
Austin Carter tak pernah bisa men jaga mulut nya. Cam meng ingat kan diri sendiri agar mem peringat kan teman nya itu untuk tidak me ngata kan hal yang tidak perlu pada Fan Ny. la khawatir Austin akan me racuni otak polos Fan Ny.
"Se jujur nya aku sungguh iri pada orang-orang yang me miliki cita-cita."
Cam me noleh. "Kau juga bisa me miliki nya."
Ekspresi senang di wajah Fan Ny me redup. "Tidak selama aku masih men jadi se orang wanita penghibur. Hidup ku sudah ter ikat dengan kontrak yang ku sepakati dengan Madame Jasmine"
Benar juga. Sungguh tidak adil men dengar ke sempatan Fan Ny untuk bisa me lebar kan sayap nya di renggut hanya karena tuntutan hidup.
"Seandai nya kau me miliki nya, apa yang kau ingin kan?"
"Cita-cita ku tidak ter lalu muluk. Aku hanya ber harap bisa men cintai se seorang dengan bebas dan hidup ber sama nya, mem bangun se buah keluarga, lalu meng habis kan sisa hidup ku ber sama nya."
"Hanya itu?" Cam ter kejut. Gadis muda seperti Fan Ny biasa nya me miliki cita-cita yang lebih besar. Contoh nya saja Fiona Walau pun harus menerjang badai dan me lompati angkasa, Fiona akan ber upaya me wujud kan nya.
"Mudah mengatakan nya untuk seseorang yang tidak ber ada di posisi ku. Tapi aku, yang sudah meng gadai kan jiwa dan raga ku agar bisa tetap ber tahan hidup tak bisa me lakukan apa-apa untuk melawan nya."
Seakan ada ben jolan besar di tenggorokan nya, Cam ter diam. Me lihat ketidak adilan di depan mata nya sendiri dan ia tidak tahu harus me lakukan apa untuk meng ubah nya, mem buat Cam depresi.
"Aku penasaran me ngapa tidak ada satu pun foto Fiona di rumah mu."
Sejak kapan topik pem bicara an mem belok ke arah sana? Cam tidak pernah suka apa bila se seorang meng ungkit soal Fiona. Namun, jika itu datang dari Fan Ny, Cam ber sedia mem bahas nya karena Fan Ny bisa me ngerti diri nya. "Ter lalu sakit untuk di ingat. Aku me mutus kan me nyimpan semua nya."
"Muffin pasti masih men cintai nya."
Masih men cintai Fiona? Entah lah. Cam tidak yakin. "Aku bahkan tidak tahu apa itu cinta. Jika apa yang masih ku rasa kan untuk Fiona ada lah cinta, aku tidak meng ingin kan nya. Cinta yang ku rasa kan bagai kan siksaan dan belenggu yang mem buat ku tidak bahagia."
Cinta yang pernah Cam miliki rasa nya bagai racun. Ekspresi Fan Ny me lembut."Cinta itu ketika me lihat air mata nya menetes, hati mu rasa nya bagai kan ter sayat pisau. Senyum nya mem buat mu me rasa se akan kau telah me menang kan se luruh dunia. Kau bahagia saat ber sama nya, dan lebih bahagia lagi saat tahu dia gembira saat ber sama mu. Kau marah me lihat nya ter sakiti dan cemburu saat dia men dapat kan perhatian dari orang lain." Jawaban itu mem buat Cam ter diam.
__ADS_1
"Saat men cintai se seorang, yang di ingin kan hanya mem beri, bukan me minta balasan. Apabila perasaan mu ber sambut, kau akan me nerima cinta yang sama."
Senyum di wajah Fan Ny mem beri nya pandangan baru akan hal yang selama ini ia coba abai kan. Cam me renung. la me nyadari bahwa apa yang mem buat nya ber tindak hingga sejauh ini karena ia jatuh cinta pada Fan Ny.
Apa kah itu mungkin?
Tapi, apa kah Cam sudah bisa me lupa kan Fiona dan mulai me nerima orang lain? Tak bisa di pungkiri Cam masih me rasa takut di tinggal kan.
"Kapan kontrak dengan ku akan ber akhir? Sampai kapan aku akan men jadi wanita simpanan mu?"
Waktu rasa nya ber henti, be gitu pula detak jantung Cam dan langkah kaki nya. "Kontrak apa?"
"Muffin tidak mungkin menyewa ku untuk selama nya, bukan? Suatu saat kontrak di antara kita harus ber akhir dan aku harus kembali ke Madame Jasmine."
Cam tidak me mikirkan nya dan tidak mau ber pisah dengan Fan Ny. Malah sebenar nya, ia lupa bahwa Fan Ny ada lah wanita simpanan nya. Tapi, Cam tahu itu tidak mungkin. Cam ingat kontrak yang di sepakati nya ber sama Madame Jasmine akan ber akhir dalam kurun tiga bulan jika tidak ter jadi masalah sama sekali. Kalau be gitu, ia harus mengembali kan Fan Ny ke tempat nya semula selepas tiga bulan mereka ber sama?
