Wanita Penghibur

Wanita Penghibur
Part 44


__ADS_3

"Kau sedang men coba meng alih kan topik," ujar Cam curiga ketika mereka sudah tiba di kamar nya. la me rasa sikap Fan Ny se dikit aneh. Namun, ia tidak me nolak ketika Fan Ny me minta nya ber baring se telah ber ganti baju.


"Aku men cemas kan mu dan ber upaya keras me lacak ke mana preman-preman itu mem bawa mu pergi." la ber upaya men jelas kan, takut jika sikap Fan Ny yang dingin ini karena me ngira Cam tidak ber usaha men cari nya.


Fan Ny ter senyum. "Aku tahu. Muffin pasti akan me lakukan nya." Jawab an Fan Ny yang tidak ter lalu antusias mem buat Cam sedih.


"Aku sangat senang, sungguh. Apa aku harus ter tawa agar Muffin per caya?" tanya Fan Ny.


"Tidak." Cam sadar sikap nya men jadi kekanakan karena cemas.


"Sekarang, lebih baik Muffin istirahat. Jangan cemas kan apa pun lagi," kata Fan Ny.


Cam terus me mandang lekat Fan Ny se lagi gadis itu me nutupi tubuh nya dengan se limut. Ada yang aneh dengan cara nya ter senyum. Cam bisa me rasa kan ke cemas an ter sembunyi di balik wajah cerah nya. Ketika Fan Ny bangkit, Cam men cekal tangan nya, me narik gadis itu hingga kembali duduk.


"Kau tidak akan tidur di sisi ku malam ini?"


"Aku akan kembali se telah ber ganti baju." Fan Ny tidak me natap mata Cam, mem buat Cam yakin gadis ini menyembunyi kan se suatu.


Mata nya me micing. "Kau menyembunyi kan se suatu. Apa ter jadi se suatu saat kau di bawa preman-preman? Se suatu yang tidak bisa kau kata kan pada ku?"


Fan Ny tampak bimbang. Gadis itu sedang ber perang dengan diri nya sen diri. Apa kah se sulit itu men cerita kan apa yang ter jadi pada nya? Cam kecewa karena Fan Ny tidak percaya pada nya. Se telah memikirkan nya be berapa saat, Fan Ny memutus kan meng hindar. "Aku akan kembali."


"Fan Ny Blair!"


Cam me narik tangan Fan Ny lebih erat. Sebenar nya, ia hanya ber maksud meng henti kan Fan Ny yang ber niat me lari kan diri dengan mem buat nya kembali duduk. Namun, tarikan nya ter lalu kencang se hingga mem buat keseimbangan gadis itu goyah. Fan Ny pun jatuh tepat di atas tubuh nya.


Deg.


Rasa sakit men jalari kepala Cam. Sejenak ia me rasa pusing karena harus menanggung beban tubuh Fan Ny se cara tiba-tiba. Tetapi, denyutan itu tidak sebanding dengan keributan lain yang di timbul kan oleh jantung nya. Cam se akan ter sengat listrik ketika se luruh tubuh mereka berimpitan bagai puzzle yang saling menyatu. Ajaib nya, ia tidak merasa sakit. Alih-alih, ia me rasa darah nya me ngalir cepat dari ujung kaki ke ujung kepala di sertai gairah yang menyebab kan panas yang tidak biasa di be berapa bagian tubuh nya.


Ketika keadaan sudah mulai pulih, mata mereka ber tatapan. Cam takjub, karena ini pertama kali nya ia me natap manik mata Fan Ny dalam jarak dekat saat lampu me nyala terang. Kedipan mata Fan Ny mem buat nya tenang. Detik itu juga, ia me rasa se akan menemu kan kembali rumah nya yang hancur.


Fan Ny yakin wajah nya sudah merah saat ini. Ber ada pada posisi yang amat me malu kan dan di tatap be gitu intens oleh Cam bisa ber akibat fatal pada kesehatan jantung nya, Fan Ny nyaris mati karena debaran jantung nya sendiri. Namun, la tidak mau momen ini ber akhir. la ingin selama nya be gini.


Tentu saja itu mustahil, karena ia bisa mem buat Cam kehabisan napas. Tak peduli betapa nyaman dan hangat nya posisi itu, ia harus bangkit.

__ADS_1


"Ma-maaf kan aku." Kenapa suara nya men jadi serak dan gugup seperti ini? Cam akan me ngira ia sedang meng goda saat ini. Fan Ny men coba bangkit, tetapi tangan Cam me lingkari punggung nya dengan lembut dan me nahan nya tetap ber ada di atas tubuh nya, mem buat Fan Ny menahan napas. Tuhan, jaga jantung ku agar tidak meledak!


"Muffin, aku harus bangun," bisik Fan Ny malu.


"Tidak apa-apa. Biar kan seperti ini untuk sementara. Aku menyukai nya," gumam Cam sambil meng erat kan pelukan nya.


Fan Ny ingin mengelak, tetapi ketika se belah tangan Cam menekan kepala nya hingga wajah nya ter benam di lekukan leher pria itu, kata-kata nya lenyap ber sama tarikan napas gugup nya. Posisi ini sama indah nya dengan surga. Fan Ny per lahan memejam kan mata. la rela.


"Aku me rasa sangat tidak ber guna karena tidak bisa men jaga mu." Suara lirih Cam mem buat Fan Ny ter jaga. la bisa me rasa kan kegundahan Cam dari tarikan napas dan irama detak jantung nya. Semua itu meng hangat kan.


"Muffin tak perlu me rasa ber salah. Aku bisa men jaga diri. Selain itu, aku hanya wanita simpanan mu. Muffin tidak perlu sampai mengorban kan diri seperti ini." Jemari Fan Ny ter angkat hendak me nyentuh perban di kepala Cam. Namun, Cam lebih dulu menangkap pergelangan tangan nya.


