Wanita Penghibur

Wanita Penghibur
Part 55


__ADS_3

Sudah satu bulan sejak Fanny pergi.


Cam memandang keluar jendela, ke arah langit biru dengan awan berarak melintasi kantor yang berada di lantai 20. Hatinya terasa hampa. Cam mulai lupa cara tersenyum dan bahagia. Mimpi buruknya mulai merajalela, bahkan kali ini lebih parah. Fanny tidak ada di sisinya untuk dipeluk.


Kesendirian yang Cam alami saat ini bahkan jauh lebih buruk.


Seandainya malam itu Cam tahu Fanny tidak berlari ke kamarnya melainkan ke luar rumah, ia akan mengejarnya. Saat itu, Cam sedang kalut dan membiarkan Fanny pergi karena mengira Fanny akan menangis di kamarnya. Cam pun tidak mengecek keberadaan Fanny karena ia ketiduran di ruang kerja setelah semalaman sibuk merenungkan kesalahannya.


Ketika Cam memutuskan untuk meminta maaf pada Fanny seraya menjelaskan perasaannya yang sesungguhnya, Fanny tidak ditemui di tempatnya. Tidak di dapur maupun kolam renang. Fanny bahkan tidak ada lagi di rumah itu. Cam baru menyadari Fanny kabur dari rumah semalam dan tidak diketahui keberadaannya hingga saat ini. Ponselnya tidak bisa dihubungi.


Cam sungguh frustrasi dan depresi karena kehilangan jejak Fanny. Bertanya pada Madame Jasmine sama sekali tidak membantu. Wanita itu tidak tahu tentang hilangnya Fanny. Miranda, teman dekat Fanny malah terkejut. Cam khawatir karena tahu tidak ada tempat yang bisa didatangi Fanny.


Bagaimana jika terjadi sesuatu yang fatal pada gadis itu? Fanny pergi dari rumah dalam kondisi kejiwaan yang terguncang. Cam takut Fanny memilih jalan pintas. la harap itu tidak terjadi. Fanny tidak bodoh.


Gosip yang beredar di masyarakat mulai mereda. Meskipun perusahaan Cam masih belum pulih, tetapi masih bisa bertahan dan akan kembali normal. Cam sudah mengupayakan segala cara. Untung saja Darren Rodriguez yang semula ia duga tidak mau bekerja sama, akhirnya menawarkan kerja sama. Pria itu ingin mengatakan sesuatu ketika bertemu dengannya kemarin, tetapi ditahannya.


Keadaan sudah membaik. Namun, tetap saja akan jauh lebih baik seandainya Fanny masih ada di sisinya.


Cam mendesah berat untuk kesekian kalinya. Kesendirian ini lagi-lagi diciptakannya sendiri. Apakah ini juga hukuman dari Tuhan atas sikap kasarnya?


Bibi Bell sudah mencoba menghiburnya, tetapi gagal. Austin pun menemukan kegagalan. Cam kembali suram.


Ivy melihat kondisi Cam dengan sedih. la ingin masuk dan menyapa Cam yang termenung di ruang kantornya, tetapi ragu. Alhasil, ia hanya terdiam di dekat pintu. la sungguh menyesal. la tidak tahu jika gosip yang disebarkannya membuat Cam lebih sedih dari biasanya.


"Jadi bagaimana? Apa kau senang? Semua yang terjadi belakangan ini bukankah sesuai dengan yang kau inginkan." Siapa itu! Ivy menoleh ke arah seorang lelaki yang berdiri di belakangnya. Ia tidak mengenali lelaki itu, tetapi Gaston Scott mengenali Ivy Bailey sebagai gadis yang merencanakan menyingkirkan Fanny. Gaston tahu Ivy dan temannya Catherina yang memprovokasi isu miring itu. Mereka pula lah yang menyuruh laki-laki itu agar membeberkan identitas Fanny.


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti."


"Yeah, tidak akan ada pelaku yang akan mengakui kejahatannya. Tapi, aku bisa melihat kau menyesalinya saat ini. Itu memang sudah sepantasnya. Sungguh cinta yang menyedihkan. Berharap, tapi tak terbalas. Menginginkan, tetapi justru kehilangan. Itu akibat memaksakan sesuatu yang tidak bisa kau miliki."


Ivy yakin ia tidak mengenal pria ini. Namun, mengapa kata- katanya menelak hati, seakan memang ditujukan untuk dirinya, la terisak menyesali.


