
Austin sudah memerhatikan Cam sejak tadi. Teman nya itu tampak lebih tenang. Biasa nya, Cam selalu terlihat lelah dan serius. Cam tidak pernah tampak menikmati apa pun dan hanya memusat kan tenaga serta pikiran nya pada pekerjaan. Namun, hari ini ia menemukan ekspresi lain di wajah Cam. Damai dan puas. Seakan Cam menemukan benda yang selama ini di cari nya.
"Berhenti memandangi ku. Kau membuat ku merinding," ujar Cam datar. Tadi nya ia ingin berdiam saat Austin terus memandangi nya. Namun, lama-kelamaan ia tidak tahan. Mereka sedang berada di tengah di skusi sebuah pertemuan penting. Bisa bisa nya Austin mengalih kan perhatian nya pada hal lain. Entah apa yang terjadi jika orang lain menangkap tingkah nya itu, yang tidak biasa.
"Maaf. Aku hanya penasaran." Austin terkekeh tanpa merasa berdosa. la terlalu sibuk mengamati Cam sampai lupa jika sedang di tengah rapat. la dan tim nya sedang membahas proyek kerja sama dengan perusahaan Cam.
"Kau terlihat berbeda. Apa ini karena gadis itu?"
Cam mendelik tajam, memberi isyarat pada pria itu agar menutup mulut. Respon Cam justru membuat Austin semakin terhibur.
"Sepertinya benar."
"Tutup mulut mu. Kau boleh melanjutkan ocehan mu setelah rapat," desis Cam mengancam. Austin mengangkat bahu lalu berpura-pura larut pada diskusi, padahal Cam tahu Austin paling malas mengikuti rapat.
Sebenar nya, Cam bisa menebak alasan Austin memaksakan diri ikut rapat ini. Austin hanya penasaran dan ingin tahu apa saja yang terjadi pasca Cam menyewa jasa seorang wanita penghibur. Dan, tebakan Cam benar. Tepat setelah rapat usai, Austin membuka topik itu tanpa malu.
"Jadi, cerita kan pada ku bagaimana rasa nya memiliki wanita simpanan."
"Untuk masalah mencampuri urusan orang lain, kau nomor satu," cibir Cam. Mereka kini duduk berhadapan di ruang kantor Cam.
"Sudah lah jangan malu. Kau bisa menceritakan nya pada ku detail menyenang kan yang kalian lewati. Dia pasti hebat karena sanggup mengubah mu yang dingin menjadi lebih manusiawi. Siapa nama nya?" pancing Austin.
__ADS_1
Cam menggertak kan gigi. Austin sengaja melakukan itu untuk menggoda nya. "Fanny Blair."
"Benar, Fanny Blair! Dia luar biasa. Boleh aku menemui nya?"
"Tidak." Ekspresi Cam benar-benar kaku. Suara nya tenang, tetapi tajam dan mengintimidasi. Austin tahu itu adalah peringatan.
"Oke. Aku tahu dia milik mu. Tidak perlu marah." Austin angkat tangan. Cam mendengkus. la tidak marah. la tahu Austin tidak akan memaksa. Namun, membayangkan teman nya ini memgobrol dengan Fanny sungguh menjengkel kan. la ingin menyimpan Fanny untuk nya sendiri. la tahu ini konyol. la tidak bermaksud menyirat kan kecemburuan atau sikap posesif.
"Bagai mana pun, aku ikut senang untuk mu. Kau akhir nya menemukan kembali kebahagiaan mu. Itu yang lebih penting."
Apa ia sudah terlalu lama menenggelam kan diri dalam kesedihan? Cam membatin. Ia hanya jarang membiar kan diri bersenang senang karena merasa tidak terlalu penting. Mendengar kalimat yang sama keluar dari mulut Bibi Bell mau pun Austin, seperti nya ia memang jarang sekali tertawa.
"Omong-omong, aku membutuhkan bantuan mu lagi." Cam teringat akan perkataan nya tentang Fanny yang menjadi sekretaris Austin.
"Apa ini berhubungan dengan wanita mu?"
"Panggil dia dengan sebutan yang lebih sopan. Fanny layak mendapatkan nya," peringat Cam dengan mata memicing. "Oke, jadi berkaitan dengan Nona Blair?" Austin menahan senyum. Lucu rasa nya melihat Cam protektif akan sesuatu.
"Jika aunty ku bertanya, aku ingin kau memberitahu nya bahwa Fanny bekerja sebagai sekretaris di perusahaan mu. Aku mengatakan pada aunty ku bahwa kau yang mempertemukan kami dan Fanny karyawan di perusahaan mu!"
"Kenapa kau menyeret ku ke dalam masalah mu?" Austin ngeri. "Kau tahu betapa merepotkan nya aunty mu itu. Bagaimana jika dia bertanya tentang Nona Blair? Lagi pula mengapa kau melibat kan aunty mu dalam hubungan mu itu?"
__ADS_1
"Kau pikir aku sengaja memberitahu aunty ku? Dia datang ke rumah pagi ini tanpa ku duga. Aku terpaksa mengarang alasan karena dia terus mendesak. Tapi aku memang tidak berniat menyembunyi kan Fanny dari aunty ku."
Austin mengeluar kan suara tercekik. "Bibi mu akan mencekik Nona Blair jika dia tahu siapa gadis itu!"
"Aku tidak memberitahu aunty ku siapa Fanny sebenar nya. Aku hanya memberitahu apa yang perlu di ketahui nya."
"Jadi, kau memperkenal kan Fanny sebagai pacar mu?"
Cam menggeleng. "Tunangan ku."
"Apa?" Austin sangat terkejut. "Dan aunty mu percaya?"
"Begitulah."
Austin tak habis pikir. la menggelengkan kepala. la mengerti saat Cam memutus kan untuk mencari kekasih bayaran. Namun, mengakui Fanny sebagai tunangan pada bibi nya, bukankah itu terlalu berisiko?
"Kau tidak takut bibi mu akan menyuruh kalian menikah?" Cam juga memikirkan nya sejak meninggal kan rumah pagi ini. la mengatakan Fanny tunangan nya tanpa pikir panjang. la tidak memikir kan konsekuensi nya. Bibi nya pasti akan lebih gencar merecoki nya agar cepat menikah. Namun aneh nya, Cam tidak terlalu memusingkan nya.
Sungguh tidak masuk akal! Cam tidak pernah membayang kan pernikahan lagi setelah pernikahan pertama nya berakhir tragis. Hubungan nya dengan Fanny tidak akan berakhir dengan pernikahan.
Bersambung ....
__ADS_1