"Apa maksud mu? Aku me rasa kau seperti akan meng ucap kan perpisahan."


Kening Cam me ngeryit. Cam pasti me nangkap nada sedih dalam suara nya. Sejujur nya, akhir-akhir ini Fan Ny me mang me mikir kan tentang perpisahan. "Kita tidak mungkin selama nya seperti ini."


"Bisa saja."


"Muffin tidak bisa hidup selama nya dengan seorang wanita penghibur."


"Aku tidak pantas untuk mu. Bukan kah sudah ku tegas kan sejak awal? Jika Muffin mem butuh kan kekasih, Muffin harus me milih gadis baik-baik."


"Kau gadis baik-baik yang ku ingin kan."


"Muffin...."


"wanita penghibur hanya lah atribut yang di semat kan orang lain, se suatu yang tidak pernah kau laku kan sama se kali."


Cam benar. Fan Ny bahkan tidak menginginkan nya.


Penegasan Cam mem buat tenggorokan nya seakan ter cekat. "Sejak awal aku memang sudah me milih mu. Kau yang sudah mem buat ku me mutus kan me miliki kekasih bayaran."


Apa? Bagai mana bisa itu men jadi kesalahan nya? Fan Ny men dongak kan kepala dan me mandang wajah Cam. la lupa posisi mereka yang rentan.


Ketika mereka ber tatapan, raut wajah Fan Ny mem per lihat kan tanda tanya besar. Cam meng usap pipi nya dengan lembut. Sentuhan ringan itu mem buat dada Fan Ny mengentak kencang

__ADS_1


"Awal nya ku pikir, ketika kau meng akui bahwa kau wanita penghibur aku sedang di bohongi. Aku menyimpul kan kau tidak mau ber dekatan dengan ku. Aku sangat marah dengan asumsi ku itu dan ber tekad men cari kekasih."


Cam mengira diri nya ber bohong di saat ia me ngata kan kejujuran? Fan Ny tidak per caya. Apakah karena itu Cam ter lihat sangat marah ketika mereka ber temu di kantor Madame Jasmine dulu?


"Se telah sadar bahwa aku me mang tidak ber bohong. Muffin me rasa marah karena pernah ber kenalan dengan ku?" Fan Ny me nambah kan dengan opini nya sendiri. "Jika memang begitu kenyataan nya, me ngapa Muffin tetap me milih ku?" Me mikir kan nya saja, hati Fan Ny se akan di remas-remas.


"Seperti nya kau salah paham." Fan Ny me mandang Cam kembali.


"Aku tetap me milih mu karena aku jatuh cinta pada mu." Dunia se akan ber henti ber putar tepat setelah Cam mengata kan kalimat yang bahkan lebih indah dari nyanyian surga. Fan Ny tak percaya. Sungguh kah Cam men cintai nya?


Seiring dengan detak jantung yang mengencang, Fan Ny me rasa kan buncahan rasa bahagia hingga mata nya ber kaca-kaca. "Seorang wanita penghibur tidak boleh jatuh cinta atau menyukai pria mana pun. Karena itu, kupikir sia-sia saja aku ber teman dengan mu. Aku tidak berani meng ambil risiko. Aku hanya me lindungi diri ku sen diri. Tapi, sekarang setelah aku men dengar pengakuan itu, aku tidak percaya akhir nya aku men dengar nya. Ku kira, selama nya perasaan ku akan terus ber tepuk sebelah tangan."


"Kau perempuan pertama yang mem buat ku me laku kan sesuatu di luar jarak aman. Kau mem buat ku melanggar batas yang ku bangun sendiri."


Sungguh, tidak bisa kah Cam ber henti mengatakan se suatu yang mem buat harapan nya melambung tinggi? Fan Ny gembira, tetapi juga sedih. Air mata nya tumpah, jatuh mengaliri pipi dan me netes ke pipi Cam.


Cam me natap nya dengan penuh perasaan. Seperti malam itu, jemari Cam meng hapus air mata nya secara per lahan, Begitu lembut dan hati-hati.


"Tinggal lah di sisi ku selama nya."


Pandangan Fan Ny semakin mengabur. Isak tangis Fan Ny di redam oleh ciuman Cam. Kejadian nya ber langsung begitu cepat hingga tidak di sadari Fan Ny. Sedetik sebelum nya, ia meratapi nasib yang ter ikat peraturan yang di tentukan Madame Jasmine. Detik berikut nya sebuah material lembut membungkam bibir nya, mem buat nya tertegun.


Ciuman itu mem buat Fan Ny lupa pada segala masalah dan mengapa ia menangis. Cam mencium nya agar ia me lupa kan segala peraturan dan tembok yang mem batasi mereka. Dan, Cam ber hasil menenangkan Fan Ny. Malah, saat ini Fan Ny yakin kulit di sekujur tubuh nya merona.


Ketika detik-detik men debar kan itu ber akhir, mereka saling ber tatapan dalam keheningan.


"Aku akan mem bebas kan mu. Aku ber janji, setelah itu jadi lah tunangan ku yang sesungguh nya." Itu me rupakan sebuah janji. Suka cita memenuhi setiap relung hati Fan Ny. la begitu ber harap apa yang Cam janji kan malam ini men jadi kenyataan.


"Sekarang tidur lah."


Fan Ny meng angguk. la me ngambil posisi yang lebih nyaman di sisi Cam, mem biar kan tangan Cam me lingkari nya seperti malam-malam sebelum nya. Begitu hangat, begitu nyaman. Fan Ny sungguh ber harap ia akan menikmati kenyamanan ini seumur hidup nya.


Bisa kah impian itu ter wujud?


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2