menyodor kan buket mawar. Buket mawar itu mem buat Fan Ny ter kesima, tetapi ekspresi lembut Cam mem buat jantung nya jatuh bangun, lebih dari sekadar ter pesona. "Apa ini untuk ku?" Fan Ny agak ter bata.


"Aku tidak me lihat ada gadis lain di sini," kata Cam ringan. Taman tempat mereka ber temu memang agak sepi siang itu.

__ADS_1


Fan Ny me nerima nya dengan senang hati. Ia mem benam kan hidung nya pada kumpulan kuntum mawar dengan pipi merona. Ini ada lah buket bunga pertama nya. Hati nya me lambung hingga ke awang-awang. Kencan yang di awali dengan bunga, sungguh romantis.


Mengapa harus warna peach? Fan Ny penasaran. Bukan kah biasa nya se orang pria mem beri kan mawar merah pada ke kasih nya? Seperti nya ia meng gumam kan per tanyaan itu, karena ia men dengar jawaban dari Cam.


"Mawar peach me ngandung makna rasa terima kasih, apresiasi, ke kaguman, dan simpati. Semua itu me wakili perasaan ku tentang mu." Fan Ny me rasa kan jantung nya ber degup kencang.


"Warna peach juga meng ingat kan ku pada gaun yang kau pakai kemarin."


Panas itu men jalar cepat hingga ke ubun-ubun. Fan Ny me rasa seperti ter serang demam. Walau di ucap kan tanpa maksud apa-apa, ia tetap ber debar.


"Aku tak ingat kapan ter akhir kali aku ber jalan-jalan seperti ini," ucap Cam me mecah suasana damai di antara mereka.


"Apa dulu Muffin tidak me lakukan nya ber sama Fiona?"

__ADS_1


"Fiona sangat ter obsesi dengan cita-cita nya men jadi sutradara sehingga waktu nya lebih banyak ia habis kan di lokasi syuting." Cam me runduk sejenak, seulas senyum ter sungging di bibir nya. "Aku selalu ber kata dia tidak cocok diam di balik kamera. Dia lebih pantas beraksi di depan kamera."


Rasa cemburu menyengat ulu hati Fan Ny me lihat Cam mengenang masa bahagia ber sama istri nya. Fan Ny tidak boleh kesal. Kenangan Cam dan Fiona ada lah se suatu yang tidak bisa di ubah nya. la hanya iri pada Fiona yang pernah me lewati masa bahagia ber sama Cam.


"Aku tahu. Fiona sangat cantik."


"Kau tahu?" Cam tampak sangat kaget.


"Aku sudah me lihat foto nya."


"Apa Austin yang mem per lihat kan nya pada mu?"


Fan Ny meng angguk.

__ADS_1


"Dasar mulut besar," gerutu Cam.


Bersambung ....


__ADS_2