Fan Ny tegang. Di lihat dari ekspresi tidak ber sahabat yang mereka tunjuk kan, seperti nya mereka me miliki tujuan tidak baik, Mereka tidak mungkin mengerumuni dengan maksud meng ajak ber teman. Tanpa sadar, Fan Ny me megang buket erat-erat. Apa mungkin mereka orang-orang nya Tuan Scott?
Cam me narik Fan Ny dan menempat kan diri nya di be lakang pria itu. Mereka ber dua me rasa kan bahaya sedang meng intai saat ini. Fan Ny me rasa ter lindungi, tetapi khawatir, la takut orang-orang itu me lukai Cam.
"Siapa kalian?" tanya Cam tajam.
Tidak satu pun dari mereka men jawab. Alih-alih, salah satu dari mereka yang tampak nya sang pemimpin ber teriak me merintah. "Tangkap gadis itu!"
Mereka benar-benar datang untuk me nangkap ku! Fan Ny mem bulat kan mata. Ia tidak sempat mem pertahan kan diri, tiba-tiba saja tangan nya sudah di tahan oleh se seorang di belakang tubuh nya, mem buat buket mawar yang di genggam nya jatuh ke tanah. Dari mana dia muncul?
"Maaf, Nona, Tuan Scott meminta kami mem bawa Anda tanpa luka. Karena itu, jika Anda ikut kami tanpa per lawanan, pria itu akan baik-baik saja," lirih pria yang me ringkus nya dengan suara rendah tepat di telinga Fan Ny.
Benar dugaan nya. Tuan Scott memang ber ada di balik pengepungan ini!
__ADS_1
Fan Ny men jerit. Pria itu sejenak lengah oleh teriakan nya, mem buat pegangan nya melemah. Ia me manfaat kan kesempatan ter sebut untuk me narik tubuh pria itu, kemudian mem banting nya ke tanah. Aksi nya itu mem buat semua pria ter belalak, tak ter kecuali Cam.
"Jangan me ngira aku mau ikut dengan kalian begitu saja tanpa per lawanan!"
Si pimpinan cepat pulih dari keterkejutan nya. Pria itu mem beri isyarat pada anak buah nya agar men angkap Fan Ny. Dua orang kini ber lari cepat meng hampiri Fan Ny.
Wahhh..., jika dua pria ber tubuh besar itu menyerang secara ber samaan, Fan Ny tidak yakin bisa mengatasi nya. Namun, bukan ber arti ia akan me nyerah. Ia sudah ber siap-siap akan melawan, tetapi Cam ber gerak lebih dulu mem beres kan dua pria itu. Kali ini, Fan Ny yang me nganga takjub. Cam rupa nya bisa bela diri juga! la tak pernah mem bayang kan nya.
"Berani kalian menyentuh nya, aku akan meremuk kan seluruh tulang di tubuh kalian." Tatapan Cam begitu me nusuk dan penuh ancaman.
Fan Ny ber harap Cam tidak menyulut emosi mereka karena akan mempersempit kesempatan untuk kabur. Benar saja, be berapa detik kemudian mereka menyerang secara ber samaan. Fan Ny bisa meng hadapi mereka sebaik Cam, tetapi Cam lebih banyak me lindungi Fan Ny dari pada sebalik nya. Cam tidak mungkin bisa menahan serangan lima belas orang sendirian. Dan, pria-pria itu tidak ber tarung dengan bersih. Ketika Cam lemah, salah satu dari mereka me mukul bagian belakang kepala Cam.
Dalam hitungan detik Cam ambruk ke tanah. Fan Ny men jerit histeris mel ihat Cam ter kapar. Kepanikan ber campur rasa takut menyerbu nya. Fan Ny me nahan napas ketika salah satu dari orang-orang itu me ngambil ancang-ancang hendak melayangkan tendangan ke arah Cam.
"Tunggu! Jangan sakiti dia!"
Orang-orang itu ber henti, dengan kompak me mandang nya. Ketakutan mem buat sekujur tubuh nya gemetar. Jantung nya meng hentak kencang tak ter kendali sampai ia mengira dada nya akan me ledak, la tidak bisa mem bahaya kan nyawa Cam jika terus mem bangkang. Maka, dengan segenap keberanian yang ter sisa, Fan Ny me mutus kan untuk mengabul kan keinginan mereka.
"Baik lah, aku akan ikut dengan kalian!"
Mereka ber diri tegak, memutus kan meninggal kan Cam dan meng hampiri Fan Ny yang sudah pasrah. Fan Ny tidak di ringkus seperti yang ia kira. Orang-orang itu memberi nya jalan untuk pergi lebih dulu, me ngikuti sang pemimpin yang sudah ber jalan. Fan Ny me lirik ke arah Cam sekilas.
Ku mohon ber tahan lah. Muffin tak perlu mengkhawatirkan ku. Hati Fan Ny men celos me lihat Cam tak mem perlihat kan tanda-tanda bahwa pria itu akan siuman dalam waktu dekat.
Tuhan, selamatkan lah Cam.
Dan, Fan Ny mem benci diri sendiri karena tidak bisa me lakukan apa-apa.
Bersambung .....
__ADS_1