
"Kalian masih belum ber hasil me nemukan nya juga?" Untuk ke sekian kali nya, Cam meng ajukan pertanyaan yang sama, mem buat tim ke amanan khusus yang di miliki perusahaan nya gelisah karena Cam tak henti-henti nya meng ganggu konsentrasi mereka. la sekarang ber ada di ruang pusat kendali ke amanan di perusahaan nya. Mereka tidak bisa protes, malah sangat me mahami me ngapa Cam sampai se panik ini. Tunangan nya di culik di depan mata oleh segerombol orang tak di kenal, siapa yang tidak khawatir? Paling tidak, itu lah yang Cam kata kan ke pada mereka. Tidak ada yang bisa mem prediksi yang akan ter jadi. Semua hanya ber harap yang ter baik.
"Agak sulit di lacak, ter utama jika ponsel nya mati," ucap salah satu orang. "Ini sudah hampir malam!" desak Cam tidak sabar. Edward segera men cegah Cam yang ingin sekali men cekik salah satu dari anggota tim.
"Tuan, sebaik nya Anda ber istirahat. Kepala Anda baru saja di obati."
Edward masih tidak me mercayai apa yang ter jadi. la begitu ter kejut ketika menemu kan Cam pingsan di taman itu dengan kepala ber simbah darah. Ia ber pikir, Cam meng alami luka serius, syukur lah tidak. Bahkan, dokter mengatakan luka pukulan itu tidak ber dampak serius pada otak nya. Hanya luka luar se hingga efek paling parah yang di derita Cam hanya benjol dan pusing.
Cam memegangi kepala nya yang di perban, "Aku tidak apa apa Edward. Lanjut kan saja penyelidikan nya." Fan Ny Blair harus di temu kan secepat nya. Can takut ter jadi se suatu pada gadis itu. Cam tidak mau me minta bantuan polisi karena hal itu me repot kan. Ia me miliki tim yang akan bekerja lebih efisien di banding kan polisi.
"Paling tidak Anda harus duduk." Edward men dorong se buah kursi ke sisi Cam karena Cam terus ber jalan mondar-mandir. Me lihat pimpinan mereka risau, bagai mana mereka bisa bekerja dengan tenang? Cam pun me mutus kan duduk karena kaki nya mulai tidak kuat ber diri lebih lama.
Hati nya belum bisa tenang selama keberadaan Fan Ny masih men jadi misteri. la akan mem buat perhitungan dengan pelaku penculikan ini, be gitu ia mengetahui nya. Cam segera kemari begitu selesai di obati di rumah sakit. la pun sudah me minta Edward agar tidak mem beri tahu Bibi Bell atau para pem bantu di rumah bahwa ia di serang dan Fan Ny di culik. Cam tidak mau menimbul kan ke panikan apa pun.
Cam menyalah kan diri nya yang tidak ber usaha lebih keras me lindungi Fan Ny. la tak percaya bisa tumbang hanya karena satu pukulan sehingga pen jahat itu bisa mem bawa Fan Ny pergi. Cam lebih tidak percaya lagi me ngapa ia bisa sekacau ini. Fan Ny tidak pergi untuk selama nya, bukan? Namun, Cam me rasa kan ketakutan dan rasa ber salah yang lebih mengerikan dari yang pernah di rasa kan ketika mengetahui Fiona me ninggal.
__ADS_1
Apa karena kali ini Cam masih me miliki kesempatan untuk menyelamat kan Fan Ny, tetapi ia tetap tidak bisa me lakukan nya?
Cam tidak mengerti. Ia hanya ingin pen deritaan ini segera ber akhir. Fan Ny di temu kan dalam keadaan baik dan pen culik itu di hukum seberat mungkin.
Suara seruan heboh Edward me mecah keheningan. Pemuda itu ber diri dengan ponsel me nempel di telinga. Wajah nya luar biasa senang. "Benar kah?!"
"Kenapa? Ada apa?" Cam begitu ber harap siapa pun yang me nelepon Edward mem beri kan kabar baik tentang posisi Fan Ny.
"Baik aku me ngerti." Edward me nutup ponsel nya. Pria itu dengan tidak sabar segera mem beri tahu Cam. "Tuan. Tunangan Anda telah kembali."
"Petugas keamanan yang ber jaga di rumah Anda mem beri tahu kan bahwa tunangan Anda sudah kembali ke rumah!" seru Edward senang.
"Benar kah?" Cam meng guncang bahu Edward.
"Aku yakin sekali, Tuan." Edward ter senyum lebar.
__ADS_1
Cam me rasa lega, gembira, dan tidak sabar. Senyum nya me rekah di iringi tawa penuh syukur. Sejenak ia tidak tahu apa yang harus di lakukan. Fan Ny Blair sudah kembali. Dia kembali! Kemudian, ia ter ingat bahwa ia harus segera pulang untuk me nemui Fan Ny dan me mastikan sendiri bahwa gadis itu baik-baik saja, la tidak boleh mem buang waktu ber suka cita di sini.
Edward ber gerak cepat men dahului Cam untuk menyiap kan mobil. Cam tidak mungkin mengemudikan mobil seorang diri dalam keadaan nya sekarang. Sekitar se tengah jam kemudian, mereka tiba di rumah besar ber cat putih itu. Cam me lompat keluar dari mobil dengan cepat.
Para pem bantu yang sedang mem bereskan ruang depan me lompat kaget ketika Cam mem buka pintu dan masuk seperti orang kerasukan. Bibi Brown malah ter kesiap me lihat kepala Cam di perban.
"Apa yang ter jadi, Tuan?"
Cam meng abai kan pertanyaan itu. "Di mana Fan Ny?"
"Nona ada di kamar saat ini."
Kamar yang di maksud Bibi Brown pasti kamar yang ber ada tepat di seberang kamar nya karena Bibi Brown tahu Fan Ny tidur di kamar itu, bukan bersama dengan Cam di kamar utama. Cam melesat menaiki tangga me nuju kamar itu. la harus ber henti sejenak di puncak tangga karena kepala nya terasa pusing. la memaksakan diri me langkah. Sedikit lagi. Akhir nya, ia tiba di kamar yang dahulu me rupakan ruang kerja istri nya.
Bersambung .....
__ADS_1