"Aku tidak ingin membuatnya sedih. Aku hanya ingin menyingkirkan Fanny agar Cam bisa bahagia."


"Kalau begitu, biarkan dia bersama gadis yang dicintainya."


Ternyata, pria ini memang sedang menasehatinya. Ivy terisak.


"Tapi sulit bagiku menghapus perasaan yang kumiliki untuk Cam."


"Aku yakin kau bisa. Kau gadis yang kuat."


"Aku juga tidak yakin Cam akan memaafkanku."


"Kau mengenalnya dengan baik, bukan? Kalau begitu, kau pasti yang paling tahu apakah dia akan memaafkanmu atau tidak." Gaston mengusap kepala Ivy. la kasihan melihat gadis ini. la tahu rasanya mencintai, tetapi tidak berbalas.


Gaston menyukai Fanny sejak pertama kali melihatnya. Rasa itu terpupuk hingga sekarang. Sebenarnya, alasan ia memberikan hadiah-hadiah itu karena ia memang ingin memberikannya, bukan karena harta orang tua kandung Fanny. Namun, ia sadar cintanya tidak akan terwujud karena mereka saudara angkat. Selain itu, Fanny sudah mencintai pria lain. Ia meninggalkan Ivy yang pergi sambil berlinangan air mata, la memilih masuk menemui Cam.

__ADS_1


"Sungguh tidak seru. Kau tipikal orang yang akan meratapi nasib sendiri saat terpuruk, alih-alih mencoba memperjuangkan kebahagiaanmu sendiri." Komentar sinis itu membuat Cam menoleh. la mengerjap melihat Gaston Scott berdiri di ambang pintu. "Apa yang kau lakukan di sini?"


"Aku ingin bertemu dengan pemilik ruangan ini. Tapi sepertinya dia tidak ada."


"Aku tidak memiliki waktu untuk mendengarkan bualanmu. Cepat katakan apa yang kau inginkan lalu pergi. Aku sedang tidak dalam mood untuk bergurau."


"Kau seharusnya mencari ketika dia pergi, bukan membiarkannya. Dia berpikir kau tidak mencintainya lagi. Kau membuatku kecewa. Kukira kau mencintainya."


"Apa yang sedang kau bicarakan?"


"Tepatnya siapa. Sebelumnya, aku harus memperkenalkan diri.


"Aku Gaston Scott."


"Aku tahu siapa kau." Cam tidak akan melupakan nama dan wajah pria yang selalu mengganggu Fanny.


"Benarkah? Bagus. Apakah kau tidak mempersilakan aku duduk?"


Cam bangkit. la melupakan tata krama karena rasa tidak sukanya pada pria ini. Sekalipun Gaston sangat menyebalkan, dia adalah tamu. Ketika ia melewati pria itu, tanpa diduga Gaston melayangkan tinju ke pipinya hingga nyaris jatuh. Namun, berkat gerak relfeks, ia sudah berdiri dalam beberapa detik.


"Apa maksud pukulanmu ini?" maki Cam. Sudut bibirnya panas.


"Tentu saja untuk menyadarkanmu."


"Menyadarkanku? Kupikir kau datang untuk mencari ribut. Sebenarnya apa yang kau inginkan?"


"Katakan cepat!"


Setelah nyaman dengan posisinya, Gaston kembali memandang Cam. "Pukulan itu untuk Fanny dan semua luka yang kau akibatkan."


Satu nama itu membuat jantung Cam menghentak kencang. Tadi Gaston mengatakan Fanny? Fanny Blair?


"Fanny, kau tahu di mana dia?" cecar Cam tak sabar. la sudah mencari-cari sejak sebulan yang lalu. la sangat mencemaskan keadaannya.


"Aku akan mengatakannya. Tapi, kau harus menjawab pertanyaanku."


"Lupakan tanya-jawab bodohmu itu! Kenapa aku harus melakukannya?"


"Karena kau ingin segera bertemu Fanny, bukan."


Cam menggertakkan gigi. Pria menyebalkan ini benar.


"Selain itu, jawabanmu akan menentukan keputusanku, apakah aku akan tetap membiarkan hubungan kalian berlanjut atau tidak."


"Enak saja. Kenapa semua itu harus diputuskan olehmu?" Lama-lama sikap Gaston makin membuat Cam marah.


"Secara teknis, aku adalah calon suaminya."

__ADS_1


Mata Cam membulat lebar. Dia bilang apa? Pria ini minta dibunuh rupanya. Seenaknya saja bicara. Emosi Cam sudah tidak bisa dikendalikan.


Cam menarik baju Gaston hingga pria itu berdiri. "Fanny tidak mungkin bersedia menikah denganmu jika kau tidak memaksanya. Katakan, apa yang sudah kau lakukan pada Fanny hingga dia bersedia menikah denganmu!"


Gaston tahu, seharusnya ia tidak membuat marah singa yang kelaparan. Nyawanya akan terancam. la berusaha melepaskan cengkeraman Cam, tetapi gagal. la mulai tercekik. "Aku bercanda. Aku bukan calon suaminya tapi kakak angkatnya."


"Kakak angkat? Fanny tidak memiliki satu pun sanak saudara!" Omong kosong apa ini? Setelah mengaku sebagai calon suami, sekarang kakak angkat. Cam tidak mudah dibohongi! la sedang tidak ingin bergurau.


Cengkeraman pria ini kuat sekali! Gaston mulai kepayahan.


"Tentu Fanny pernah bercerita bahwa ayah yang selama ini merawatnya ternyata bukanlah orang tua kandung, bukan? Fanny sedang mencari orang tua kandungnya. Aku adalah anak angkat mereka."


Kalau itu benar, maka kata-kata Gaston masuk akal. Cam melepaskan cengkeramannya. Ia membiarkan Gaston bernapas. Gaston lekas merapikan penampilannya begitu Cam membebaskannya. "Tapi itu tidak penting. Sekarang, Fanny sedang menderita. Dia membutuhkanmu. Melihat kau tidak mencarinya membuat hatinya patah."


Cam seakan tersengat listrik ribuan volt. la tercengang. la harap telinganya salah dengar. "Apa maksudmu Fanny menderita?" Ekspresi Gaston menunjukkan duka yang amat dalam. "Dia menderita sakit yang sangat parah."


"Kau bohong!"


"Tidak. Aku serius. Karena itu aku datang. Aku ingin bertanya padamu. Jika kau ingin bertemu dengannya, jawab pertanyaanku dengan jujur."


Cam merasakan ketegangan seakan ia bersiap menerima vonis hukuman mati dari hakim. Apa gerangan yang akan Gaston tanyakan?


"Apa kau mencintai Fanny?" Lidah Cam kelu. Tentu saja ia mencintai Fanny!


"Ternyata, kau tidak bisa menjawabnya. Apa karena kau masih menyimpan nama wanita lain di hatimu?"


Wanita lain mana? Apa yang Gaston maksud adalah Fiona?


"Kenapa kau berdiam diri, sementara Fanny menderita? Kau tidak berniat meraihnya kembali? Apa kau memutuskan untuk mencampakkannya?"


"Mencampakkan?" Cam menggertakkan gigi. "Sampai kapan pun aku tidak akan mencampakkan Fanny! Aku masih mencintai Fanny. Fiona sudah kulupakan! Aku sudah berupaya mencari Fanny, tetapi aku sadar, semua orang yang kucintai akan pergi meninggalkanku. Apa yang bisa kulakukan? Jika Fanny memang tidak ingin kembali padaku, aku tidak bisa mencegahnya."


"Lalu, kau akan membiarkan keadaannya memburuk tanpa berbuat apa pun? Tak kusangka kau lebih pengecut dari yang kukira."


"Pada akhirnya aku tetap menyakiti Fanny."


"Kau hanya takut kenyataan yang terjadi tidak sesuai dengan keinginanmu. Kau adalah seorang penakut yang tidak ingin terluka. Jika kau terus bertahan dengan sifatmu itu, menurutku kau lebih baik mati."


Cam tersentak. Begitukah dirinya? la tidak hanya pandai melarikan diri tetapi juga takut menerima kenyataan. Sungguh memalukan! Cam selalu merasa dirinya sosok yang kuat. Ternyata, ia tak lebih dari seorang anak kecil yang merajuk. Gaston benar, mati jauh lebih baik daripada hidup seperti ini.


"Karena mencintainya, maka kau lebih berpotensi untuk mekukainya, tetapi perasaan itu tidak akan padam hanya karena satu kesalahpahaman."


Rasanya aneh sekali diberi nasehat oleh orang semacam Gaston. Cam kesal, tetapi juga berterima kasih. Gaston telah menyadarkannya.


"Aku ingin bertemu Fanny."


"Aku sudah menunggu kau mengucapkannya sejak tadi."

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2